
Jangan mencintai karena hawa nafsu seperti karena fisik atau harta, sebab nantinya akan dihinakan Allah oleh hal tersebut. nantinya akan tampak kenyataan yang sesungguhnya dan menimbulkan penyesalan karena sejak awal tidak dimulai dengan niat mencintai karena Allah. keutamaan cinta dalam islam ialah sebagai jalan untuk beribadah kepadaNya.
Salsa juga tidak mau menjadi munafik, dulu sebelum menikah dengan Dirga, tak luput ia memikirkan laki-laki itu. Hingga dirinya sendiri pun menjadi frustasi. Mencintai seseorang secara diam-diam juga tidak mudah bagi Salsa. Namun, dengan keyakinannya Salsa mampu menahan perasaannya sendiri untuk Dirga. Hingga Allah telah mempertemukan mereka di sebuah kemenangan, yaitu pelaminan.
Bahagia? Sangat bahagia Salsa karena Allah mempertemukannya dengan seseorang yang di cintainya selama diam-diam. Semakin ia memikirkan Dirga, semakin pula ia mendekatkan diri dengan Sang Maha Pencipta. Karena bagi Salsa, cinta karena Allah lah yang akan membuatnya sebahagia ini. Pacaran setelah menikah yang banyak di inginkan perempuan lainnya juga. Kini keinginan Salsa sudah terpenuhi. Dan ia sangat bersyukur karena memiliki Dirga. Lelaki yang dia inginkan selama tujuh tahun. Dan sekarang lelaki itu tinggal dengan atap yang sama dengannya.
"Kamu udah tes kehamilan, belum?" Dirga bertanya setelah menyeruput kopinya. Sekarang dia dan Salsa sedang berada di taman buatan di atas rumah Salsa. Cuaca sore hari ini tampak mendukung karena udara sejuk. Dirga yang sudah pulang dari dinasnya serta Salsa juga menikmati sore di balkon lantai atas. Sekarang, mereka berdua sedang menikmati matahari yang mulai tenggelam. Karena taman buatan itu memang sengaja di buat menghadap ke arah matahari terbenam. Sebenarnya, taman buatan ini tidak pernah di pakai sama sekali karena sebuah insiden yang telah menimbulkan sebuah luka. Entah luka seperti apa dan di alami oleh siapa sehingga membuat taman ini di kunci rapat oleh ibunda Salsa. Namun, karena Dirga yang tegas, ia berusaha untuk membuka pintu taman tersebut dengan Salsa yang menghalang-halanginya. Memang Salsa belum menceritakan apa-apa pada Dirga tentang kehidupan di masa lalunya. Dirga juga tidak memaksa Salsa untuk menceritakan kehidupannya masa lalunya. Karena menurut Dirga, jika masa lalu adalah luka bagi Salsa, ia tidak akan bertanya sampai istrinya lah yang menceritakan kehidupannya di masa lalu.
Salsa menggeleng untuk jawaban Dirga.
"Kok belum, periksa? Nanti kalo ada apa-apa, gimana?" tanya Dirga sembari menarik bahu Salsa agar perempuan itu mendekat kearah Dirga. Salsa yang semakin hari sudah biasa dengan Dirga, ia hanya diam saja dan menurut.
"Salsa takut,"
"Lho kok malah, takut?"
"Lha gimana, lagi?"
Dirga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "lha gimana piye, to?"
Salsa menggeleng lagi yang membuat Dirga semakin kebingungan harus berbuat apa karena jawaban Salsa yang tidak masuk akal sama sekali. Ingin sekali Dirga mencari pembenaran, namun Salsa akan mengamuk pada dirinya. Karena Dirga sangat paham dengan wanita. Tidak mau mengalah jika berdebat, apalagi masalah seperti ini. Bisa-bisa di makan Dirga.
"Permisi," tiba-tiba terdengar suara lembut dari pintu masuk ke dalam. Suara lembut itu mengalihkan perhatian Dirga dan Salsa yang sedang berdekatan. Sehingga Salsa berinisiatif untuk menjauh dari Dirga. Namun dengan kekuatan tangan Dirga, laki-laki itu menahan Salsa untuk menjauh dari dirinya. Alhasil, Salsa terus bersender di dada bidang Dirga. Dirga mengerti jika Salsa sekarang sudah gelisah.
"Maaf ganggu. Saya cuma mau ngantar ini aja buat kalian. Karena saya tadi bikin kue," Ara berkata sembari menaruh beberapa potongan kue yang ia letakkan di piring yang cantik. Perempuan itu meletakkan di samping gelas kopi milik Dirga.
"Eh iya makasih ya Mbak," kata Salsa sembari mengalihkan tangan Dirga yang besar dari bahunya. Cukup susah karena Dirga malah mengeratkan pelukannya.
"Makasih ya Ra," kata Dirga lagi yang membuat Ara menoleh pada Dirga. Mata mereka saling bertemu. Dan setelah itu, Ara hanya mengangguk sembari menundukkan kepalanya. Perempuan bergegas pergi.
Salsa langsung menjauh dari Dirga sembari melotot tajam.
"Kok kamu jadi melototin saya, lagi? Emangnya saya ini orangnya sangar, ya?" Dirga bertanya dengan santai.
__ADS_1
Alih-alih menjawab, perempuan itu malah mendengus.
"Inget, hidup itu jangan suka mendengus. Sama aja kayak mengeluhkan?" kata Dirga lagi lalu menyeruput kopinya lagi. Entah kenapa Dirga terlihat begitu santai di mata Salsa.
"kalo saya lihat dari pandangan saya, kamu ini kayaknya hamil deh, Sal. Soalnya bawaannya beda banget. Biasanya Salsa yang pemalu dan pendiam, sekarang jadi agresif dan suka ngambek nggak jelas," kata Dirga yang membuat Salsa malah tertawa lalu mencubit pinggang Dirga terus-terusan. Sehingga membuat laki-laki itu malah tidak terlihat kesakitan sama sekali, namun malah terlihat geli karena cubitan Salsa.
"Salsa!" Pekiknya karena Salsa terus menyerangnya tanpa henti.
"Wah saya baru tahu kalo istri saya ternyata seganas itu," kata Dirga di sela-sela tawanya. Dirga bangkit untuk menghindari serangan Salsa yang terus-menerus tanpa henti.
Salsa juga tidak patah semangat, ia juga kembali mengejar Dirga yang menjauh darinya. Jangan di tanyakan lagi, pipi perempuan itu sudah mirip dengan kepiting rebus karena perkataan Dirga yang membuatnya semakin ingin membunuh Dirga saat ini juga. Hei! Sejak kapan Salsa menjadi istri yang, agresif?
Sebenarnya, Salsa menahan malunya karena Dirga yang terus-menerus mengejeknya.
"Ya Allah, Salsa. Sebentar saya napas dulu. Abis itu saya kasih jatah kalo kamu pengen," kata Dirga yang membuat Salsa semakin seperti kepiting rebus pipinya. Dan tanpa ragu-ragu lagi, Salsa langsung melempar Dirga dengan sendalnya sendiri. Namun, tentu saja Dirga cekatan untuk menghindarinya.
"Loh kenapa jadi makin marah sama, saya? Saya mau kasih jatah kamu uang bulanan, Sal."
"Makanya, banyakin sholat. Inget sama Allah. Ngeres terus pikirannya," katanya sembari mengejek Salsa. Sejak kapan Dirga jadi orang yang suka mengejek seperti, ini?
"Kakak!" tukas Salsa dengan kesal. Ia sudah memegang sendalnya yang sebelah tadi, siap untuk melempar suaminya yang menjengkelkan. Wajah perempuan itu sudah merah padam karena Dirga yang terus saja menggodanya.
"Sal," panggilnya yang tidak di abaikan oleh Salsa.
"Salsaaa," panggilnya lagi agak panjang. Namun, ia sudah mengerti jika Salsa sudah memasang bendera perangnya.
"Kamu dosa lho karena nge-diemin saya kayak, gini," katanya sembari mendekat kearah Salsa yang cemberut.
"Cantiknya jadi hilang deh. Tapi, nggak papa deh kamu nggak cantik. Karena saya mencintai kamu karena Allah. Nggak papa juga nggak glowing, dan nggak papa nggak good looking! Yang penting saya cintanya karena Allah. Nggak karena apa-apa," kata Dirga.
"Jadi, Salsa jelek gitu, maksudnya?" tanya Salsa dengan sewot. Perempuan itu sudah memelototkan matanya berulang kali karena Dirga yang merusak momen romantisnya tadi.
"Bukan gitu maksud saya," sekarang Dirga jadi bingung harus menjawab apa. Sepertinya, laki-laki memang adalah tempatnya salah dan perempuan adalah tempatnya kebenaran. Dirga mengusap wajahnya kasar. Berbicara dengan wanita memang serba salah bagi laki-laki.
__ADS_1
"Ya udah saya salah deh," Dirga menyerah juga akhirnya, "terserah kamu mau apakan saya. Mau di cekik lehernya juga nggak papa. Saya berserah diri padamu," lanjutnya yang membuat Salsa meledakkan tawanya dan langsung menyerang Dirga lagi. Perempuan itu kembali menggelitiki Dirga.
"Ya nggak gitu juga Maemunah," teriak Dirga di sela-sela tawanya dan harus menahan geli di pinggangnya. Salsa merdeka karena Dirga menyerah.
"Katanya mau nyerah aja,"
"Ya nggak gitu juga lah. Geli sayang," kata Dirga yang di akhir kalimatnya membuat detak jantung Salsa berdetak dengan kencang. Panggilan itu membuat dirinya merasa nyaman sekaligus senang. Namun, karena dia gengsi, ia jadi terus menggelitik Dirga.
Dirga memeluk tubuh mungil Salsa agar perempuan itu berhenti menggelitikinya. Namun, tidak berhasil karena Salsa maju pantang menyerah.
Aduh mas! Mbaknya lagi grogi itu! Haha!
Dirga kembali berlari untuk menghindari Salsa. Mereka jadi kucing dan anjing yang sedang berlarian.
Tiba-tiba Salsa memegangi perutnya. Tampaknya perempuan itu sangat kesakitan. Terlihat dari raut wajahnya yang memerah menahan rasa sakit. Salsa mengaduh. Perlahan Salsa terjatuh ke bawah sembari terus memegangi perutnya. Hal itu membuat Dirga panik dan langsung berlari menghampiri Salsa yang kesakitan. Kini, mereka yang tadinya tertawa bersama sekarang situasinya berubah menjadi raut wajah panik.
"Kamu kenapa, Sal?" tanya Dirga dengan panik sembari mengangkat Salsa yang kesakitan dengan memegangi perutnya.
"Sakittt," katanya dengan menahan sakit. Salsa mengeratkan pelukannya di leher Dirga. Dirga yang melihat hal itu tidak tega sama sekali.
"Sakittt," rengeknya lagi yang membuat Dirga semakin berjalan cepat masuk ke dalam.
"Kamu kenapa, Sal?"
***
Maaf baru update, karena dua hari yang lalu aku masih sakit. Hehe.
Oh iya kalo mau ikutan Grup Chat cerita ini bisa follow Instagram akuu yaaa @meigasellaap
Semangat puasanya.
Kira-kira Salsa kenapa ya?
__ADS_1