Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
pura-pura


__ADS_3

Mata elang yang biasanya menatap tajam mata sipit milik Salsa, kini terbuka lebar setelah pria itu mengalami penurunan detak jantung. Setelah dokter cantik yang telah menyelamatkan dirinya atas izin Allah swt. Dirga membuka mata elangnya. Ia melihat ruangan itu serba putih khas sekali rumah sakit. Ruangan itu sepi. Hanya ada dirinya. Setelah ia mendengar pintu ruangannya dibuka oleh seseorang, pria itu langsung menutup matanya.


Dirga mengintip di balik mata elangnya yang tertidur dengan pura-pura. Ternyata seorang perawat yang memasuki ruangannya dengan membawakan secangkir kopi--astagfirullah!--maksudnya segelas air putih untuk Dirga. Ya kali orang habis koma di kasih segelas kopi!


Dirga membuka matanya, karena yang memasuki ruangannya bukan Salsa.


"Sus," panggil Dirga dengan suara seraknya. Suara pertama dari dirinya setelah mengalami keadaan kritis. Suara itu parau.


"Anda sudah, sadar?" Kata sang suster dengan menaruh segelas air putih di meja sebelah ranjang Dirga dirawat. Suster itu tersenyum ramah pada Dirga.


"Alhamdulillah, sudah membaik keadaannya. Pasti dokter Salsa seneng banget," kata suster itu dengan senang. Suster itu juga salah satu orang yang mengetahui hubungan Salsa dan Dirga.


"Sus, jangan bilang dulu ya kalau saya sudah sadar," katanya pada suster itu untuk berkompromi.


"Loh kenapa?" Suster itu kaget mendengar pernyataan Dirga. Sedikit kecewa ketika Dirga mengatakan hal itu.


"Udah saya pengen bikin kejutan aja," kata Dirga yang membuat raut wajah suster itu yang tadinya sedih kini menjadi senang. Ada gejolak semangat dari suster itu untuk membantu kejutan Dirga untuk Salsa.


"Saya bisa bantu, apa?"


"Bantu tutup mulut aja," kata Dirga. Entah kenapa Dirga kini menjadi menggemaskan. Hal itu juga membuat suster tersebut menjadi sedikit baper karena tingkah laku Dirga yang manis untuk Salsa. Anggap saja ingin  mendapat cowok seperti Dirga. Ya siapa sih yang tidak ingin mendapatkan jodoh semanis Angkasa Dirgantara. Semua perempuan ingin mendapatkan jodoh yang baik dan bisa menuntun dirinya ke jalan Allah. Siapa yang tidak ingin? Author-nya saja ingin. Haha!


Semua perempuan menginginkan pangeran yang datang pada dirinya. Menjemput sang putri dengan cara yang manis hingga tak terduga. Semua wanita juga memimpikan hal itu! Jodoh, maut dan rezeki semua sudah di atur oleh Allah swt. Tinggal kitanya saja menjalani. Selagi berusaha dan berdoa, Allah pasti akan memberikan yang terbaik. Walaupun terkadang jalan yang di berikan Allah kepada kita tidak seenak yang kita kira. Berarti kita sedang di uji oleh Allah swt. Dan kalian harus percaya, dibalik ujian itu pasti ada hikmah yang indah untuk kita. Kunci utama hidup memang harus yakin kepada Allah dan diri kita sendiri. Coba bedakan saja, seseorang yang di hatinya ada Allah dan seseorang yang hatinya tidak ada Allah. Maka seseorang yang tidak ada Allah di hatinya, hatinya akan terasa hampa dan tidak mempunyai tujuan hidup. Terkadang terlalu memikirkan dunia, kita jadi melupakan suatu yang penting. Suatu hal yang membuat kita berada di dunia ini. Bukan! Lebih tepatnya, karena siapa kita bisa berada di dunia, ini?


"Oke. Pasti saya bantu. Saya cek kesehatannya dulu ya," kata suster itu dengan antusias. Suster yang bernama suster Sofia itu memang suster terbaik yang bekerja di rumah sakit militer ini. Selain bakatnya, ia juga ramah pada siapapun.


Setelah memeriksa Dirga, suster itu keluar dan ruangannya kembali sepi. Dirga terkikik sendiri karena membayangkan bagaimana ekspresi istrinya nanti ketika melihat dirinya sudah membuka matanya. Dan Dirga juga teringat, dalam mimpi tidur komanya, seperti ada seseorang perempuan yang menangis terus menerus. Hal itu seperti nyata. Entah itu mimpi bermaksud apa.


Dan Dirga juga bersyukur kepada Allah swt. karena dengan izin-Nya, ia masih diberi kepercayaan untuk meneruskan hidupnya di dunia.


Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Dirga spontan menutup mata. Namun, ia masih bisa melihat sekilas sebelum menutup mata. Ia melihat orang itu yang masuk kedalam ruangannya. Perempuan cantik dengan jas putih kebanggaannya.


Ia rindu!


Dirga menutup matanya pura-pura.


Diem ya kalian, jangan bilang Salsa jika Dirga sudah bangun.


Dirga juga mendengarkan suara sepertinya Salsa menaruh sesuatu di meja samping ranjangnya. Apa tuh? Dirga hanya bertanya dalam hatinya. Tentu saja pria itu ingin tahu sekali. Ia juga merasakan jika Salsa duduk di kursi yang ada di dekat ranjangnya. Dirga menahan tawanya agar tidak meledak saat ini juga. Karena, Dirga ingin sekali cepat-cepat memeluk Salsa saat ini. Karena pria itu begitu merindukan perempuannya. Namun, ia harus menahannya. Ia ingin melihat bagaimana ekspresi perempuan itu ketika dirinya saat ini terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

__ADS_1


Perempuannya?


"Bangun dong kak," kalimat itu muncul dari mulut Salsa. Dirga hanya diam sembari menahan tawanya. Kenapa di saat seperti ini, Salsa terlihat sangat menggemaskan di mata Dirga.


Ia bisa menilai jika kalimat itu terdengar sangat tulus dari mulutnya Salsa.


Dirga merasakan kenyamanan yang belum pernah ia temukan ketika Salsa memegang tangan kelasnya. Tangan lembut milik Salsa telah mengelus dengan lembut tangan Dirga. Mengalirkan kenyamanan yang pernah Dirga rasakan. Perempuannya tulus padanya. Inilah alasan mengapa Dirga pura-pura belum sadarkan diri.


Perempuannya sudah mulai sayang pada Dirga. Yang menjadi pertanyaan Dirga saat ini adalah, sejak kapan istrinya mencintai, dirinya? Tentu saja Dirga sangat penasaran. Pasalnya, ketika awal menikah, Salsa bersikap cuek padanya. Wajar saja dan Dirga memaklumi hal itu. Bagi Dirga, dari awal pernikahan juga perempuan itu tidak mencintainya. Tapi ia yakin seiring jalannya waktu, Salsa membuka hati untuknya.


Tentu saja Dirga belum mengetahui hati Salsa yang sebenarnya jika Salsa sudah mencintainya dalam diam.


"Kak Angkasa jahat! Katanya mau pulang pagi-pagi setelah lembur kerja. Ternyata kakak bohong. Kakak malah pergi dan tiba-tiba Salsa dapat kabar kalau kakak udah sekarat. Kakak jahat!" Kata Salsa sembari melihat mata Dirga yang tertutup rapat. Salsa tidak tahu, kapan mata elang milik Dirga itu akan membuka matanya. Salsa setiap hari mengecek kondisi Dirga. Dan tentu saja Salsa mengerti jika Dirga sudah bangun dari masa kritisnya. Namun, dirinya tidak tahu mengapa Dirga tidak segera membuka matanya.


Sudah dua hari semenjak melalui masa kritis, Dirga hingga sekarang belum membuka matanya.


"Katanya nggak mau ninggalin Salsa sendirian. Tapi kakak bohong!" Kata Salsa lagi dengan sedih. Perempuan itu ingin menitikkan air matanya lagi setelah mengingat betapa dirinya terluka ketika melihat detak jantung Dirga hilang. Itu hal yang paling tidak disukai oleh Salsa.


Salsa masih menggenggam tangan Dirga dengan kuat seakan-akan tidak mau lagi kehilangan lelaki itu. Sudah cukup ia kehilangan lelaki yang merawatnya dari bayi dan Salsa tidak mau lagi kehilangan lelaki seperti suaminya ini.


"Padahal kemarin udah Salsa masakin nasi goreng spesial, tapi malah dapat kabar buruk," Salsa berkata lagi dengan haru. Entah kenapa juga hormon Salsa akhir-akhir ini menjadi sensitif. Ia lebih sering menangis. Salsa juga tidak tahu ada apa dengan dirinya. Namun, Salsa banyak makan. Setiap ada pikiran yang memberatkan otaknya, Salsa selalu makan banyak.


Dirga spontan saja.


Jantung Salsa langsung berdetak dengan kencang karena tiba-tiba Dirga yang bangun. Apakah Dirga mendengar perkataannya, barusan? Salsa malu ya Allah! Salsa berharap jika Dirga tidak mendengar apa-apa.


Mata sipit Salsa juga melebar walaupun masih terlihat sipit. Dirga tersenyum manis menatapnya. Bukan senyuman lebih tepatnya adalah sebuah cengiran kuda.


"Maaf ya," kata Dirga.


Salsa gugup setengah mati, "l-loh ma-maaf buat, apa?" Kata Salsa dengan gugup.


"Maaf karena membohongi kamu," kata Dirga sembari tersenyum tulus. Pria itu berusaha bangkit dari baringnya, namun rasa nyeri di bagian perutnya tepat bekas tembakan masih terasa sakit. Salsa juga spontan melarangnya untuk bangun dan Dirga menurut.


"Salsa nggak ngerti maksud kakak, apa?"


"Dirga berdehem, "nggak ngerti atau pura-pura tidak, ingat?" Sindir Dirga sembari menahan tawannya. Menahan tawa saja terasa nyeri di bagian perutnya.


Salsa semakin gelagapan. Ia langsung berasumsi jika Dirga pasti mendengar curhatannya tadi. Duh, bagaimana ini?

__ADS_1


Jangan di tanya lagi seperti apa muka Salsa sekarang menahan malu. Pasti sudah bak kepiting rebus, merah merona.


"Ada yang malu-malu meong nih," kata Dirga lagi yang sempat saja menggoda Salsa. Salsa pun semakin gelagapan menahan malu.


"Apaan sih kak? Gaje banget!" Kata Salsa sewot. Kenapa pria itu menjadi menyebalkan sekali setelah bangun dari masa kritisnya.


Dirga menowel pipi Salsa hingga membuat Salsa bertambah malu. Sedangkan Dirga sudah tertawa sembari menahan rasa nyeri di perutnya karena tertawa.


"Kakak Salsa maluuuuu, jangan gitu," akhirnya Salsa menyerah dan menunduk berkata seperti itu. Ia sudah membuang jauh rasa gengsinya pada suaminya sendiri. Ini sudah waktunya Salsa membuka hatinya dan membuang rasa bersalahnya pada Ara karena memiliki Dirga. Ia akan menjadi istri yang benar-benar melayani Dirga sebagai suaminya.  Ia sudah tidak memedulikan rasa bersalahnya lagi. Karena menjadi istri yang baik sudah menjadi tanggung jawabnya.


"ihhh nggak mau, nggak suka gelay," kata Dirga sembari terkikik geli mendengar kalimatnya sendiri. Mungkin bangun dari masa kritis bisa membuat otak seorang Dirga menjadi terbalik sehingga membuat Dirga jadi gila begini.


Salsa tidak bisa menahan tawanya. Akhirnya ia tertawa juga karena Dirga. Ingin sekali Salsa langsung memeluk Dirga. Namun, ia tidak boleh egois. Karena bekas luka Dirga masih belum mengering.


Pria itu melucu setelah bangun dari masa kritisnya. Emang Dirga tidak selemah yang di bayangkan. Pria itu masih sempat-sempatnya menirukan kata-kata gelay itu. Haha!


"Udah ah kak,"


"Kenapa udah masih enak nih," kata Dirga yang tidak nyambung.


Benarkan jika otak Dirga sekarang jadi terbalik begini.


"Makasih," kata Salsa. Raut wajahnya berubah menjadi serius menatap Dirga.


Dirga juga mengerti arti tatapan Salsa, "buat apa?"


"Udah balik lagi kesini," kata Salsa dengan kalem.


"Loh emangnya saya pergi kemana? Jalan-jalan ke tol Cipularang?" Kata Dirga yang langsung merusak suasana romantis mereka. Bahkan merusak mood Salsa. Perempuan itu langsung menatap tajam Dirga. Dengan segenap jiwa dan raga Salsa, perempuan itu bangkit dari duduknya dan tanpa mengatakan sepatah katapun, Salsa keluar dari ruangan Dirga detik itu juga.


Dirga berusaha meneriakki perempuan itu namun, Salsa tetap keukeuh dan pergi meninggalkannya. Dirga menyesal sekali. Bahkan sangat SANGAT menyesa.


"Potek hati Abang, dek," kata Dirga dengan melas.


To be continued...


Hai aku kembali dengan sejuta cinta untuk kalian.


Ayo dong semangatin lagi elah. 😍

__ADS_1


__ADS_2