
Setelah sholat subuh, Salsa mencepol rambutnya yang panjang. Karena Dirga juga tidak ada dirumah, ia tidak memakai hijabnya. Karena Salsa masih sedikit malu melepas hijab di hadapan Dirga. Aneh ya Salsa!
Perempuan itu sangat antusias, karena ia ingin memasakkan Dirga untuk sarapan nanti. Setelah lembur, Dirga pasti sangat lapar. Walaupun Salsa tidak pandai memasak, setidaknya ia berbakti kepada suaminya sendiri. Bila perlu, Salsa akan mengikuti kelas memasak agar dirinya bisa memasak. Karena, sebagai seorang istri, Salsa tidak boleh bergantung pada orang lain, misalnya pada pembantu. Salsa harus bisa melayani suaminya sendiri.
Salsa melihat isi kulkasnya yang banyak sayuran karena belum lama ini, Salsa berbelanja bulanan. Sebenarnya, sayur bukan termasuk kebutuhan bulanan. Termasuk mingguan menurutnya.
Salsa memikirkan, menu apa yang cocok untuk sarapan Dirga dan dirinya.
Nasi goreng muncul di pikiran Salsa.
Namun, Salsa menggeleng.
Bubur ayam juga muncul di idenya.
Ia menggeleng lagi.
Roti tawar + susu?
Itu bukan masakan.
Salsa melihati sayuran yang ada di dalam kulkas. Ia mengamati sayuran tersebut dengan telaten. Maklum, Salsa tidak hobi masak.
Dan dari sekian banyak otaknya bekerja keras, pilihannya jatuh pada nasi goreng. Haha! Miris banget sih Sal!
"Kak Angkasa suka aja kan kalo nasi goreng?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Ah biasanya tentara makan apa aja kan?" Gumam Salsa lagi. Langsung mengambil telur yang ada di dalam kulkas. Tapi, kemudian berhenti lagi, "kalo kak Angkasa nggak suka masakan ku gimana? Yah nyesek dong," katanya patah semangat lagi.
Jika kamu mengakui kelemahan mu sendiri, maka kamu sama saja mulai meragukan Allah swt.
Cepat-cepat Salsa mengambil tiga telur dalam kulkasnya setelah mendapat bisikan dari dalam sisi baiknya. Ia harus yakin. Begitu prinsipnya sekarang.
Percaya diri jika masakannya akan membuat Dirga terpesona dengan rasa masakan Salsa. Yah, walaupun itu tidak mungkin menurut Salsa. Namun, ia harus percaya diri saja. Haha!
Salsa mulai memasukan sedikit minyak goreng dalam penggorengan. Salsa akan memulainya dengan di bantui tutorial memasak nasi goreng lewat youtube. Jaman sekarang mah enak saja, karena dunia serba online. Namun, tetap berhati-hati dalam menjalani hidup.
Sedikit-dikit Salsa melirik tutorial tersebut.
Sembari bersholawat kecil, Salsa menikmati kegiatan memasaknya. Ia merasa senang karena ini nasi goreng spesial untuk Dirga.
Cukup lama Salsa membuat nasi goreng itu hingga akhirnya jadi juga. Ia melirik keluar jendela. Kegelapan akan di gantikan oleh sinar matahari. Namun, sinar mataharinya masih malu untuk memunculkan sinarnya.
"Selesai," kata Salsa sembari tersenyum. Setelah menuangkan nasi gorengnya di dua piring, Salsa tersenyum lagi.
"Waww, nasi gorengnya enak nih kayaknya," kata Salsa sembari tersenyum menatap masakannya sendiri. Dengan telur ceplok di atasnya membuat kesan cantik.
Salsa berniat untuk memfoto nasi goreng tersebut.
Ia mencari sisi terbaik untuk memfoto nasi goreng tersebut.
Cekrek.
__ADS_1
Salsa tersenyum menatap hasil potret dari ponselnya itu. Lalu ia mengunggahnya di snapgram nya.
...
...
Dengan caption, nasi goreng spesial untuk misua, hihi ;)
Salsa mengunggah di snapgram. Ia tersenyum geli melihat captionnya itu.
Salsa melirik jam. Ini sudah hampir pagi, tapi kenapa Dirga juga belum pulang. Padahal semalam Dirga berkata jika pria itu akan kembali subuh. Namun, detik ini juga belum menampakkan batang hidungnya.
"Kak Angkasa kok lama, ya?" Katanya sendiri.
"Aku mandi aja dulu deh," kata Salsa sembari menaruh dua porsi nasi goreng itu di dalam lemari penyimpanan makanannya.
Salsa segera menaiki lantai dua untuk mandi.
Salsa melirik jam lagi sebelum memasuki kamar mandinya.
Salsa mandi tidak lama. Ia keluar dengan menggunakan handuk putihnya. Ia memilih baju yang nyaman untuk di buatnya bekerja. Hari ini, setelah ia mendapatkan izin dari Dirga jika dirinya akan re-sign dari pekerjaannya, Salsa memutuskan untuk re-sign mulai hari ini. Jadi, hari ini akan menjadi hari akhir dirinya bekerja. Ia juga belum mengajukan surat pengunduran dirinya.
Salsa menggunakan setelah kemeja berwarna soft pink di padu dengan rok plisket dengan brukat yang menambah kesan mewah.
Setelah menggunakan bedak dengan tipis, ia sedikit memoleskan liptin tipis di bibirnya. Setelahnya ia memakai hijab instannya.
Ia melirik jam lagi. Kenapa Dirga belum juga pulang. Bahkan ini sudah pagi.
Ia mencoba menelpon Dirga.
Sambungan telepon itu tersambung, namun Dirga tidak mengangkatnya. Tiga kali Salsa menelpon. Namun, Dirga tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Perjalanan pulang paling ya," gumamnya sembari berjalan keluar kamar.
Ia menuruni anak tangga dengan pelan. Entah kenapa rasa sedih menyelimuti perempuan itu. Biasanya, Salsa tidak sesedih ini jika Dirga meninggalkannya hanya untuk berdinas dan bukan untuk apa-apa.
"non Salsa udah mau, berangkat?" Seorang wanita paruh baya bertanya pada Salsa sembari mengaduk bubur yang ada di dalam panci. Sebut aja namanya Bi Minah, yang menjaga bundanya ketika Salsa bekerja di rumah sakit.
"Iya, Mbok. Mboknya udah sarapan?"
"Belum non,"
"Ya udah ini buat mbok Minah ya, kalau aja mbok Minah pengen jajan di luar," kata Salsa sembari menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan.
"Owalah, ndak usah non. Mbok makan bubur ini aja nanti setelah suapin bundanya non Salsa,"
"Nggak papa, bi. Rejeki nggak boleh di tolak lho, bi," kata Salsa sembari tersenyum.
Salsa bimbang. Jika ia berangkat sekarang, bagaimana jika nanti Dirga pulang.
Kenapa pria itu tidak mengabarinya?
__ADS_1
Salsa memutuskan untuk berangkat karena jam kerjanya yang mepet.
"Bi saya berangkat dulu ya. Oh iya bi di lemari makanan ada nasi goreng, nanti kalau Kak Asa pulang suruh makan nasi gorengnya ya bi. Itu ada dua porsi, kalau bibi mau buat bibi aja satunya," kata Salsa.
"Oh enggeh non, nanti saya sampaikan sama Mas Dirga nya," kata bi Minah dengan tersenyum.
Salsa berpamitan pada bi Minah sebelum keluar rumahnya. Ia menggunakan mobil putihnya.
Salsa memasuki mobilnya dengan perasaan yang tidak enak hati. Sebelum menjalankan mobilnya, Salsa memakai jas putih kebanggaannya. Lalu, ia menjalankan mobil meninggalkan pekarangan rumahnya.
Salsa beruntung karena sepagi ini belum ada kemacetan. Memudahkan dirinya untuk menuju ke tempat kerjanya.
Mobilnya berhenti di persimpangan jalan karena lampu merah. Ia melihat ponselnya. Tidak ada kabar juga dari Dirga. Dan pria itu juga tidak membalas pesan-pesannya yang ia kirimkan tadi.
Mobilnya kembali berjalan setelah lampu hijau. Baru kali ini Salsa merasa takut. Entah takut karena apa.
Salsa memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit. Ia segera memasuki rumah sakit militer tersebut.
Ketika ia memasuki rumah sakit, dokter Randy telah menghampirinya dengan panik.
"Dokter Salsa saya minta tolong,"
"Tenang dok. Minta tolong apa? Ada pasien gawat darurat kah?" Kata Salsa ikut panik.
Dokter Randy mengangguk.
"Karena membutuhkan dokter bedah dalam. Dokter lainnya sudah mengambil sif malam dan sebagian belum datang, ayok dok," kata dokter Randy dengan panik. Mereka berdua berlari.
Bagi Salsa, menyelamatkan nyawa orang adalah prioritas dalam hidupnya.
Ia sampai di UGD. Dan betapa kaget dirinya ketika melihat siapa orang itu yang berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Jantung Salsa bergetar hebat. Air matanya sudah merembes keluar. Salsa tidak habis pikir.
Salsa memukul kepalanya sendiri.
"Konsen Sal! Lo harus konsen!" Katanya pada diri sendiri sembari menahan air matanya yang keluar begitu saja. Tenang!
Salsa tidak boleh panik untuk saat ini.
Seumur hidupnya, baru kali ini konsentrasi Salsa hilang ketika ingin mengoperasi menyelamatkan nyawa orang lain. Masalahnya, ini bukan orang lain bagi Salsa.
Salsa berusaha mengembalikan konsentrasinya!
To be continued...
Aduh, apa sih yang terjadi?. Kok author jadi ikutan dag dig dug doorrrr.
Aduh gimana sih ini.
Kalo mau protes author karena Dirga di ujung kematian bisa ikutan grup chat WA ya. WA author ada di bio *******. Hihi
Happy reading. ⭐
__ADS_1