
"kok mata lo, sembab?" Tanya Salsa pada perempuan di depannya. Dua gelas minuman cokelat panas berdiri manis di atas meja berukuran standar itu.
Tadi, setelah pulang mengantar orang tua Salsa ke bandara, Salsa menerima pesan dari sahabatnya untuk pergi ke salah satu kedai kopi yang ada di kota mereka. Siapa lagi jika bukan Rena. Salsa izin pada suaminya, dan Dirga mau mengantar Salsa untuk menemui Rena. Dirga lebih dulu berangkat ke tempat kerjanya. Tak lupa, laki-laki itu menawarkan jemputan untuk Salsa. Namun, gadis itu menolak dan memilih untuk naik taksi saja pulangnya. Sempat ada pertikaian kecil masalah Salsa menolak tawarannya. Namun, Dirga mengalah.
"Gue habis nangis," kata Rena lemas.
"Kayak anak kecil aja," celetuk Salsa setelah meminum cokelat hangatnya.
"Emang kenapa?"
Rena menatap nyalang ke depan, "biasa lah, cewek pms kan begitu," katanya biasanya.
Salsa menganggukkan kepalanya. Tak heran jika sahabatnya menangis. Karena dirinya juga sering merasakan di fase seperti Rena ketika masa pra-menstruasi datang. Kadang mood hilang seketika seperti di telan buto ijo dan emosi cepat naik. Itu hal wajar bagi perempuan yang sedang mengalami haid.
"Lo udah, sarapan?" Tanya Salsa yang melihat Rena terlihat lesu. Biasanya, gadis itu sangat ceria. Namun, hal begini juga biasanya terjadi pada Rena. Jadi, Salsa tidak kaget.
Tiba-tiba, dering telepon Salsa berbunyi, ia segera mengangkatnya.
Tampaknya telepon itu sangat penting karena terlihat dari ekspresi Salsa yang berubah menjadi suram.
Rena melihat hal itu langsung ikut bangkit dari duduknya. Tanpa bertanya kenapa pada Salsa ia sudah tau kondisi saat ini.
Setelah selesai mengangkat telepon, Salsa terburu-buru berpamitan pada Rena. Tak lupa ia meninggalkan selembar uang seratus ribuan untuk membayar minumannya. Padahal, Rena sudah menolak uang tersebut, namun kalah cepat dengan Salsa yang sudah menjauh darinya.
Salsa cepat-cepat mencari taksi yang kosong dan Allah swt Maha Pengasih, ia menemukan taksi kosong tersebut.
Salsa segera masuk dan memberikan alamatnya tempat ia bekerja. Beberapa saat lalu, Dirga menelpon Salsa jika di rumah sakit militer ada seorang tentara yang mengalami kecelakaan. Entah kenapa bisa terjadi Salsa belum mengetahui kabar selengkapnya. Dan pasien tersebut harus segera di operasi. Dalam situasi seperti ini, Salsa juga di larang untuk tergesa-gesa agar pikirannya tidak kalang kabut. Ia harus tetap menjaga pikirannya tetap konsentrasi dalam situasi seperti ini.
Salsa sampai di rumah sakit militer, gadis itu segera berlari menuju ke dalam UGD setelah membayar ongkos taksinya. Situasi di sana sudah mencekam.
__ADS_1
Salsa melihat Dirga, dan dengan cepat perempuan itu segera mengulurkan tas kecilnya pada Dirga.
Ia menaikkan lengan bajunya sedikit ke atas agar lebih mudah menangani pasiennya. Darah terus mengucur dari dada pasien tersebut akibat pecahan kaca mobil yang menancap di dada pasien tersebut. Salsa segera menyuruh perawat lainnya untuk segera menyiapkan ruang operasi. Sembari menunggu ruang operasi siap, ia memberikan alat bantu napas agar pasien tetap sadarkan diri.
Kalian bisa membayangkan, pecahan kaca mobil yang menancap dada!
Tak lama perawat memberitahu jika ruang operasi sudah siap. Dengan menyebut nama baik Allah swt. berulang kali, Salsa mendorong beserta staf medis lainnya menuju ruang operasi.
Salsa hanya ingin Allah swt. mempermudahkan jalan operasinya.
Di ruang operasi itu sangat dingin supaya dokter yang sedang mengoperasi pasien tidak menghasilkan keringat. Suasana begitu mencekam. Hanya penerangan di tengah tepat pasien berada saja yang menyala.
Sebelumnya, mereka berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan operasinya. Dokter anestesi juga sudah siap. Cara kerja anestesi adalah dengan menghentikan atau memblokir sinyal saraf dari pusat rasa sakit yang akan dirasakan pasien selama operasi atau ketika menjalani prosedur medis tertentu.
Di pertengahan operasi mereka, ada kendala yang membuat suasana semakin mencekam. Namun, Salsa tidak boleh panik karena akan mempengaruhi cara kerjanya yang berantakan tidak sesuai prosedur.
**
Salsa merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Kemudian, ia melepaskan jubah birunya serta masker yang masih menempel di wajahnya.
Setelah mencuci tangannya, ia berjalan mencari keberadaan Dirga untuk mengambil tasnya. Tapi, Salsa tidak tahu dimana keberadaan Dirga saat ini. Ia melirik arlojinya, sebentar lagi waktunya sholat dhuhur. Ia menyangka jika Dirga akan menjemputnya untuk melakukan sholat berjama'ah di masjid. Ada sedikit waktu, ia gunakan untuk mandi setelah operasi tadi. Beruntung di ruangannya ada kamar mandi.
Ia juga membawa baju ganti untuk berjaga-jaga.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Salsa sudah mandi dan memakai gamis berwarna soft pink yang terlihat kalem dan elegan. Ia melirik arlojinya lagi, tepat waktunya sholat dhuhur. Sebentar lagi, Dirga akan menjemputnya seperti biasanya.
Tepat!
Setelah Salsa menjawab salam dari balik pintu ruangannya, terlihat Dirga menampakkan wujudnya sembari membawa tas kecil Salsa.
__ADS_1
"Makasih kak Angkasa," kata Salsa.
"Sama-sama, Sal. Nanti habis sholat dhuhur, makan pecel lele langganan saya, ya." Sepertinya kalimat ini di ucapkan oleh Dirga dengan nada yang memerintah dan tidak boleh di tolak oleh Salsa.
"Karena kemarin kamu sudah menolak kencan dengan saya, maka hari ini, kamu harus membayarnya, Sal," katanya mantap dan tegas. Salsa bukannya tidak suka, namun Salsa lebih malu dengan Dirga. Apalagi rasa bersalah itu terus menerus muncul.
"Iya, iya," kata Salsa berusaha menetralkan hatinya.
Salsa sebenarnya juga kagum dengan sikap Dirga. Yang ia lihat sebelumnya Salsa menikah dengan Dirga, laki-laki itu sangat dingin dan ketus. Layaknya seorang yang otoriter dan diktator. Namun, Salsa salah. Memang ya, jika wajah itu sering menipu. Kadang ada yang berwajah terlihat jahat namun sebenarnya kalem.
Maka dari itu!
Jangan pernah memandang fisik orang lain lewat cover-nya saja tanpa tau isi dalamnya!
Mereka segera berjalan menuju masjid karena adzan udah berkumandang dengan merdu. Sesampainya di sana, mereka mengambil air wudhunya.
Lagi dan LAGI, duduk bersimpuh di hadapan Allah swt. lah yang membuat hati kita menjadi tenang. Masalah seberat apapun jika di buat ibadah akan selalu berkurang.
Kita sebagai manusia harus tetap mensyukuri apapun yang Allah berikan tanpa harus mengeluh. Terkadang Allah swt. menguji hamba-Nya dengan ujian yang berat, namun percayalah jika Allah sedang menunjukkan nikmat yang luar biasa untuk hamba-Nya yang sudah bersusah payah melewati ujian yang Beliau berikan kepada hamba-Nya. Di balik masalah yang besar, selalu ada kebaikan yang luar biasa.
Hingga sholat mereka selesai, Dirga mengajak Salsa untuk mengunjungi warung pinggir jalan andalannya. Siapa lagi jika bukan warung pecel lele mbok Surti yang menurut Dirga sangat maknyus. Tadi, Dirga sempat mengajak sahabatnya, Angga, namun Angga menolak dengan embel-embel alasan kalian aja berdua, nanti gue malah ganggu kencan kalian.
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Ketika di pertengahan jalan menuju parkiran, ada kerumunan menghadap televisi yang sedang menyiarkan sebuah berita.
Dirga ikut menghentikan langkahnya dan menatap Salsa. Mengerti gerak-gerik istrinya.
Ada apa dengan Salsa sebenarnya? Kenapa perempuan itu menghentikan langkahnya?
To be continued...
__ADS_1
Follow ig author @meigasellaap