
Salsa mendapat sebuah pesan dari seseorang. Pesan itu di kirim pagi tadi oleh sang pengirim. Salsa baru saja membukanya setelah selesai sholat ashar. Hari ini, ia sholat di masjid sendirian karena Rena sedang ada operasi sore ini.
Kakinya berjalan memasuki gedung rumah sakit besar itu sembari bersholawat lirih. Sepanjang jalan, perempuan itu menyapa pasien maupun staf medis lainnya. Seperti biasanya, hatinya tenang setelah melaksanakan ibadah sholatnya.
Seseorang menghampiri Salsa.
"Apa kabar dokter Salsa," sapa seseorang itu.
Salsa melihatnya sekilas sembari tersenyum, "Alhmdulillah, kabar baik dokter Fandy. Dokter Fandy sendiri gimana?"
"Alhamdulillah saya juga baik,"
Dokter Fandy ialah salah satu dokter ahli bedah umum. Teman seangkatan Salsa. Sosoknya yang rajin mampu menjadikan Fandy sebagai calon menantu yang di idamkan para mertua. Tak sedikit teman perempuannya yang satu angkatan mengungkapkan perasaannya pada dokter Fandy. Berhubung dokter Fandy, tidak ingin berpacaran, pria itu menolak secara halus.
Salsa melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. Sudah waktunya ia pulang. Perutnya sudah keroncongan ingin minta di isi.
"Dok, saya duluan ya. Jam sif saya sudah habis," celetuknya dengan sopan yang di angguki oleh dokter Fandy.
Ia bergegas menuju ruangannya untuk membereskan beberapa peralatannya yang berantakan. Ketika ingin membuka pintu ruangannya, Rena dari kejauhan menyapa Salsa.
"Lo mau, balik?"
Salsa hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam ruangannya di ikuti oleh Rena.
"Operasi lo lancar?"
"Alhamdulillah, Allah ngasih kemudahan untuk gue," kata Rena bersyukur.
"Lo sif malem lagi, ya?"
"Yoi."
Salsa bergegas membereskan barang-barangnya yang tercecer di meja kerja. Kebiasaan dirinya harus bersih jika di tinggal pulang kerumahnya. Sembari membereskan barang-barangnya, ia mengobrol ringan dengan Rena sampai ia selesai menyimpuni ruangannya agar terlihat bersih.
Rena berpamitan Keluar lebih dulu dan Salsa menyusul keluar.
Dengan langkah pasti, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang tampak sedikit sepi untuk menuju ke area parkiran. Sembari berjalan, Salsa membuka ponselnya dan membuka kembali pesan dari seseorang yang memintai tolong kepada Salsa.
__ADS_1
Siapa lagi jika bukan Angkasa Dirgantara!
Ia memasuki mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, ia menata hijabnya yang sedikit berantakan. Ia sedikit mengoleskan lip tint pada bibir mungilnya. Sedikit memoleskan bedak pada wajahnya.
Kemudian, "Astaghfirullah!" pekiknya.
Ia segera mengambil tissue yang ada di dashboard mobilnya untuk mengusap bibirnya yang baru saja di olesi lip tint dan bedak yang di oleskan sebelumnya.
"Ada apa dengan, diriku?" tanya Salsa gundah. Toh seharusnya hal seperti itu tidak salah jika niat dandannya untuk sang suami sahnya. Namun, tetap saja Salsa merasa malu.
Bergegas ia menjalankan mobilnya.
***
"Ini kunci rumahnya," kata Dirga setelah berhadapan dengan Salsa yang baru saja mengunjungi dirinya. Iyaps! Salsa mengunjungi Dirga karena ingin mengambil kunci rumahnya jika Dirga belum pulang dari bermain basketnya.
"Makasih ya, kak,"
"Kamu nggak pengen liat saya main basket, dulu? Seru lo di sana banyak anak-anak," tawar Dirga sembari menujuk ke area lapangan basket base camp militernya.
Salsa menggeleng sembari bertanya, "pasti banyak cowoknya ya, kak?" kata Salsa sembari menundukkan kepalanya. Antara malu dan takut menjadi satu.
Salsa malah memukul dada bidang suaminya dengan gemas. Wanita mana yang tidak bawa perasaan jika mendapatkan kalimat semanis itu dari seseorang yang kita suka, apalagi itu murni tulus dari mulutnya.
"Ada ceweknya kok, kebanyakan doi mereka," kata Dirga.
"Wah pantes mainnya sampek sore, kan jadi semangat kalo di temenin banyak perempuan," spontan mulut Salsa berkata seperti itu. Setelah berkata seperti itu, ia memukul-mukul pelan mulutnya sendiri. Dengan sangat dan SANGAT ia merutuki mulutnya sendiri yang asal bicara.
Salsa semakin menundukkan kepalanya dan bergegas pergi. Namun, tangannya segera di cekal oleh Dirga.
Dirga hanya tersenyum jahil sembari mencekal lembut tangan mungil istrinya.
"Are you, jealous?" Kata Dirga sembari tersenyum jahil.
Laut mana, laut?
Salsa ingin sekali menenggelamkan dirinya ke laut dan tidak melihat Dirga saat ini juga. Malu dan MALU yang sekarang ia rasakan karena mulutnya yang seperti ember cuci piring ini. Beberapa kali Salsa menyebutkan nama Allah swt dengan berusaha melepas cekalan tangan Dirga padanya. Namun, usahanya hanya sia-sia. Dirga tentu saja lebih kuat darinya.
__ADS_1
"Kak, lepasin. Salsa mau pulang aja," celetuk Salsa sembari meronta.
Dirga semakin tersenyum, "malu, ya? Sama suami sendiri malu," kata Dirga yang semakin membuat pipi Salsa merah bak kepiting rebus karena menahan malu.
"Ya udah. Yok temenin saya main basket, biar saya nggak di lirik sama perempuan-perempuan itu. Nanti saya di culik mereka lho,"
Entahlah sejak kapan Angkasa Dirgantara jadi senarsis itu!
Salsa menggeleng mantap. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin sekali melihat Dirga bermain basket.
Hingga tanpa babibu, Dirga menarik Salsa masuk ke dalam area basket itu dan mendudukkan Salsa di salah satu tribun yang kosong. Beberapa yang melihat, terutama bawahan Dirga pada men cie-cie kaptennya dengan Salsa yang membuat Salsa semakin ingin hilang di dasar laut. Bagaimana mungkin, ia berada di posisi seperti, ini?
"Udah duduk sini yang manis, saya main basket. Kamu bakal terpesona melihat saya bermain," kata Dirga.
"Oh iya, kamu sudah sholat Ashar, kan?" tanya Dirga lagi. Salsa hanya mengangguk kepalanya sebagai jawabannya.
"Bagus deh, jadi dosa saya nggak nambah," kata Dirga sembari tersenyum jahil yang membuat Salsa langsung mencubit pinggang Dirga. Dirga hanya pura-pura mengaduh kesakitan.
"Ah mentang-mentang udah sah nih kapten," celetuk salah satu temannya yang menarik perhatian yang ada di area lapangan basket. Salsa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.
"Apa lah daya gue yang jomblo begini cuma bisa melihat keuwuwan orang lain aja," celetuk teman lainnya.
"Belum ketemu jodohnya. Tenang aja, Allah swt. udah siapin wanita terbaik buat lo," kata Dirga dengan senyuman semringah. Dan Salsa melihat senyuman itu.
Boleh kah dirinya baper ketika melihat senyuman manis, itu?
Dosa kah dirinya jika mendambakan sesosok pria yang kini sudah sah menjadi, miliknya? Memang sudah menjadi miliknya, namun ada yang mengganjal di hati Salsa.
Hati Dirga milik, siapa?
Dirga berjalan turun ke lapangan basket untuk bermain basket bersama teman-temannya. Setelah Dirga menjauh, ia berani membuka tangannya. Ia melihat dari tribun suaminya yang bermain basket.
Salsa tidak salah kok sedang menikmati pemandangan indah di depannya saat ini. Dirga bermain basket dengan lihai! Dan Salsa tidak berdosa jika ia mengagumi Dirga terlalu lama!
Lelaki itu dengan lihainya men-dribel bola orange ke dalam ring basket. Matahari sore yang bersinar ikut mengiringi permainan basket itu. Entah kenapa pesona seorang laki-laki akan bertambah jika bermain basket.
To be continued...
__ADS_1
Gimana-gimana?
FOLLOW IG SAYA @meigasellaap