
Di saat nasi sudah menjadi bubur. Apa yang harus di lakukan oleh perempuan yang sedang duduk manis di single sofa sembari menatap air hujan yang turun dengan gemuruh. Sepertinya, langit sedang menumpahkan keluh kesahnya pada bumi. Bercerita pada bumi, jika beban yang di bawa oleh langit sangat berat. Langit telah menceritakan semua suka dukanya pada bumi. Bumi yang baik, mendengarkan curahan hati si langit sembari terus memberikan semangat untuk langit. Langit harus bisa menjalani kehidupan ini dengan ikhlas dan sabar. Layaknya manusia yang sedang berada di titik tidak percaya diri dan lebih memilih menyalahkan dirinya sendiri. Meng-klaim jika dirinya sendiri adalah pecundang yang dilahirkan tanpa tujuan. Pecundang yang tidak layak hidup di bumi.
Ara mengelus perutnya yang semakin haris semakin besar. Usia kelahirannya sudah menua. Perempuan itu menangis sembari menatap hujan yang turun. Hujan adalah rahmat dari Allah swt sekaligus berkah. Di dalam Al-Qur'an terdapat ungkapan bahwa hujan adalah berkah. Ara mengerti hal itu. Bahkan sangat tahu.
"Kenapa kamu harus ada di dalam, perutku?" kata Ara sembari mencengkram perutnya dengan keras. Perempuan itu juga sedang menangis. Suara tangisnya yang di redam oleh gemuruhnya suara hujan telah mampu menyamarkan suara isak tangis perempuan menyedihkan itu. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Baginya, sudah tidak ada lagi kebahagiaan untuk dirinya. Dia adalah perempuan munafik yang pernah ada di bumi. Ara menggeram marah.
"KENAPA KAMU HARUS ADA?!" Teriaknya yang terbelenggu dalam suara hujan. Perempuan itu bangkit dari duduknya sembari memukul perutnya sendiri dengan kesal. Rupanya, kesadaran perempuan itu telah larut bersama turunnya air hujan yang semakin deras. Dengan menangis sesenggukan, Ara melempar vas bunga kecil yang berada di dekatnya ke dinding hingga vas bunga itu pecah menjadikan kepingan-kepingan kaca yang jika di sentuh akan melukai tangan. Sekarang emosi yang telah menyelimuti kepalanya sendiri.
Perempuan itu mengingat jelas bagaimana kejadiannya berawal. Ara jijik mengingat hal itu. Hal yang paling Ara benci seumur hidupnya.
**
Ara sedang membaca salah satu buku filsafat yang ia beli sore tadi. Buku yang telah ramai di kalangan literasi itu mampu membuat Ara tergugah dalam membaca. Banyak motivasi yang ia dapat dalam buku tersebut. Kebetulan penulis buku tersebut juga penulis favorit Ara. Sembari membaca buku tersebut, Ara di temani banyak camilan. Ketika membaca buku, Ara selalu berdampingan dengan camilan-camilan yang ia sukai.
Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan di jendela yang membuat dirinya kaget. Ara sempat takut karena ia mengira jika setan malam-malam begini sedang menganggunya. Namun, ia teringat Fano.
Fano?
Laki-laki dengan nama Fano itu, kerap kali mengetuk jendela kamar Ara. Ara mendekat dan menyibak tirai jendelanya. Ternyata benar. Fano berada di luar sembari tersenyum menatapnya. Sama halnya dengan Ara, perempuan itu juga membalas senyuman manis Fano. Ia membukakan jendela kamarnya sendiri agar Fano bisa masuk ke dalam kamarnya. Dengan pelan-pelan, agar tidak terdengar semua orang yang ada di bawah, Fano masuk ke dalam kamar Ara.
"Lagi baca buku, lagi?" tanya Fano sembari membanting badannya di tempat tidur Ara. Ara duduk di bibir tempat tidurnya sembari tersenyum menatap Fano yang terlentang.
Ara menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis untuk jawaban pertanyaan Fano. Fokus Ara teralihkan ketika ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Ia mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja nakas di sebelah kamar tidurnya. Ia melihat siapa yang menelepon tersebut, kemudian beralih menatap Fano yang masih terlentang di tempat tidurnya.
"Calon tunangan, kamu?" tanya Fano jelas.
Ara mengangguk, "iya, Dirga nelpon aku. Aku angkat dulu, ya?" Ara izin pada laki-laki itu yang langsung di angguki oleh Fano.
Dan tanpa rasa takut sedikitpun, Ara mengangkat telpon dari Dirga itu. Perempuan itu tidak mempunyai rasa takut sedikitpun ketika berbicara dengan Dirga. Seolah-olah apa yang di lakukannya selama ini adalah sebuah kebenaran. Ara segera menutup telpon dari Dirga. Ia beralasan jika banyak kerjaan di rumahnya. Padahal ia sedang berduaan dengan seseorang yang jelas saja bukan mahromnya. Yups! Calon tunangan Dirga itu telah mengkhianati Dirga. Dirga yang mencintainya setulus hati lelaki itu. Dirga yang di beri alasan seperti itu tidak curiga sekali dengan Ara. Karena memang ia percaya dengan Ara. Ara, seseorang yang Dirga sayangi. Seseorang yang mampu membuat hati Dirga merasa nyaman ketika melihat senyuman Ara. Namun, diam-diam perempuan itu telah mengkhianatinya.
Ara sudah lama mengkhianati Dirga dengan Fano. Dan Dirga tidak tahu sama sekali tentang hubungannya dengan Fano.
Fano bangun dari posisi terlentangnya dan duduk di samping Ara.
"Kamu kapan mau mutusin, Dirga?" tanya Fano tiba-tiba.
__ADS_1
Ara menggeleng, "aku nggak tau,"
"Kamu udah lama bilang ke aku kalo mau mutusin Dirga. Tapi, apa? Janjimu selalu tidak di tepati," kata Fano sedikit mengeras, "aku sudah lama menunggumu. Ayo menikah denganku, aku jamin bakalan bisa bahagiain kamu ketimbang Dirga. Jadi istri seorang tentara itu resiko lho," lanjutnya lagi.
Fano semakin mendekat ke Ara dan langsung menarik Ara ke dalam pelukannya. Ara meronta dari pelukan Fano yang membuat Fano bingung. Biasanya, perempuan itu tidak pernah menolak pelukannya.
"Kenapa?"
Ara menatap ke bawah, "aku jadi bimbang."
"Bimbang, kenapa?" Fano menatap curiga Ara. Laki-laki itu menarik paksa wajah Ara agar melihatnya. Hal itu membuat Ara terkejut karena Fano begitu kasar dengannya. Laki-laki itu malah mencengkeram erat kedua pipi Ara hingga Ara mulai merasakan kesakitan. Perempuan itu mencoba menjauhkan tangan Fano, namun Fano lebih kuat darinya.
"Karena lo ragu sama, gue?" tiba-tiba perkataan Fano yang berubah menjadi kasar membuat Ara semakin menatap sinis Fano. Ara juga melihat kedua mata Fano yang menatapnya dengan tajam.
"Karena Dirga lebih dari, gue?! Terus lo mau mencampakkan, gue?" serunya dengan marah. Laki-laki itu semakin mencengkram mulut Ara hingga perempuan itu meringis kesakitan.
"Bilang jalang!" seru Fano dengan kasar, "dasar wanita nggak tau di untung!" Lanjutnya dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Terus, lo anggap gue selama ini itu, apa?! Temen tidur, lo?!" katanya dengan emosi yang memuncak.
Fano benar-benar marah dengan Ara.
Ara meronta dalam ikatan tali tersebut ketika melihat Fano mulai membuka bajunya. Ara menggeleng penuh menolak Fano. Namun, hal itu hanya sia-sia saja.
***
Kejadian itu adalah awal dari kisah Ara yang sekarang melepas hijabnya sendiri. Karena ia merasa telah menjadi pendusta yang buruk. Ara merendahkan dirinya sendiri. Ara merasa jika dirinya adalah wanita yang tidak pantas untuk di hargai.
Ara menangis dengan keras sembari di temani suara hujan yang gemuruh. Memukul dadanya berulang kali guna menghilangkan rasa sakit yang pernah ada di hatinya. Walaupun itu hanya sia-sia. Ara telah melempar bantal guling yang ada di tempat tidurnya. Ia marah dengan dirinya sendiri. Sebagai perempuan, ia tidak bisa menjaga kodratnya sendiri. Ia adalah munafik yang hebat. Yang mampu menipu siapapun di balik hijabnya yang panjang.
Hingga suara gedoran pintu dari luar kamar Ara telah terdengar. Ara enggan membuka pintu tersebut. Untuk, apa? Biarkan Ara sekarang mati di ruangan hampa ini. Ara sudah memegang pisau kecilnya di tangan. Sembari menangis, Ara menyayat tangannya sendiri hingga darah segar mulai keluar dari tangannya.
Ara sudah tidak memikirkan jika sekarang pintu kamarnya terbuka karena dobrakan pintu dari luar. Salsa langsung berlari masuk dengan Dirga di belakangnya serta ibunda Salsa yang panik sekali menatap tangan Ara yang sudah berdarah.
"MBAK ARA!" teriak Salsa dengan panik, "istighfar Mbak Ara. Allah nggak suka apa yang di lakukan Mbak Ara sekarang. Allah telah membencinya," kata Salsa setelah merebut pisau kecil di tangan Ara lalu di berikan Dirga. Salsa langsung memeluk Ara dengan erat, "istighfar Mbak. Inget kalo masih ada Allah untuk curhat keluh kesah kita. Inget masih ada Allah, Mbak," kata Salsa sembari meneteskan air matanya. Salsa begitu menyayangi kakak sepupunya ini dari kecil. Baginya, Ara adalah panutannya.
__ADS_1
Ara menangis sesenggukan di dalam pelukan Salsa lalu meronta dari pelukan Salsa, "UNTUK APA AKU, HIDUP?! TOH SEMESTA JUGA UDAH BENCI SAMA AKU! AKU BERGUNA SEKALI DI DUNIA INI, SAL. MAAFIN MBAK," teriaknya dengan mengeluarkan seluruh emosinya.
Ibunda Salsa juga ikut memeluk Ara yang sedang berada di titik menyerah. Mengelus puncak kepala Ara dengan sayang untuk memberi kekuatan perempuan itu.
"Inget nak. Ada seorang bayi lucu di dalam perut kamu. Kamu nggak boleh menyerah dengan kehidupan ini," kata ibunda Salsa dengan sayang sembari menenangkan perempuan yang ada di pelukan beliau.
Ara terus menangis karena dirinya begitu bodoh.
"Apa yang kamu lakukan selama ini memang salah. Tapi, kamu masih punya banyak waktu buat memperbaiki semuanya," kata bunda Salsa dengan sayang.
Dirga yang melihat hal itu langsung saja keluar dari kamar Ara. Entah apa yang ada di pikiran Dirga hingga membuat laki-laki itu begitu santai.
Salsa melihat kondisi Ara yang semakin lemas. Wajah Ara juga mulai pucat pasi. Darah terus menetes dari tangan Ara. Hal itu membuat Salsa jadi khawatir lagi. Ia bangkit untuk memanggil Dirga yang keluar.
"Mas! Kita bawa Mbak Ara ke rumah sakit. Kondisinya semakin melemah. Aku takut terjadi apa-apa sama bayinya," kata Salsa begitu panik hingga tanpa perempuan itu sadari, ia memanggil Dirga dengan sebutan 'Mas'.
Mas!
**
Salsa begitu tenang ketika mengetahui jika kondisi Ara baik-baik saja dengan bayinya. Sekarang Salsa sedang duduk di salah satu kursi lobi rumah sakit setelah mengurus administrasi Ara. Ada Dirga di sebelahnya.
"Mas," kata Dirga dengan tiba-tiba yang membuat Salsa menoleh dan menatapnya bingung.
"Mas! Kita bawa Mbak Ara ke rumah sakit. Kondisinya semakin melemah. Aku takut terjadi apa-apa sama bayinya," kata Dirga sembari menirukan suara Salsa seperti perempuan. Hal itu membuat Salsa ingin menonjok Dirga saat ini juga. Jika perlu, Salsa akan mencekik leher Dirga sekarang juga. Salsa mengerti yang membuat Dirga jadi mengejeknya adalah ketika dirinya memanggil Dirga dengan sebutan 'mas'. Memangnya tidak boleh? Terserah Salsa dong ingin memanggil suaminya dengan sebutan apa.
"Ciyee, manggil mas," Dirga semakin mengejek Salsa.
Salsa yang sudah bersiap memukul Dirga, sudah lebih dulu tangannya di pegang oleh Dirga. Dirga menjulurkan lidahnya untuk mengejek Salsa. Hingga membuat perempuan itu menatap geram Dirga.
"KAK ANGKASAAAAA!" teriaknya ketika Dirga lari meninggalkan Salsa.
***
Bentar lagi lebaran nih guys. Kalo author punya salah minta maaf yaa.
__ADS_1
Yuk support aku di Instagram @meigasellaap. Aku bakalan banyak posting di Instagram tentang Dirga hehe.