
Salsa masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang gembira. Perempuan itu terlihat semringah. Sembari bersenandung, Salsa masuk menghampiri bundanya yang sedang duduk di depan televisi sedang menonton acara yang ada di televisi.
"Bunda ngapain?" tanya Salsa dengan senyam-senyum. Hal itu membuat bundanya sedikit kebingungan karena sikap Salsa.
"Novi," kata bundanya dengan malas dengan pandangan yang masih terfokus pada televisi.
Salsa kebingungan, "maksudnya bunda, apa?" tanyanya.
"Novi sama dengan nonton tivi. Gitu aja nggak tau," kata Bundanya sembari sewot. Hal itu malah membuat Salsa tertawa.
"Ya Allah bunda! Kebanyakan nonton sinetron makanya jadi tahu bahasa singkatan," tukas Salsa, "bilangin Kak Asa ah. Biar di omelin. Biasanya kan, bunda suka ribut sama Kak Asa," lanjutnya lagi yang membuat fokus bundanya beralih ke Salsa yang sedang mengejek beliau.
"Dasar anak durhaka!" tukas bundanya tak kalah sewot kali ini. Salsa tertawa melihat ekspresi bundanya yang lucu. Hati Salsa juga menghangat ketika melihat senyuman yang terukir di wajah ibunya. Bagi Salsa, bundanya adalah pahlawan dalam hidupnya. Membesarkan dirinya tanpa pamrih. Tempat keluh kesah Salsa yang kedua setelah pertamanya adalah Allah swt.
Salsa memeluk wanita paruh baya itu dengan sayang, "makasih bunda, udah besarin Salsa sampek segede ini. Dan di dalam perut Salsa ada debay nya," kata Salsa yang membuat bundanya langsung menoleh menatap Salsa. Wanita paruh baya itu terlihat terkejut dengan perkataan Salsa baru saja.
"Debay? Dedek bayi maksud, kamu?" tanya Bundanya dengan mata yang berbinar. Salsa mengangguk untuk menjawab pertanyaan bundanya sehingga bundanya membalas pelukannya dengan erat. Rasa senang langsung membuncah dari wanita paruh baya itu. Seperti ada kupu-kupu di dalam perut beliau karena mendengar perkataan Salsa. Beliau akan memiliki, cucu?
"Alhamdulillah ya Allah. Selamat sayang. Angkasa udah tau belum? Jadi memang benar feeling Angkasa kalau kamu itu hamil" kata Bundanya dengan semangat yang luar biasa.
Salsa menggeleng sedih karena Dirga belum mengetahuinya. Dirga juga pasti tidak bisa di hubungi karena ponselnya yang tidak aktif. Salsa juga tidak berniat memberitahu Dirga lewat sosial media. Salsa ingin memberikan kejutan untuk Dirga pulang dari tugasnya nanti. Salsa yakin jika Dirga akan sangat bahagia mengetahui jika dirinya telah mengandung darah daging lelaki itu.
Salsa tersenyum sendiri ketika membayangkan bagaimana ekspresi Dirga nanti jika mengetahui jika dirinya hamil.
Senyum Salsa tidak pernah memudar.
"Ada apa nih kok rame-rame, banget?" tiba-tiba suara milik Ara bergumam untuk mengalihkan perhatian Salsa dan Bundanya.
Karena terlalu antusias, Salsa langsung bangkit dari duduknya, "Mbak Ara, Salsa seneng banget karena hamil anaknya mas Dirga," katanya dengan cepat dan semringah.
Bundanya menyenggol Salsa untuk memberikan kode untuk Salsa. Salsa menangkap kode tersebut dan berdehem, "maaf ya Mbak Ara. Bukan maksud Salsa--" perkataan Salsa terputus karena Ara lebih dulu mendekat dan berbicara pada Salsa, " ya Allah akhirnya punya calon keponakan juga tante ya," kata Ara sembari mengelus perut Salsa yang masih datar. Ara dengan semangat membelai perut Salsa dan bergantian mengelus perutnya sendiri, "dede besok ada temennya," kata Ara lagi sembari mengelus perutnya sendiri.
Salsa tersenyum menatap Ara. Ia tidak tega melihat perempuan itu.
Salsa langsung memeluk Ara dan menangis di pelukan Ara. Bagaimana jika dirinya berada di posisi Ara saat, ini? Sudah pasti Salsa tidak akan bisa.
"Loh kok kamu malah nangis sih, Sal?"
"Biasa hormon ibu hamil memang kayak gitu," tukas bundanya.
Ara membalas pelukan Salsa dan mengelus punggung Salsa dengan lembut sembari menenangkan perempuan itu agar berhenti menangis.
"Kamu nangisnya udahan dong, Sal. Nanti aku di marahin Dirga lho karena udah bikin kamu menangis," canda Ara yang membuat Salsa semakin mengeratkan pelukannya.
"Bunda mau ke kamar dulu ya. Mau minum obat, kalian kalo lagi melow-melow-an silahkan di lanjut," kata bunda Salsa dengan terkikik geli. Kemudian, Salsa menatap wajah Ara dan terkikik geli melihat kelakuannya sendiri. Kenapa Salsa berubah menjadi cengeng seperti, ini?
Ara mengajak duduk Salsa yang masih sedikit terisak.
__ADS_1
"Sal," panggil Ara. Entah kenapa nada itu terdengar serius di telinga Salsa. Salsa menatap Ara yang duduk didepannya.
"Kenapa, Mbak?" tanya Salsa.
"Mbak mau ngomong serius," katanya lagi yang membuat hati Salsa menjadi tidak enak dengan pembicaraan ini.
"Mbak mau ngomong, apa? Ngomong aja," kata Salsa.
"Nggak jadi deh, besok aja," kata Ara tiba-tiba yang membuat Salsa bertambah penasaran. Salsa terus memaksa Ara untuk segera berbicara padanya, namun Ara menolak. Salsa yang semakin kepo terus mendorong Ara agar bicara.
"Nggak papa Salsa. Besok aja mbak ngomongnya," kata Ara dengan senyuman.
"Mbak mah gitu orangnya. Suka banget dari dulu bikin penasaran orang lain,"
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berdering. Salsa bangkit dari duduknya untuk membuka siapa yang bertamu sore ini.
Salsa terkejut ditambah dengan senang karena melihat siapa tamu tersebut. Salsa langsung memeluk perempuan itu.
"Rena, lama banget kita nggak ketemu," kata Salsa di pelukan Rena, "yuk masuk," katanya setelah menyudahi pelukan singkatnya.
"Gue nyempetin waktu buat dateng ke sini. Karena jadwal operasi gue lagi padat banget," kata Rena sembari duduk di sofa panjang.
"Eh Rena!" celetuk Ara dari dalam yang membuat Rena terkejut karena melihat Ara. Rena langsung melirik Salsa. Salsa memberikan kode pada Rena agar tidak membahas topik apa yang ada di kepala Rena saat ini.
"Mbak Ara kapan, datang?" tanya Rena membuang rasa keponya.
"Nggak usah repot-repot Mbak," kata Rena.
"Iya Mbak Ara. Rena bener, soalnya kan dia biasanya ngambil minuman sendiri," tambah Salsa.
"Nggak papa. Santai aja deh sama Mbak. Ya udah, Mbak masuk dulu ya. Siapa tau kalian mau kangen-kangenan," kata Ara lagi. Salsa mencegah Ara untuk kembali masuk dan ikut mengobrol dengan Rena, namun Ara menolak. Salsa juga tidak memaksa.
"Sumpah demi Lee Min Hoo jadi pacar gue. Itu beneran Mbak Ara? Aku sempet kaget, karena Mbak Ara nggak make hijab," kata Rena dengan pelan namun menggebu-gebu.
"Apaan si lo, Ren! Jangan bahas soal itu sekarang," katanya.
"Muka lo kelihatan capek banget," kata Salsa lagi.
"Gue tadi habis dari pengadilan. Mantan pacar gue di sidang dan di penjara seumur hidup," kata Rena.
"Astaghfirullah, gue lupa kalo hari ini sidangnya. Maafin gue karena lupa,"
"Santai kali. Gue mau ngucapin terima kasih sama lo dan suami lo," kata Rena berkata dengan serius.
"Buat?"
"Karena lo dan suami lo bisa nyelametin hidup gue,"
__ADS_1
"Bukan gue dan kak Angkasa yang nyelametin lo Ren. Tapi Allah. Gue sama kak Angkasa cuma perantara aja,"
Rena mendekat ke arah Salsa dan langsung memeluk perempuan itu dengan erat. Salsa juga membalas pelukan itu, "gue nggak tau harus kayak gimana lagi," katanya. Air mata Rena mulai merembes keluar. Sekarang, Rena sudah tidak merasakan sakit lagi karena Rio. Di dalam pelukan Salsa, Rena menceritakan semuanya. Rena sebenarnya juga sudah mengetahui jika Rio adalah psikopat yang gila. Namun, karena Rena di ancam oleh pria itu, ia tidak bisa menjauh dari Rio. Rio selalu mengancamnya. Rena yang lemah hanya bisa pasrah saja. Setiap Rio menyiksa Rena, ada kebanggaan dan kesenangan tersendiri di wajah Rio. Hingga hal itu membuat hati Rena sakit.
Salsa menyingkap lengan panjang baju Rena. Di sepanjang tangan Rena penuh dengan bekas luka sayatan. Bahkan masih ada beberapa lukanya yang masih basah. Salsa sudah meneteskan air matanya karena melihat Rena. Kenapa orang-orang yang berada di dekatnya mendapatkan perlakuan yang tidak wajar. Salsa sudah tidak bisa melihat luka itu semakin lama.
"Lo sekarang aman," kata Salsa.
"Kok lo jadi ikutan, nangis?"
"Ya gue nggak bisa liat lo kayak gitu," kata Salsa sembari menyeka air matanya sendiri.
Tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi.
"Bentar ya, gue buka dulu," kata Salsa sembari berjalan membuka pintu rumahnya. Salsa terkejut karena melihat lelaki muda berseragam loreng. Tapi, seseorang itu adalah Angga, teman Dirga.
"Lho ada, apa? Kak Angkasa la--" ucapannya terpotong karena Angga lebih dulu memberikan sebuah kotak kado untuk Salsa.
"Ini titipan dari suami kamu. Dia maksa saya buat ngasih bingkisan ini ke kamu. Padahal saya lagi sibuk, tapi dia maksa," kata Angga dengan sedikit kesal. Hal itu membuat Salsa terkikik geli karena wajah Angga yang bete.
"Saya bela-belain kesini demi ngasih bingkisan itu doang," Angga semakin kesal melihat Salsa yang malah tertawa melihatnya.
"Ya udah ayo masuk dulu," kata Salsa mempersilahkan Angga masuk. Namun lelaki muda itu menolak karena ia masih sibuk.
"Makasih banyak ya Angga. Semoga kamu cepet nikah," kata Salsa sembari terkikik geli melihat wajah Angga yang bertambah bete.
"Doa kamu melukai hati saya," kata Angga melas. Salsa malah tertawa.
"Tenang, jodoh nggak akan kemana kok,” kata Salsa.
"Ya sudah saya pulang dulu,"
"Oke, Angga. Kalo bisa salamin ke Kak Angkasa ya,"
"Saya bukan tukang titip salam, kalau mau datengin sendiri," Angga berkata sembari berjalan ke arah mobilnya.
Salsa terkikik geli melihat cowok itu. Dan hatinya bertambah senang ketika mendapatkan sebuah bingkisan dari Dirga. Hatinya senang bukan main.
**"
Hai spesial ulang tahun aku hari ini, tepat tanggal 13 mei. Aku update cepet.
Biar makin semangat nulisnya, kasih doa-doa terbaik kalian dong hehe.
Aku suka aja baca notif kalian. Karena bisa bangunin moody aku menulis.
Aku tunggu notifnya di *******, Instagram. Doa-doa kalian yang bakal nyemangatin aku. Makasih yaa.
__ADS_1
Kalo aku banyak salah, aku minta maaf. 🤗🥰