
"PRAANKKK!"
Salsa berteriak sembari meronta untuk turun dari gendongan Dirga. Perempuan itu terlihat bahagia karena melihat ekspresi Dirga yang begitu khawatir ketika melihat dirinya sakit. Entah sejak kapan juga Salsa menjadi jahil seperti ini.
Dirga yang mengerti tidak akan melepaskan Salsa yang sudah berani menjahilinya. Hei!
"Lepasin kak!" teriaknya karena Dirga malah menggendong semakin erat agar perempuan itu tidak lepas begitu saja dari Dirga.
"Udah mulai berani ya, sekarang?" kata Dirga sembari mempererat gendongannya. Dirga sudah membawa masuk ke dalam sembari menggendong Salsa. Laki-laki itu dengan mudahnya membuka pintu dengan kakinya. Karena sudah terbiasa latihan militer sehingga membuat Dirga cukup cekatan dalam hal apapun.
"Ya berani lah!" katanya Salsa dengan sewot.
"Saya itu curiga kalo kamu itu hamil. Soalnya sikap kamu nggak segalak ini biasanya. Orang hamil kan memang membawa hormon yang berbeda," kata Dirga sembari membawa masuk Salsa ke dalam kamar.
"Kakak kok tau banget! Jangan-jangan udah berpengalaman, ya?" Salsa menatap Dirga dengan curiga.
"Berpengalaman hamil gitu maksud, kamu?" jelas Bintang yang membuat Salsa malah tertawa. Kali ini Salsa benar-benar tertawa dengan bebas. Dengan Dirga.
Dirga membaringkan Salsa di tempat tidur yang berukuran king size nya.
"Sebentar, saya ambilkan susu untuk kamu. Setelah itu, kita sholat magrib," katanya dengan lembut.
"Tumben," kata Salsa sembari memposisikan tubuhnya berbaring. Sebenarnya, perut Salsa memang sedikit sakit. Hanya sedikit. Ia jadi mempunyai pemikiran untuk mengerjai Dirga.
Salsa memperhatikan Dirga yang berjalan keluar. Laki-laki itu terlihat santai dengan celana selutut di padukan dengan kaos oblong berwarna hitam. Cukup membuat Salsa terpesona. Haha! Salsa alay memang!
Sedangkan Bintang keluar dari kamar untuk ke lantai bawah. Laki-laki itu menuruni tangga sembari bersenandung. Setelah habis menuruni anak tangga, Dirga menyapa ibu mertuanya yang duduk di sofa ruang tengah.
"Ibu jangan kebanyakan liat sinetron," kata Dirga.
Bukannya menjawab perkataan Dirga, beliau hanya menoleh saja pada Dirga yang berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Nanti baper lho, bu," katanya lagi.
Dirga tertawa ketika melihat ekspresi ibu mertuanya itu. Karena hanya meliriknya saja dan Dirga di abaikan.
Dirga sudah sampai di dapur dan segera membuatkan susu untuk Salsa. Biasanya, perempuan itu akan meminta Dirga untuk membuatkan susu sebelum sholat magrib. Tubuh Dirga yang tinggi mampu menggapai susu yang di susun di lemari paling atas sendiri.
"Buat siapa, mas?" Tiba-tiba terdengar suara lembut dari seseorang perempuan yang membuat Dirga menoleh menatap sumber suara itu.
"Buat Salsa. Dia selalu ingin susu jika sebelum melaksanakan sholat Maghrib," kata Dirga dengan terus memperhatikan susu yang di pegangnya. Laki-laki itu membuat susu untuk Salsa.
Sedangkan Ara menundukkan kepalanya. Perempuan itu jadi mengeluarkan keringat dingin. Pikirannya hanya ada satu orang yang ada di dalam otaknya. Perempuan itu juga memeras rok panjangnya sendiri. Berharap bisa menghilangkan rasa gugupnya.
"Kenapa?" kata Dirga sembari mengaduk susu untuk Salsa, "kayak ada yang mau di bicarain sama, saya?" tambahnya lagi. Dirga menoleh pada Ara yang masih menundukkan kepalanya. Sembari membawa susunya, ia melihat perut Ara yang membesar karena hamil. Ia juga tidak menyangka jika Ara akan kembali dan melepaskannya kerudungnya.
Karena tidak ada respon, Dirga berjalan menuju keluar dari dapur, namun Ara menahannya dengan memanggil namanya.
"Dirga," katanya dengan pelan.
Ara membalikkan badannya dan menatap punggung Dirga yang besar, "kamu nggak mau tau apa yang aku lakuin satu tahun yang, lalu?" tiba-tiba Ara menanyakan hal seperti itu.
Dirga membalikkan badannya untuk menatap Ara yang sepertinya ingin menangis saat ini juga.
"Bikin anak?" cetus Dirga langsung. Perkataan itu memang terlihat sepele, namun mampu membuat hati Ara terluka karenanya. Ara ingin menangis saat ini juga karena Dirga sudah berubah.
"Saya harap, kamu nggak jadi benalu di rumah tangga saya karena perkataanmu itu. Saya sudah cukup bahagia dengan kehidupan saya yang sekarang. Saya juga mengerti apa maksud kamu sebenarnya. Jangan membuang-buang waktumu untuk menjadi benalu. Lebih baik, sekarang belajar memakai hijab lagi. Udah lupa caranya, ya?" kata Dirga dengan mantap yang membuat Ara semakin tertusuk hatinya. Dirga tidak pernah berkata sekasar ini dengannya. Yang Ara tahu, Dirga adalah sesosok manusia yang perfeksionis dan tidak pernah berkata kasar sedikit pun. Namun, semesta sudah merubahnya. Dirga yang lembut sudah tidak ada lagi.
Dirga meninggalkan Ara yang menangis karena perkataannya. Ara menggeram marah karena Dirga telah melecehkannya. Perempuan itu meremas tangannya sendiri. Sembari mengusap air matanya yang turun, Ara berlari untuk menuju ke kamarnya. Hatinya sudah sesak karena Dirga yang melecehkan dirinya.
Perempuan itu masuk ke dalam kamarnya dengan air mata yang terus menetes. Semesta saja sudah menolak dirinya hadir. Karena ia terlalu banyak mengejar dunia. Apa yang Ara dapatkan selama, ini? Kebahagiaan? Justru dengan dia yang antusias mengejar dunia, ia malah tidak mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Hanya kebahagiaan sesaat yang ia nikmati di dunia dan berakhir dengan kesedihan.
Ara sudah melupakan semua yang ia telah pelajari selama bertahun-tahun. Ara sudah melupakan Tuhannya. Dan dengan cara hidupnya yang sekarang, ia sulit mencari kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena Ara sudah menilai dirinya sendiri lebih rendah.
__ADS_1
Ara menangis sesenggukan hingga dadanya sesak. Pasokan udara saja enggan mendekatinya. Ia memang perempuan yang tidak pantas untuk hidup di dunia.
Ara memang egois karena meninggalkan Dirga dengan alasan yang tidak jelas sama sekali. Ia sangat menyesal jika di tanya. Dan sekarang, Ara menjadi perempuan yang tidak mempunyai harga diri sama sekali. Dan Dirga sudah menganggapnya perempuan yang murahan.
Ara sudah melakukan sesuatu hal yang telah di benci oleh Allah sehingga mengakibatkan dirinya hamil dan di pandang sebagai manusia yang tidak mempunyai harga diri di mata orang lain.
Ara semakin sakit ketika mengingat hal itu.
**
Dirga memperhatikan Salsa yang sedang bersandar di kepala tempat tidur sembari membaca sebuah buku novel islami. Senyumannya terbit seketika karena melihat Salsa yang yang begitu tenang. Biasanya, perempuan itu akan cerewet. Dirga sadar dengan perubahan Salsa yang semakin hari semakin berani dengannya. Karena sebelumnya, perempuan itu begitu pendiam dan juga PEMALU. Dirga sudah menduga jika Salsa pasti hamil karena terlibat saja dari gerak-gerik perempuan itu. Namun, sudah berulang kali ia menyuruh Salsa untuk periksa, tapi Salsa tidak mau dengan banyak alasan yang Salsa keluarkan. Dirga tertawa sendiri melihat Salsa.
"Kenapa?" kata Salsa yang mendengarkan sekilas tawa Dirga.
"Nggak papa. Kamu makin hari makin manis aja. Saya jadi makin sayang," katanya dengan santai sembari meletakkan susu yang di buatnya tadi di atas meja nakas di sebelah tempat tidurnya.
"Heleh! Jangan-jangan kakak juga begitu ya sama wanita lain," Salsa menaruh buku novelnya di sebelahnya lalu menatap curiga Dirga.
"Iya, Sal. Tebakan kamu suka benar," goda Dirga.
"Oh ya udah kalau gitu," katanya dengan cemberut lalu melanjutkan membaca bukunya walaupun perempuan itu tidak konsen membaca lagi karena fokusnya beralih pada Dirga yang terus memperhatikannya. Ia hanya membuang gengsinya saja di depan Dirga.
"Sama ibu saya sendiri," kata Dirga lagi yang membuat hati Salsa menghangat mendengarnya. Karena Salsa sempat berpikiran macem-macem.
Namun, Salsa hanya diam saja tidak merespon perkataan Dirga sama sekali. Padahal di hatinya, betapa senangnya perempuan itu saat ini. Biasalah! Gengsi!
To be continued...
Aku mau bikin trailer nyaa imamku tentaraku. Tapi ada saran nggak? Atau yang bisa bikinin hehehe.
Kalo ada saran bisa kasih tips aku di Instagram yaa. follow Instagram aku yaa @meigasellaap buat dukung karya karya akuu. maksihhh
__ADS_1