Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
10 sadar


__ADS_3

"Alhamdullillah," satu kalimat merdu itu terucap dari bibir wanita paruh baya yang sekarang mengenakan busana syar'i berwarna tosca di padu merah. Beribu kali beliau mengucap syukur kepada Sang Maha Kuasa. Tadi, setelah salat subuh berjama'ah di masjid rumah sakit, kedua orang tua Salsa mendapatkan jika putrinya sudah membuka matanya. Itu berarti, Salsa sudah sadar dari masa komanya. Dimana masa ketika nyawa sedang berada di ambang kematian. Setelah mengalami koma selama dua minggu, Salsa tampak kurus dan mukanya pucat. Of course!


Setelah di periksa oleh dokter, sedari tadi Salsa tampak diam saja dan sesekali tersenyum manis untuk bundanya. Ia tidak berbicara. Bundanya sudah menciumi wajahnya yang masih tertutup alat bantu pernapasan. Membuat wajah Salsa dan rindu pelukan sang bunda.


"Salsa pengen peluk bunda," akhirnya Salsa mengucapkan kalimat pertamanya setelah bangun dari koma. Tapi, kalimat itu di ucapkannya begitu lirih, mungkin mirip seperti sebuah bisikan.


Tanpa menunggu aba-aba, Bundanya langsung memeluknya dengan posisi berbaring. Sembari terisak, beliau berbisik lembut di telinga sang putrinya, "Bunda kangen, kangen banget. Kamu jahat, bikin bunda sedih,"


Salsa membalas pelukan sang bunda lalu terkekeh geli disela-sela leher bundanya yang tertutup hijab syar'i.


"Sekarang Salsa udah bangun, kenapa bunda masih nangis, aja?"


Bundanya melepaskan pelukan dan menatap manik mata putrinya yang terlihat sayu. Seolah mata itu telah menyiratkan kesedihan dan ketakutan luar biasa.


"Bunda nggak nangis kok, ini cuma kelilipan aja, hehe," kekeh bundanya kemudian diikuti oleh Salsa. Gadis itu tampak tenang. Seperti tidak mengalami koma selama dua minggu.


Sepertinya Salsa melupakan suatu hal setelah dua minggu berlalu. Yaitu, peristiwa ketika ia di Palestina. Salsa bukannya tidak ingat, karena hatinya masih belum siap menerima kabar tentang kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawanya. Apalagi mendengar kabar tentang teman-teman baiknya ketika menjadi relawan di sana. Sekali lagi ia belum siap menerima kabar baik maupun buruk yang ia terima tentang teman-temannya.


Hingga pintu terketuk dan menampilkan sesosok bertubuh atletis. Otot-otot keras yang di bungkus oleh kaos polo berwarna hitam putih telah menyulap pria tampan yang sudah berumur seperti seorang remaja 17 tahun.


"Assalamualaykum," sapa pria tampan itu sembari menaruh bingkisan plastik putih untuk di letakkannya di sofa putih panjang. Terlihat dari bawaanya, jika pria itu dari mini market terdekat.


"Waalaykumsalam, Ga."


Bunda Salsa menjauh dari Salsa ketika Dirga mendekati ranjangnya. Salsa bingung dengan semua ini. Seperti ada sesuatu yang mengganjal.


"Bunda tinggal dulu ya, Sal? Assalamualaykum," kata bundanya yang membuat Salsa terkejut. Bagaimana mungkin bundanya meninggalkan dirinya berduaan di dalam ruangan dengan pria yang jelas bukan mahramnya. Mulut Salsa seolah bungkam tak mampu mengucapkan apa-apa. Karena terlalu fokus mencerna hal yang terjadi saat ini. Bahkan salam bundanya tidak di jawabnya, sehingga Dirga-lah yang menjawabnya. Pria itu melihat Salsa yang tampak tertegun.


Sampai sebuah suara bariton telah menyapa gendang telinga Salsa. Terdengar sangat lembut.

__ADS_1


"Kamu istriku, jadi kita halal berduaan di dalam ruangan," kata Dirga menjawab dengan raut datar. Ia tahu apa yang di pikirkan oleh gadis yang terbaring lemah di depannya itu. Dirga menunggu respon gadis itu, sampai detik ke sepuluh barulah gadis itu melebarkan kelopak matanya.


"Ha-jangan ngaco deh, Kak," kata Salsa di akhiri tawaan garing. Tentu saja tawaan terpaksa. Gadis itu harus bisa menjaga detak jantungnya agar tidak berpacu lebih cepat. Ini pasti hanya bualan, kan?


Seseorang tolong bangunkan aku, jika semua ini terlalu indah untuk di sebut dengan mimpi....


"I'm seriously. Your my wife," kata Dirga santai sembari menyerahkan sebungkus roti rasa cokelat untuk Salsa. Gadis itu tidak menerimanya karena terlalu fokus pada kenyataan yang begitu mengejutkan. Gadis itu tentu saja kebingungan setengah mampus. Bagaimana bisa? Ia terbangun dari koma dan tiba-tiba Dirga mengakui sebagai istrinya.


Salsa menepuk-nepuk pipinya sedikit keras yang membuat pipi itu malah memerah. Dirga menghentikan aksi konyol gadis itu. Salsa segera menepis tangan Dirga. Bisa saja ini hanya bualan. Tapi, kenapa umminya membiarkan Dirga masuk dan berduaan dengannya jika ini bualan?


"Ini bukan mimpi, Sal. Kita udah nikah ketika kamu koma. Saya bakal cerita ketika kamu keluar dari rumah sakit ini,"


Kata-kata ini membuat Salsa tertegun kembali. Tanpa sadar, gadis itu menekan bagian dadanya untuk menetralkan rasa gugupnya yang luar biasa. Ini bagaimana bisa terjadi?


"Kak Dirga kalo ngomong nggak usah ngaco deh. Kakak kan mau menikah sama Mbak Ara. Jangan bikin omongan kayak gini, nanti Mbak Ara jadi salah paham. Saya minta tolong buat Kak Dirga, keluar dari kamar ini sekarang. Kita bukan mahram. Sa--"


"Itu terserah kamu mau mengakui apa tidak pernikahan kita. Yang jelas kita pasangan suami istri atas permintaan Ara. Saya terpaksa menikahi kamu,"


Hati Salsa bagaikan tersayat ketika mendengar kalimat akhir pria tampan itu. Terpaksa? Bagaimana bisa terjadi? Hati Salsa seperti di hempaskan dengan kasar oleh Dirga ke dasar jurang dan hancur berkeping-keping.


Salsa susah payah untuk duduk di atas ranjang.


"Tapi kenapa? Kenapa harus, saya kalo Kak Dirga terpaksa menikahi saya. Kakak bisa cari perempuan lain selain saya. Saya juga nggak mau menikah karena terpaksa. Karena pernikahan itu bukan sebuah permainan. Tapi sebuah komitmen yang akan di bangun oleh sepasang suami istri," kata Salsa. Mata indah itu tampak berkaca-kaca ketika mengatakan hal ini.


Sedangkan Dirga masih tampak terlihat santai. Seolah perdebatan ini bukan masalah yang besar.


"Saya juga sudah menolak, tapi Ara yang memaksa saya untuk menikahi kamu, Sal. Maaf kalau tidak meminta izin darimu. Ara begitu yakin jika kamu akan menerima ini setelah kamu sadar dari koma. Tapi sebaliknya yang saya dapat, kamu seperti menolak. Ada, apa?"


Salsa sudah tampak tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana bisa ini, Ya Allah? Tapi, perkataan Dirga telah menggores hati Salsa paling dalam. Ia mungkin senang karena cinta pertamanya telah menikahi dirinya. Tapi di sisi samping, Salsa tidak bisa menerima ini semua dengan mudah. Dirga adalah calon suami kakak sepupunya. Seharusnya yang menempati posisi Salsa adalah Ara. Apalagi di tambah Dirga terpaksa menikahinya. Ya Allah, hati Salsa sakit sekali.

__ADS_1


Lalu, bagaimana dengan keadaan Ara yang menyerahkan Dirga begitu saja pada Salsa? Apakah kakak sepupunya itu berusaha menikam diri? Sakit hati atau tidak, Ara?


"Berhubungan kamu tampak gelisah, saya akan menceritakan kejadiannya. Tapi syaratnya, jangan memutus perkataan saya dan dengarkan sampai selesai,"


Salsa mengangguk sembari berusaha menghalau air mata yang akan merembes keluar.


Tepat, minggu lalu sebelum Salsa sadar dari koma.


**


"ARA BUANG BENDA ITU!" teriak salah satu pria paruh baya, Ayah Ara.  Beliau terlihat begitu panik ketika putrinya membawa pisau lipat yang akan di goreskan pada lehernya sendiri.


"Nggak akan, Pah! Sebelum Dirga menikahi Salsa, Ara nggak akan buang pisau ini. Dirga harus menikah dengan Salsa!" teriak Ara frustasi. Gadis itu sudah menangis sedari tadi. Ini memang tindakan bodoh Ara agar calon suaminya menikahi Ara. Tentu saja beribu jarum menusuk ulu hatinya dengan kejam. Luka yang tak berdarah. Melepaskan seseorang yang kita sayang sangat berat. Tapi, Ara harus melakukan semua ini demi kebaikan Dirga dan dirinya.


"Hei! Apa yang kamu katakan, ayo buang. Apa yang membuatmu seperti ini, Ra? Ingat! Allah nggak suka sama orang yang membunuh dirinya sendiri. Ingat Allah, Ra," kata ayahnya. Pria paruh baya itu sudah akan mendekat kearah putrinya, tapi Ara mengancam jika mendekat ia akan segara menggores tangannya sendiri.


Hingga pintu terbuka secara tiba-tiba. Dirga menatap gadisnya panik.


"Ara..." panggil Dirga lirih. Pria itu sehabis tugas langsung mendatangi gadisnya yang tiba-tiba memberontak. Alhasil dengan memakai seragam kebanggaannya, Dirga segera menuju rumah sakit tempat Ara di rawat karena gadis itu sehabis kecelakaan.


"Kamu harus nikah sama Salsa. Kalo enggak, aku bakal bunuh diri!" teriak Ara. Tentu saja Dirga terkejut. Dirga mendekat tapi Ara lebih dulu mengancam dan langsung menggores sedikit kulitnya.


"Semakin dekat, aku bakal bunuh diri. Please! Kamu harus nikahin Salsa. Dan lupain aku!"


"Kenapa, Ra? Hubungan kita kemarin baik-baik aja. Tapi ke--"


"Kebanyakan omong, aku bakal bunuh diri!" kata Ara yang akan menyayat pembuluh nadi yang ada di tangannya. Tapi, Dirga lebih memilih mengalah.


"Ya aku akan menikahi Salsa. Tapi tolong jangan lukain diri kamu. Aku kecawa sama kamu. Aku nggak tau apa maksud kamu bilang seperti ini. Aku sayang sama kamu, Ra!"

__ADS_1


Begitu banyak percekcokan antara mereka. Ara sudah membuktikan keberaniannya menyayat kulitnya ketika Dirga sedikit menolak perkataannya. Alhasil luka sayat dimana-mana. Semakin banyak Dirga melontarkan perkataan menolak, ia akan melukai dirinya. Sampai Dirga benar-benar mengalah. Di menit kesepuluh, tubuh Ara melemas karena banyaknya luka sayatan.


Dan terpaksa ia harus menikahi Salsa.


__ADS_2