Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
permen Salsa


__ADS_3

Salsa pulang dari minimarket setelah membeli beberapa bahan makanan pokok untuk menyambung hidupnya. Karena mereka akan tinggal di hotel ini untuk beberapa hari ke depan. Gadis itu juga sudah mengambil masa cutinya.


Ia menaruh beberapa belanjaannya di atas meja dekat kitchen island. Lalu, menatanya dalam kulkas dan lemari makanan.


Sedari tadi, ia tidak tampak Dirga ada di rumah. Mungkin Dirga sedang keluar mencari sesuatu, begitu pikirnya.


Setelah tersusun rapi, ia membuat jus apel dan menikmatinya di meja makan yang berukuran mini. Ia membuat jusnya sebanyak dua gelas, satunya untuk Dirga, namun ia simpan dulu di kulkas karena empunya masih tidak ada.


Salsa duduk di meja makan sembari menikmati jus apel buatannya. Ia membuka handphone nya untuk melihat sosial medianya. Salsa memang termasuk orang yang kurang update dalam sosial media, karena dirinya tidak menghabiskan waktunya di dunia maya. Tak sengaja, ia membuka galeri fotonya dan melihat gambar Ara bersama dirinya ketika berwisata ke Ancol beberapa bulan yang lalu.


Hati Salsa teriris.


Sebenarnya, apa motif kakak sepupunya itu untuk menyuruh pacarnya sendiri dengan, Salsa?


Sampai saat ini, Salsa masih merasa bersalah kepada Ara. Bagaimanapun, Ara adalah kakak sepupu nya yang dekat dengannya.


Entah kenapa air mata Salsa terasa berkaca-kaca, ingin menangis saat ini juga. Ia sudah seperti penjahat saja.


Ya Allah, mengapa menjadi seperti, ini?


Jika memang benar Kak Dirga adalah jodoh hamba, maka tunjukkan kejadian yang sebenarnya, Ya Allah. Supaya hamba-Mu ini tidak menerka-nerka. Apa yang sebenarnya, terjadi?


Hamba memang mencinta Kak Dirga dan memendam perasaan selama tujuh tahun, namun bukan cara seperti ini hamba mendapatkan Kak Dirga. Hamba seperti pecundang, Ya Allah. Hamba manusia egois yang pernah ada di muka bumi ini, ya Allah.


Tanpa di sadari lagi, air matanya pecah begitu saja.


Salsa menelungkup kan kepalanya di kedua tangannya yang ada di atas meja. Menangis sesenggukan karena ia merasa seperti pengkhianat kakaknya sendiri.


"Salsa?"


Salsa tidak mendengar suara bariton itu memanggil namanya, karena gadis itu sedang asik dengan menangisnya dan melupakan jika dirinya sudah tinggal bersama Dirga. Gadis itu terus menangis sesenggukan. Hingga mengakibatkan tangan kekar milik Dirga mengelus puncak kepalanya dengan lembut. Hal itu membuat Salsa tersadar dari tangisnya.


Langsung saja gadis itu bangkit dan menyeka air matanya yang terus merembes membasahi pipinya. Namun, hal itu percuma karena Dirga sudah tau jika Salsa menangis.

__ADS_1


"Ada, apa?" tanya Dirga lembut sembari duduk di sebelah Salsa.


"Kenapa kamu tiba-tiba menangis setelah pulang dari, belanja? Uang kamu, habis? Atau mau aku transferin sekarang juga. Kamu sudah menjadi tanggung jawabku, Salsa,"  kata Dirga dengan lembut.


Namun, mendengar perkataan itu dari mulut Dirga, tangis Salsa menjadi keras. Melihat hal itu, Dirga menjadi semakin bingung.


Ada apa dengan, Salsa?


Apa pertanyaannya, salah?


Jika salah, di mana letak, salahnya?


Bukankah benar apa yang di bicarakan oleh Dirga?


"Salsa, cerita sama saya. Kamu adalah istri saya. Kalo uang kamu habis, bisa saya transfer in sekarang," nada itu terdengar kalem yang membuat Salsa semakin menangis.


Dirga kebingungan.


Apa yang harus ia lakukan?


Salsa menangis terisak sembari menutupi wajahnya yang penuh dengan linangan air mata. Pipinya memerah.


Sebenarnya, Salsa sudah lelah bertahan dalam posisi seperti ini. Padahal ini baru beberapa hari saja. Namun, ia masih memikirkan perasaan Ara padanya. Bukan, lebih tepatnya hati Ara yang sesak. Ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Ara saat ini. Karena setau dirinya, Ara sangat mencintai Dirga.


Hati Salsa membayangkan hal itu. Ia memang menyukai Dirga, namun bukan begini caranya.


Sungguh! Ia manusia yang paling egois!


Dan sekarang, apa?! Ara pergi ke Los Angeles!


Dirga menyodorkan segelas air putih agar perempuan di sebelahnya tenang.  Namun, gadis itu masih menutupi wajahnya dan bangkit dari duduknya meninggalkan Dirga yang masih di landa kebingungan akan sifat Salsa.


Dirga mengikuti Salsa yang pindah ke tempat tidur dan kembali mengelus rambut Salsa dengan lembut. Bagaimana pun juga, Salsa ialah istrinya sendiri. Walaupun ia belum mempunyai perasaan itu.

__ADS_1


Iya, perasaan cinta yang sesungguhnya.


Bagaimana mungkin ia bisa mencintai Salsa secepat, itu? Dan begitu saja membuang Ara yang jelas dulu ada di hatinya.


Salsa tetap kekeuh dalam menangisnya. Pikiran Salsa hanya ingin menangis kencang, mungkin sedikit membantu meringankan bebannya saat ini.


Salsa memang lemah dalam hal percintaan!


"Salsa, kamu kenapa? Saya jadi makin bingung kalo begini jadinya. Saya harus apa supaya kamu diam dan cerita sama, saya?"


Biasanya jika Ara menangis dulu, Dirga hanya memberikan sebuah tisu dan tangis itu mereda. Dan ini Salsa, bukan Ara!


Dia harus, apa?!


Hoala, piye to, mas?


"Ka-k, Salsa b-but-uh p-per-meeen," tiba-tiba Salsa berkata dengan suara yang tidak jelas karena menangis.


Dirga sedikit tersentak kaget. Kemudian ia mencari toples permen dan di berikannya pada Salsa.


Entah kenapa Salsa selalu tenang jika ada masalah atau pun pikiran, ia akan tenang jika ia mengemut permen. Mungkin manusia itu berbeda-beda untuk mencari rasa ketenangan dalam diri sendiri. Ya, beginilah Salsa. Hanya dengan permen saja ia tenang. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Salsa. Mungkin dulu ada suatu insiden, kenapa permen bisa membuatnya nyaman.


To be continued....


BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT KASIH SEMANGAT DONG YANG PANJAAAAAANG. JANGAN LUPA FOLLOW IG @meigasellaap


BIAR MAKIN SEMANGAT UPDATE CERITA INI.


KASIH SARAN DAN KRITIKAN KARENA KESALAHAN ADALAH MANUSIAWI.


TERIMA KASIH.


KALO DAPET KOMENTAR YANG BAIK, AKU LANGSUNG UP DEH 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2