Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZILYA DAISHA | 21 : PAKET


__ADS_3

“Sebenarnya, cerita pendek yang diceritakan oleh Bu Riska tadi, bukanlah buatan Bu Riska,“


“Justru cerita pendek tersebut adalah buatan si penulis terkenal dan juga hebat dengan nama pena Zilya Daisha,“


“Pasti kalian tidak percaya mendengarnya bukan? Tapi itulah kenyataan. Jika kalian tidak mempercayai saya, saya tidak mempermasalahkannya. Kalian boleh pergi ke toko buku atau melihat di toko online, carilah cerita pendek dengan judul Semut dan Gajah,“ seru mahasiswa tersebut yang membuat para mahasiswa lainnya tidak percaya.


Para mahasiswa yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mahasiswa tersebut, pun mengambil ponsel dan mencari judul cerita pendek yang disebutkan oleh mahasiswa tersebut tadi.


Dan benar saja, cerita itu ada. Namun, jika penasaran dengan isi cerita pendek itu, maka mereka harus membelinya terlebih dahulu.


“Sayang sekali, jika ingin dibeli sekarang, maka kita harus menunggu hingga minggu depan baru tiba barangnya!“ seru mahasiswa 1 sembari menghembuskan napasnya dengan kasar.


“Apakah tidak ada yang mempunyai bukunya? Sangat disayangkan jika hal ini harus ditunda hingga minggu depan hanya karena tidak ada yang memiliki buku cerita pendek tersebut,“ ujar mahasiswa 2 menimpali ucapan mahasiswa 1 sambil ikut menghembuskan napasnya dengan kasar.


“Tidak mungkin bukan jika tidak ada yang memiliki buku tersebut? Penulis dengan nama pena ‘Zilya Daisha’ tentu memiliki banyak penggemar. Buku tersebut saja stoknya habis karena dibeli begitu banyak orang. Diantara orang yang membeli itu, tidak adakah dari salah satu mahasiswa di Kampus ini?“ sahut mahasiswa 3 yang juga ikut menimpali ucapan mahasiswa 1 dan juga mahasiswa 2.


Tiba-tiba saja datanglah seorang mahasiswi menghampiri mereka.


“Saya memiliki bukunya,“ ujar mahasiswi tersebut yang ternyata adalah Zilya.


“Zilya?“ Mereka semua terkejut dengan kedatangan Zilya yang tiba-tiba. Eh, bukankah Zilya memang sudah datang sejak tadi? Lalu, mengapa mereka semua terkejut dengan kedatangan Zilya yang tiba-tiba?


Oh, ternyata, Zilya baru menghampiri mereka. Sedari tadi, Zilya hanya menyimak percakapan mereka. Oleh sebab itulah mengapa mahasiswa yang sedang berbincang itu terkejut dengan kedatangan Zilya.


Namun tiba-tiba saja, salah satu diantara ketiga mahasiswa yang membuka suara tadi, kembali membuka suaranya.


“Eh, bukankah penulis terkenal dan juga hebat itu bernama Zilya Daisha?“ seru mahasiswa 2 itu hingga membuat mahasiswa 1 dan mahasiswa 3 memutar otak mereka.


“Iya ya! Mengapa aku tidak menyadarinya!“ sahut mahasiswa 1 yang baru menyadarinya.

__ADS_1


“Apakah identitas penulis itu ialah Zilya?“ ujar mahasiswa 3 yang lagi-lagi memutar otaknya untuk memecahkan misteri identitasnya penulis terkenal dan juga hebat itu.


“Mungkinkah?“ Ketiga mahasiswa itu saling menatap satu sama lain.


Disaat mereka ingin menanyakan hal tersebut kepada Zilya, tiba-tiba Zilya menghilang entah kemana.


"Haduh, Zilya kemana?“ Ketiga mahasiswa itu pun bingung dengan kepergian Zilya yang entah kemana. Bahkan mereka saja tidak tahu kapan Zilya beranjak dari tempat tersebut.


“Halo, selamat pagi,“ sapa seseorang yang mengenakan seragam lengkap bersama rekan-rekan kerjanya. Ketiga mahasiswa itu pun menjawab sapaan orang yang tidak dikenal itu, “Selamat pagi juga. Cari siapa ya?“


“Benar bukan jika bangunan ini adalah Kampus Lily?“ tanya orang tersebut.


“Benar," jawab ketiga mahasiswa tersebut.


“Baiklah, sebagai perwakilannya, tolong tandatangani bagian ini ya,“ pinta seseorang tersebut.


“Em, baiklah,“ sahut mahasiswa 3 lalu menandatangani kertas yang diberikan oleh seseorang tersebut.


Ketiga mahasiswa itu merasa heran, “Baiklah, terimakasih, Mbak.“


“Terima kasih kembali. Kami permisi dulu,“ ujar seseorang yang tidak dikenal itu lalu pergi dengan menggunakan kendaraan beroda empat bersama rekan-rekan kerjanya tadi.


Ketiga mahasiswa itu pun mencoba membuka kotak-kotak buku yang dikirimkan.


“Eh, lebih baik, kita buka dikelas saja deh. Biar yang lain juga tahu kalau ada paket dari penulis dengan nama pena Zilya Daisha,“ saran mahasiswa 2.


“Benar juga! Kita bagikan buku-buku ini ke kelas lainnya. Karena jumlah buku ini terlalu banyak. Aku tidak sanggup membawanya pulang,“ sahut mahasiswa 3, yang diakhiri dengan candaan di akhir ucapannya.


“Hah, ada-ada saja kamu,“ ujar mahasiswa 1 sembari cekikikan.

__ADS_1


“Oh ya, kita juga harus meminta bantuan kepada mahasiswa lainnya untuk membawa kotak-kotak buku ini. Tidak mungkin jika kita membawanya sendiri?“ saran mahasiswa 2 lagi.


“Benar juga ya. Seandainya kotak-kotak buku ini sangatlah kecil, mungkin kita bisa membawanya dalam jumlah banyak sekaligus," ujar mahasiswa 1 lagi.


“Ayolah!“ jawab mahasiswa 3, mereka pun akhirnya meminta para mahasiswa untuk membantu membawakan kotak-kotak buku tersebut. Meskipun merasa heran, mereka tetap membantunya.


***


Sedangkan di sisi lain. Terlihat seorang gadis yang masih mengenakan baju kuliahnya sedang mengetik di komputer.


Gadis tersebut mengetik dengan buru-buru agar target jumlah buku tercapai. Tiba-tiba saja, banyak yang memesan buku darinya dengan jumlah yang tidak biasa. Entah ini sekedar candaan dari orang tersebut atau bukan. Namun, jika dikatakan candaan, orang tersebut benar-benar membayar bukunya.


Lalu, apa tujuan orang tersebut membeli begitu banyaknya buku yang sama lalu diantarkan ke sebuah Kampus? Namun, tidak semua buku yang diminta adalah buku yang sama, beberapa ada yang diminta buku baru. Hal tersebut membuat seorang pelajar kuliah ini yang menjadi seorang penulis kelelahan. Beruntung, dirinya dibantu oleh karyawan lainnya.


Demi pekerjaannya ini, ia rela tidak masuk kuliah hari ini. Terlebih lagi setelah mendapatkan pemberitahuan dari pihak Kampus, apabila hari ini, tidak ada pembelajaran di Kampus, hanya ada kegiatan membaca atau literasi.


“Apakah pembeli itu memesan buku lagi?“ tanya gadis itu kepada karyawan yang membantu dirinya.


“Iya, dik. Beliau memesan kembali buku terbaru Adik,“ jawab karyawan tersebut dengan sopan. Usia karyawan tersebut lebih tua dari gadis tersebut, sehingga karyawan tersebut memanggilnya dengan sebutan ‘adik’.


“Siapa namanya?“ tanya gadis itu yang ingin mencantumkan nama pembeli tersebut kedalam kertas, mengingat pembeli tersebut membeli begitu banyaknya buku. Sudah sepantasnya pembeli itu diberikan diskon, pikir gadis itu.


“Namanya Bu Saskia, Dik. Beliau meminta untuk ditulis dengan nama Bu Saskia,“ jawab karyawan tersebut.


“Bu Saskia?“ Entah mengapa, nama tersebut tidak asing di indra pendengarannya.


“Iya, Dik.“ jawab karyawan tersebut membenarkan.


“Baiklah, Kak. Terima kasih banyak sudah membantu saya, Kak. Maaf merepotkan Kakak yang sedang bekerja,“ ujar gadis itu dengan sopan sembari tersenyum tidak enak karena sudah merepotkan karyawan yang bekerja di tempat yang sama.

__ADS_1


“Tidak masalah, Dik. Kakak senang membantu kamu.“ jawab karyawan tersebut sembari tersenyum manis.


__ADS_2