Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 49 : FLASHBACK


__ADS_3

***


“Ahh, Zil!“ teriak Dania dalam batinnya. Tentu dia tidak akan berani berteriak secara langsung. Karena secara tidak langsung dan tanpa disadari, ia memanggil semua penjaga kemari. Dan itu sangat berbahaya.


“Zilya tidak akan berhenti begitu saja. Pasti dia akan lakukan apapun demi tujuannya," ucap Dania dengan bingung. Ia bingung harus mengambil langkah apa untuk selanjutnya.


“Apa yang harus aku lakukan saat ini? Sebentar lagi, Zilya pasti akan kemari untuk membebaskan diriku. Memang ya, sejak dulu, Zilya tidak pernah memikirkan nyawanya sendiri,“ Dania sambil berpikir keras.


Pertemuannya dengan Zilya Daisha terkesan terburu-buru tadi. Bahkan hanya terbilang beberapa detik saja mereka saling bertatap muka, lalu Dania langsung diculik pada saat itu juga.


Flashback on.


Pada saat itu, Dania sedang bersepeda. Tidak sengaja, manik matanya melihat sosok yang sangat mirip dengannya. Ia pun memutuskan untuk mengikuti kemanapun gadis tersebut pergi.


Dania, adalah seorang gadis. Usianya sama dengan Zilya. Tanggal lahir mereka juga sama. Mungkin hanya kebetulan ataukah ada sesuatu yang disembunyikan? Mereka tidak begitu memusingkan soal tersebut.


Hingga arah jalannya hampir sampai di sebuah Kampus. Tiba-tiba saja, Dania melihat Zilya diikuti begitu banyak kendaraan beroda empat. Dania yang merasakan perasaannya tidak enak memutuskan segera mengayunkan sepedanya lebih cepat lagi. Tujuannya pertama hanya untuk memberitahu kepada sosok yang dilihatnya tadi bahwa sosok tersebut diikuti.


Namun, si pengikuti Zilya, malah mengira Danialah si Zilya tersebut. Sebab, wajah antara Zilya dan Dania begitu mirip. Hampir tidak ada perbedaan yang menjadikan perbedaan diantara keduanya.


Orang yang mengikuti Zilya pun lantas merasa bingung. Sehingga memutuskan untuk menculik Dania saja.


Mereka menyemprotkan gas. Membuat Dania dan Zilya pada saat itu terbatuk-batuk.


“Dania?“


“Zilya?”

__ADS_1


Mereka berdua mengeluarkan suara lirih. Merasa terkejut, itulah yang mereka rasakan saat ini. Tidak menyangka mereka akan bertemu di keadaan seperti ini.


Lama kelamaan, karena tidak tahan dengan aroma yang ditimbulkan dari gas tersebut, Zilya dan Dania langsung pingsan ditempat. Sang penculik segera menyeret tubuh Dania dan dimasukkan kedalam mobil. Meninggalkan Zilya begitu saja tergeletak pingsan ditengah jalan.


Kebetulan saat itu Dania membawa dua ponsel. Satu ponsel milik pribadinya dan satu lagi digunakan saat kerja.


Salah satu ponselnya pun tertinggal pada saat tubuhnya diseret. Yang ternyata ponsel tersebut adalah ponsel milik pribadinya. Kebetulan, Dania ada menyimpan nomornya sendiri ponselnya tersebut.


Pengemudi jalan lainnya melewati tubuh Zilya yang tetgeletak pingsan begitu saja. Bahkan lebih terkesan cuek dan tidak peduli.


Para pengemudi berlalu begitu saja. Hingga tidak terasa, sudah hampir 1 jam Zilya pingsan ditempat tersebut.


Salah satu pengemudi, melihat Zilya merasa iba. Sehingga memutuskan membawa Zilya ke Rumah Sakit. Beruntung saja, Zilya baik-baik saja, ia hanya pingsan akibat gas dengan aroma tidak sedap.


“Bagaimana keadaanmu, Nona? Kamu merasa sakit atau apa sebagainya?“ tanya Pengemudi tersebut merasa khawatir dengan Zilya.


“Baiklah, akan saya panggilkan Dokter kemari. Tunggu sebentar yaa,“ ucap Pengemudi yang menolong Zilya itu, lalu keluar dari ruangan mencari Dokter.


Sedangkan Zilya, ia sudah berhasil duduk. Ia masih memegangi kepalanya yang terasa amat sakit itu. Pikirannya tiba-tiba kembali ke awal. Dimana ia dan Dania bertemu pada saat detik-detik akan pingsan.


“Dania ada dimana?“ Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di pikirannya. Berbagai pikiran buruk muncul dikepalanya.


“Jangan bilang, dia diculik!“ Zilya segera mencabut jarum infus yang ada ditangannya. Tanpa aba-aba segera turun dari brankar pasien. Terlihat pada saat ia ingin keluar, Dokter masuk dan berniat memeriksa dirinya.


“Nona? Bisakah Nona berbaring sebentar? Saya ingin memeriksa keadaan Nona saat ini,“ pinta Dokter tersebut.


“Saya tidak punya banyak waktu, Dok. Lebih baik, berikan saja obat yang kemungkinan akan saya butuhkan,“ ucap Zilya.

__ADS_1


“Tapi, Nona? Kami tidak bisa memberikan obat begitu saja. Karena saya belum memeriksa keadaan Nona dan bagaimana keadaan Nona saat ini. Bisakah Nona meluangkan waktu sedikit saja. Saya akan memeriksa lebih cepat," saran Dokter tersebut.


Zilya melihat jam tangannya. Sudah 1 jam berlalu.


“Saya mohon, Nona. Ini demi kebaikan Nona juga,“ ucap Dokter tersebut memohon.


“Em, baiklah. Periksalah dengan cepat,“ sahut Zilya dengan cepat. Waktunya terbuang begitu banyak hanya karena pingsan. Zilya harus mulai berjaga-jaga saat ini. Sepertinya musuhnya semakin banyak untuk menargetkan dirinya. Mungkin hari ini ia baik-baik saja dan hanya pingsan, dilain waktu, bisa saja ia terluka parah.


Dokter tersebut pun memeriksa Zilya dengan cepat. Setelah memastikan Zilya baik-baik saja, ia pun memberikan obat yang sesuai. Lalu mengizinkan Zilya pulang kerumahnya.


“Terimakasih ya, Tuan. Sudah mengantarkan saya ke Rumah Sakit ini,“ ucap Zilya dengan tulus dari hatinya.


“Sama-sama, Nona. Hati-hatilah, Nona. Di dunia ini banyak orang jahat, bahkan orang yang terlihat baik, ternyata adalah orang jahat. Saya harap, Nona bisa lebih menjaga diri lebih baik ke depannya. Karena Nona adalah seorang wanita, jadi yang saya takutkan Nona diapa-apakan oleh Pengemudi lain,“ sahut Pengemudi tersebut menasehati Zilya.


“Iya, Tuan,“


Setelah pulang dari Rumah Sakitnya. Zilya bergegas menuju Kontrakannya. Ia bahkan tidak peduli dengan pakaiannya yang masih mengenakan pakaian wisuda. Satu hal terpenting dalam pikirannya saat ini adalah Dania. Bagaimana kondisi Dania sekarang?


Ia pun mengambil ponsel yang tadi diberikan oleh Pengemudi yang membantunya. Dilihatnya, ponsel tersebut ternyata bukanlah miliknya. Lalu, ponsel ini milik siapa jika bukan miliknya?


“Apa milik Dania ya?“ pikir Zilya lalu membuka ponsel tersebut. Ternyata benar, ponsel tersebut milik Dania. Zilya segera membuka kontak di ponsel tersebut dan mencari-cari nama Dania. Dan ternyata ia menemukannya.


Tanpa menunggu apapun lagi, Zilya bergegas menelepon kontak dengan bernama Dania. Sambil menunggu panggilannya diangkat, Zilya memasang perangkat untuk melacak lokasi Dania pada saat itu juga.


“Tut … Tut … Tutt!” Terdengar ponsel Zilya masih berbunyi seperti itu. Pertanda, Dania belum menjawab panggilannya.


***

__ADS_1


Flashback pun berakhir.


__ADS_2