Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 73 : HASIL SIDANG


__ADS_3

Waktu demi waktu pun berlalu. Hingga tidak terasa, waktu sudah berjalan 2 minggu. Hari ini tepat dimana hari ini akan diadakan sidang Veni, Naomi, dan Nancy.


Selama 2 minggu ini, ternyata sudah membawa banyak perubahan bagi ketiganya. Terutama Veni.


Veni yang biasanya selalu melakukan perawatan tiap harinya hingga wajahnya tampak awet muda. 2 minggu tidak melakukan perawatan membuat wajahnya menjadi tampak kusam dan tua. Tubuhnya juga menjadi kurus dan tampak tidak terurus dengan baik. Rambutnya yang biasanya rapi dan lurus, kini menjadi seperti nenek lampir. Siapa yang akan menyangkanya?


Sedangkan Naomi. Gadis itu juga tampak banyak perubahan. Semenjak di Penjara, mata Naomi selalu membengkak akibat menangis terus-menerus. Psikisnya mulai terganggu. Naomi lebih sering membanting barang, mencakar barang apapun yang berada didekatnya.


Naomi juga sempat melukai dirinya sendiri dengan cara menggosokkan pergelangan tangannya di dinding dengan keras. Naomi juga pernah melukai tahanan lainnya hingga dibawa ke Rumah Sakit.


Hal demikian juga terjadi pada Nancy. Jika Naomi menjadi agresif mencakar siapapun atau apapun yang berada disekitarnya, maka berbeda halnya dengan Nancy yang hanya sering termenung dan melamun namun air matanya terus mengalir seolah tanpa henti.


***


Sementara di sisi lain …


“Zil, kamu sudah tahu kalau hari ini adalah sidang mereka?“ tanya Zayn sambil memakan roti selainya.


“Sudah,“ jawab Zilya singkat.


“Apa kamu akan menghadiri sidang itu sebagai korban?“ Berbagai hukuman telah menanti ketiga orang tersebut. Polisi sudah mencari tahu dan mereka semakin banyak menemukan bukti-bukti perbuatan melanggar hukum lainnya yang diperbuat. Salah satunya perbuatan pencemaran nama baik Zilya.


“Aku tidak tahu,“ jawab Zilya acuh tak acuh sembari melanjutkan sarapannya. Rasanya ia malas sekali jika Zayn membahas masalah tentang keluarganya.


“Jika kamu menghadirinya sebagai korban, maka akan lebih baik Zil. Hukuman penjara mereka pasti akan ditambah lagi,“ sahut Zayn membuat Zilya berpikir sejenak. Ucapan Zayn memang benar adanya.


“Baiklah, aku akan menghadirinya. Bisakah kamu menemaniku, Zayn?“ tanya Zilya.


“Tentu saja bisa, Sayang. Kenapa masih panggil nama?“ ucap Zayn sedikit merasa kesal.


“Maaf aku lupa, sayang. Masih belum terbiasa,“ sahut Zilya dengan penuh bersalah. Ia benar-benar melupakan hal tersebut karena sibuk memikirkan kehidupannya.


“Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu. Namun tidak dengan lain kali. Oke?“ putus Zayn. Sungguh tidak tega apabila ia menghukum kekasihnya lagi.


“Oke, aku janji,“ ucap Zilya dengan sungguh-sungguh. Mereka pun mengaitkan jari kelingking seperti anak kecil. Lalu mereka tertawa bersama.


“Aku akan menemanimu ikut sidang,“ ujar Zayn.


“Benarkah? Terima kasih, sayang!“ jawab Zilya dengan wajah senangnya. Beruntung ia ditemani oleh Zayn, setidaknya ia memiliki seseorang yang dapat membantunya sidang nanti.


“Sama-sama sayangku,“ jawab Zayn sembari mengecup kening Zilya dengan lembut.


Beberapa menit kemudian. Zilya dan Zayn sudah selesai bersiap-siap lalu memutuskan untuk berangkat bersama dengan menggunakan mobil tanpa supir. Ingat, hanya berdua tanpa supir ya!

__ADS_1


***


Di Pengadilan.


Sidang telah berlangsung dengan lancar apalagi ditambah dengan kehadiran Zilya sebagai korbannya yang membuat sidang itu berjalan dengan mulus.


Veni, Naomi dan Nancy dijatuhi hukuman penjara selama 13 tahun 7 bulan. Waktu yang cukup lama bukan?


Veni, Naomi dan Nancy tidak mendapatkan pengacara disebabkan tidak ada yang membantu mereka. Bahkan sahabat-sahabat terbaik mereka juga ikut meninggalkan. Sangat tragis.


“Tidak, tidak! Aku tidak bersalah! Dia telah membuat fitnah!“ bantah Veni dengan tangan menunjuk-nunjuk wajah Zilya.


“Maaf saudari Veni, kami sudah mengumpulkan semua bukti-bukti dan saudari terbukti bersalah. Saudari tidak akan bisa mengelak lagi,“ ucap Polisi tersebut.


Saat Naomi dituntun untuk masuk ke dalam mobil Polisi. Tidak sengaja matanya melihat Zilya.


“Pak, bisakah saya berbicara sebentar dengan gadis bergaun biru navy itu?“ tanya Naomi.


Polisi itu mencari gadis yang dimaksud oleh Naomi.


“Baiklah, hanya sebentar! Jangan membuat keributan! Saya akan tetap mengawasi kamu dari jauh!“ Naomi menganggukan kepalanya. Ia berjalan dengan tertatih menghampiri Zilya.


“Zilya …“ lirih Naomi.


“Ada apa?“ tanya Zilya dingin. Sebenarnya ia sudah tidak ingin berurusan dengan orang-orang yang telah membuat hidupnya kacau.


“Bisakah kau meninggalkan kami sebentar?“ tanya Naomi kepada Zayn. Zayn menatap Zilya untuk meminta jawaban.


“Iya Zayn. Sebaiknya kamu tinggalkan kami sebentar!“ jawab Zilya yang merasa Naomi ingin berbicara sesuatu hanya kepadanya.


“Baiklah, hati-hati! Aku akan pergi ke parkiran sebentar untuk mengambil mobilku kesini!“ ucap Zayn lalu mengecup kening Zilya dan pergi.


“Maafkan aku, hiks … .“ ucap Naomi menangis sembari berlutut dan memegang kedua kaki Zilya.


“Berdirilah!“ Kehidupan benar-benar berputar. Dulunya mereka diatas Zilya, kini Zilya-lah yang berada di atas mereka. Itulah Roda Kehidupan.


’Janganlah sombong dengan apa yang kau miliki saat ini, tetaplah bermurah hati! Ingat, roda kehidupan terus berjalan!’


“Aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkan aku lebih dulu,“ Sembari menangis, bahkan Naomi mencium kedua kaki Zilya.


“Berdirilah! Aku sudah memaafkanmu dari jauh-jauh hari! Namun, perbuatanmu beserta keluargamu tidak akan bisa aku lupakan begitu saja,“ jawab Zilya sembari melihat langit kedepan dan tersenyum miris.


“Terima kasih sudah memaafkan-ku. Setidaknya jika aku pergi nanti, aku bisa tenang disana,“ ucap Naomi akhirnya berdiri.

__ADS_1


“Apa maksudmu?“ Zilya melihat penampilan Naomi dari atas ke bawah. Tubuh Naomi terlihat lebih kurus dibandingkan pertemuan sebelumnya.


“Maafkan segala perbuatanku kepadamu selama ini. Aku benar-benar minta maaf,“ ucap Naomi sembari melihat wajah Zilya dengan tulus.


“Aku sudah memaafkanmu! Ayolah, ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?“ Zilya merasa ada yang disembunyikan oleh gadis dihadapannya ini. Entah hanya firasat atau hanya sekedar perasaannya saja..


“Aku baik-baik saja. Bisakah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?“ pinta Naomi yang dituruti oleh Zilya.


“Oh ya, apakah pria tadi adalah kekasihmu?“ tanya Naomi.


“Iya, dia adalah kekasihku,“ jawab Zilya.


“Terima kasih. Seandainya waktu bisa diulang, aku tidak ingin melakukan ini. Terima kasih telah memberikan pembelajaran yang begitu berharga di hidupku. Sampai jumpa, Zilya!“ ucap Naomi sembari tersenyum manis kepada Zilya.


“Tolong jaga dirimu baik-baik, Zilya! Semoga hubunganmu dengan pria tadi langgeng hingga menikah!“ pesan Naomi.


“Baiklah, Terima kasih pesannya!“ Zilya hanya bisa melihat Naomi pergi bersama Polisi tadi.


Hanya Naomi yang meminta maaf kepadanya. Sedangkan Nancy dan Veni? Mereka berdua justru malah menatap sinis ketika berpapasan dengannya. Mereka berdua sepertinya masih belum jera.


“Sayang! Sayang!“ panggil Zayn berulang kali akhirnya bisa memecahkan lamunan Zilya.


“Eh iya,“ sahut Zilya.


“Ayo masuk!“ ajak Zayn sembari membukakan pintu untuk kekasihnya.


“Terima kasih, sayang. Maaf sudah mengabaikanmu tadi,“ ucap Zilya dengan perasaan penuh bersalah.


“Tidak apa-apa. Bisakah kamu katakan apa yang dilakukan Naomi tadi? Apakah gadis itu memukulmu atau menghinamu?“ tanya Zayn sembari meneriksa bagian tubuh Zilya dengan rinci.


“Tidak, dia tidak melukaiku. Justru dia meminta maaf kepadaku,“ Lalu, Zilya menceritakan apa saja yang dikatakan oleh Naomi.


Zayn benar-benar menjadi seorang pendengar yang baik bagi Zilya. Pria itu sekarang menjadi posesif dan menjaga Zilya dengan baik.


“Syukurlah jika dia tidak melukaimu. Aku senang mendengarnya. Semoga dia beneran sudah tobat,“ ucap Zayn sembari mengecilkan suaranya di kalimat akhir.


“Apa yang kamu katakan? Semoga apa?“ tanya Zilya heran. Ia tidak dapat mendengarkan suara Zayn yang tiba-tiba mengecil.


“Ti-tidak ada. Kamu ingin ke mana, Sayang?“ ucap Zayn mengalihkan pembicaraan.


“Bagaimana jika kita pergi ke Mall?“


“Ide bagus!“

__ADS_1


__ADS_2