Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 72 : HUKUMAN


__ADS_3

“Jangan salahkan aku karena telah memberikanmu hukuman. Karena kamu tadi sudah menertawakanku, maka sekarang giliranku untuk membalasmu sayang!“ ucap Zayn sembari tersenyum namun terlihat menyeramkan dimata Zilya yang sedang panik.


Zayn mengikat kedua tangan Zilya dan meletakkan kedua tangan gadis itu di atas kepalanya.


“Sebaiknya kamu mengatur pernapasanmu dulu,“ ucap Zayn.


Beberapa menit kemudian.


Zayn mulai mengelitik gadis itu sepuasnya. Zilya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa pasrah digelitik oleh kekasihnya itu.


“Ahh, gelii!“ pekik Zilya sembari tertawa karena gelitikan Zayn.


“Ini yang kamu inginkan bukan? Terus tertawa?“ sahut Zayn sembari terus mengelitik tubuh kekasihnya.


“Ahh! Ampunn, Zayn! Aku tidak akan menertawakanmu lagii! Ahh!“ Wajah Zilya benar-benar memerah, Zayn bahkan tidak membiarkan dirinya berhenti sejenak.


“Baiklah, aku akan ampuni kamu dengan satu syarat,“ seru Zayn sembari berhenti beberapa detik lalu kembali melanjutkan aksi gelitiknya.


“Ampunnn, baiklah! Apapun syaratnya akan aku terima a-asal kamu berhenti ahh Zayn!!“ ucap Zilya sembari mengatur pernapasannya yang mulai tidak teratur.


“Panggil aku sayang!“ pinta Zayn.


“A-apa!“ Wajah Zilya semakin memerah. Yang benar saja ia harus memanggil pria itu dengan sebutan sayang? Ia merasa sangat malu jika harus melakukannya.


“Jadi kamu tidak mau?“ Zayn kembali mengelitik tubuh gadis itu tanpa ampun.


“Geli! Ahh, baiklah sayang!“ jawab Zilya.


“Apa? Aku tidak mendengarnya!“ ucap Zayn dengan jahil.

__ADS_1


“Baiklah sayang!“ ucap Zilya sedikit keras.


“Suaramu kecil sekali, Zil. Aku tidak dapat mendengarnya!“ Zayn kembali mengelitik.


“Ampun, Zayn! Aku sudah memanggilmu dengan sebutan sayang!“ pekik Zilya karena tidak tahan.


“Tapi aku tidak mendengarnya!“


“Baiklah, Sayang!“ pekik Zilya.


“Nah gitu dong! Masa udah pacaran, masih manggilnya nama? Aku saja memanggilmu dengan sayang, masa kamu memanggilku dengan nama?“ gerutu Zayn sembari melepaskan ikatan tangan Zilya.


“Tangan kamu tidak sakit, kan?“ tanya Zayn sembari melihat tangan Zilya.


“Tidak,“ jawab Zilya masih mengatur napasnya.


Zayn pergi ke dapur dan mengambil minuman untuk kekasihnya.


“Maafkan aku sudah menghukummu, sayang!“ bisik Zayn dengan mesra membuat Zilya merasa geli.


“Geli Zayn!“ ucap Zilya.


“Kok masih panggil nama? Mau digelitik lagi ya?“ sahut Zayn sembari tersenyum jahil dan menirukan bagaimana ia mengelitik tadi.


“Ti-tidak, sayang!“ jawab Zilya yang mau tidak mau memanggil kekasihnya dengan sebutan sayang.


“Terima kasih sudah menuruti, sayangku!“ ucap Zayn memeluk kekasihnya dengan erat.


“Sa-sayang, bagaimana kamu mengetahui alamat tempat tinggalku?“ tanya Zilya dengan heran. Pasalnya, ia tidak pernah memberi tahu alamat tempat tinggalnya kepada pria di depannya saat ini yang telah berstatus kekasihnya.

__ADS_1


“Jangan tanya dari mana, karena aku mengetahui semuanya tentang kamu,“ jawab Zayn.


“A-apa! Kamu serius, sayang?“ Zilya benar-benar tidak menyangka dengan ucapan Zayn.


“Serius, pake duarius lagi!“ jawab Zayn.


“Ba-bagaimana bisa?“


“Aku mencari semua yang berkaitan dengan kamu,“


***


Tugas matahari telah berakhir dan akan digantikan oleh Bulan yang siap. Langit yang awalnya terang menjadi gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan. Langit menjadi tampak indah walaupun gelap.


Jendela masih terbuka. Seorang gadis duduk sembari menatap langit-langit. Pikirannya terus berpikir seolah tanpa henti. Membuatnya sulit untuk tidur.


“Apakah aku akan meninggalkan dunia ini nantinya?“ tanya Zilya kepada dirinya sendiri. Pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya.


Pasalnya ia sudah nyaman dengan dunia yang sekarang ia tempati. Iya, dunia novel dengan tubuh tokoh utama. Nama tokoh utama yang kebetulan sama dengan namanya yakni Zilya.


Jika ia bisa memilih, ia menginginkan semua yang ada di dunia novel ini. Namun, di sisi lain, ia juga tidak mungkin terjebak dalam novel selamanya.


Zayn Daffa, seorang pria yang berhasil meluluhkan hatinya yang dingin. Rasanya benar-benar tidak rela jika ia harus benar-benar kembali dan meninggalkannya. Bisakah Zilya egois memilih keduanya yang tidak bisa ditebak?


Orang-orang terdekat Zilya juga sangat baik. Terutama sahabatnya yakni Mei. Selalu menemaninya di saat duka maupun di saat senang.


“Ya Tuhan, apa aku benar akan meninggalkan dunia ini?“ Zilya berdoa dan hanya bisa pasrah kepada-Nya. Karena jalan yang diberikan-Nya adalah jalan yang terbaik bagi semua.


Zilya melihat jam tangannya. Jarum pendek dan jarum panjang sama-sama mengarah ke angka 12.

__ADS_1


“Hais! Sudah larut malam rupanya. Aku tidak sadar sedari tadi berpikir hingga larut malam. Aku harus segera tidur,“ monolog Zilya lalu pergi ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, ia pun bergegas tidur.


Tidur larut malam juga tidak baik bagi kesehatan tubuh. Selain itu, juga akan berdampak pada wajah kita, wajah kita akan tampak lebih tua dari usia kita.


__ADS_2