
Sungguh pasangan baru yang romantis.
“Wow! Lihatlah pengantin kita! Mereka sungguh romantis,“ seru MC membuat mata para tamu mengarah ke arah Zilya dan Zayn yang sedang bergandengan tangan. Ditambah dengan lampu disekeliling menjadi gelap, dan cahaya mengarah kearah mereka.
“Wah, pengantin yang sangat romantis! Sudah kaya, romantis pula. Apa lagi kurangnya?“ ujar salah satu tamu.
“Iya! Kalau saja aku bisa ke posisi Nona Zilya, pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia!“ sahut temannya.
“Yap! Nona Zilya adalah wanita paling beruntung di dunia ini! Bisa mendapatkan pria sempurna seperti Zayn!“ jawab temannya yang lain.
“Ahh, jadi pengen juga digandeng sama pacar,“ ujar tamu lain.
“Hayoo, dikasih kode atuhh,“ jawab temannya.
Di Zilya dan Zayn..
“Astaga! MCnya memang selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan!“ ujar Zayn.
“Iya. Tadi lagi doorprize, atau jangan-jangan ditunda lagi pengambilan nomor undian!? Hadeuhh, digantung itu gak enak banget tahu!“ jawab Zilya.
“Lah? Emangnya setiap kamu buat cerita, gak dibuat gantung gitu di setiap akhir bab?“ tanya Zayn dengan penasaran.
“Ketahuan deh, kayaknya gak pernah baca cerita buatan Zilya ya?“ sahut Zilya sembari mengerutkan bibirnya membuat Zayn merasa gemas. Ditanya, bukannya menjawab malah memberikan balik pertanyaan.
Tanpa aba-aba, Zayn langsung menempelkan b*b*rnya di b*b*rnya Zilya.
“Waduh, kayaknya mau adegan 18 plus plus plus ini! Saya masih polos, heh!“ seru MC dengan kocaknya membuat para tamu tertawa.
“Sudahlah, daripada menonton adegan 18 plus plus plus yang membuat jiwa jomblo kita meronta-ronta, maka sebaiknya kita lanjutkan saja acara doorprize tadi!“
Sudahlah, kalian pasti tahu apa yang akan dilakukan Zayn. Author tidak melanjutkan adegan itu, mengingat adegan 18 plus plus tidak boleh.
“Bukannya gak pernah baca, Zil. Masalahnya aku juga gak ingat lagi ceritanya,“ jawab Zayn dengan jujur.
“Iya, aku memang selalu buat gantung sih. Hehe … Kalau gak dibuat gitu, pembaca gak akan penasaran dan malah jadi kesannya boring! That's i think,“ jelas Zilya.
“Pantesan saja kenapa pembaca suka sekali sama buku-buku yang kamu buat. Kalau boleh tahu, sudah berapa buku yang kamu buat?“ tanya Zayn.
“Sudah ada 3 novel yang tamat. Dua lagi masih on-going. Dan ya … Aku rencananya mungkin bulan depan mah launching buku baru judul baru juga!“ jelas Zilya.
__ADS_1
“Amazing!“ puji Zayn dengan kagum.
“Thank you so much, my husband! I really love you, my husband!“ bisik Zilya tepat ditelinga Zayn, membuat hembusan napas itu dirasakan oleh Zayn.
(Terima kasih banyak, suamiku! Aku benar-benar mencintaimu, suamiku.“)
“Thank you for your love! I love you too,“ bisik balik Zayn.
Mereka berdua saling berpelukan, dan momen itu dimanfaatkan oleh photographer. Tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu, photographer itu pun mengambil foto momen tersebut.
Foto yang dihasilkan terlihat sangat jernih dan benar-benar seolah semuanya sudah teratur. Padahal mah, itu karena pas lagi momen-momennya aja dan pas juga photographernya lagi disana.
Selagi bisa diambil sekarang, mengapa tidak? Bukankah benar seperti itu?
***
Di sisi lain.
“Ah! S*al! Mengapa gagal! Bukankah aku sudah katakan sebelumnya, aku tidak menerima kata gagal atau kalian semua akan mat*!“ seru Darwin dengan penuh amarah.
“Maaf Tuan, ka-“
“Aku tidak menerima permintaan maaf kalian! Mau kalian sebut ribuan kali, puluhan kali, atau bahkan sampai miliaran kali, aku tidak akan memaafkan kalian!“ potong Darwin dengan suara yang terdengar sangat tegas dan menyerahkan.
“Beri mereka siksaan fisik! Setelah itu, temb*k kepala mereka!“ perintah Darwin pada salah satu anak buahnya yang menjadi kepercayaannya.
“Baik, Bos!“ sahutnya lalu membawa anak buah yang gagal dalam misinya ke sebuah ruangan. Mereka semua akan diberikan hukuman berupa siksaan fisik, lalu akan dib*nuh.
“Hahaha! Inilah aku, Darwin sang mafia yang terkenal akan kejamnya!“ Darwin tertawa keras, namun terdengar sangat menyeramkan.
“Kirim anak buah kita yang lainnya untuk segera kesana! Aku tidak peduli mau berapa kek, entah ratusan bahkan sampai semuanya! Yang aku inginkan hanyalah keberhasilan misi ini! Mengerti!?“
“Oh ya, pastikan anak buah yang mengikuti misi ini sudah melewati tahap seleksi 10! Aku tidak mau kejadian lagi, mereka semua baru melewati tahap seleksi 4!“ sambung Darwin.
“Baik, Bos! Laksanakan!“ sahut anak buah kepercayaan Darwin lalu pergi untuk memerintahkan kepada anak buahnya yang sudah melewati tahap seleksi 10 untuk mengikuti misi ini.
Anak buahnya yang sudah melewati tahap seleksi 10 pun dipanggil terlebih dahulu untuk mendengar intruksi dari Darwin.
“Dengarkan baik-baik atau nasib kalian akan seperti mereka!“ seru Darwin, lalu tidak lama kemudian terdengar jeritan ampun di suatu ruangan.
__ADS_1
Anak buahnya mengangguk patuh. Walau sempat merasa meringis ketika mendengar suara jeritan ampun. Mereka tentu tidak ingin nasibnya seperti mereka.
“Mungkin kita tidak akan melanjutkan misi di pernikahan mereka, karena pasti Zilya sudah memberitahu kepada yang lainnya terutama Zayn.“
“Carilah kelemahan mereka, atau buatlah agar perhatian mereka teralihkan. Sehingga kita dapat menjalankan misi ini dengan baik,“
“Ingat, aku adalah Darwin. Aku paling tidak suka mendengar kata maaf dan kata gagal!“ seru Darwin.
“Baik, Bos!“
“Ingat, misi ini harus berhasil! Aku tidak mau tahu bagaimanapun caranya! Mau kau seret dia atau buat dia pingsan ketika diculik, aku tidak mau tahu! Pokoknya dia harus diculik kemari. Mengerti!?“
“Mengerti, Bos!“ jawab anak buahnya dengan patuh. Mereka semua menundukkan kepalanya.
“Bagus jika kalian mengerti! Silakan pergi dan mulailah untuk memata-matai mereka! Ambillah kesempatan dalam kesempitan!“ pesan Darwin.
***
Di Hotel.
Acara resepsi pernikahan Zilya dan Zayn berlangsung dengan lancar dan menggunakan waktu hampir 7 jam. Anehnya, para tamu tidak ada satupun yang pamit pulang dan rela menunggu acara tersebut benar-benar selesai.
“Zilya. Mulai saat ini, kamu adalah tanggung jawabku. Jadi jika ada masalah apapun itu mau sekecil apapun, tolong beritahu aku.“ pinta Zayn dengan wajah serius.
“Apalagi setelah kejadian tadi. Beruntunglah kamu selamat, jika tidak mungkin kamu sudah bersama mereka sekarang,“ sambung Zayn.
“Baiklah, sayang. Aku akan berusaha menekan egoku,“ jawab Zilya.
“Iya, keras kepalamu itu tolong di lembutkan,“ sahut Zayn.
“Hais! Mana bisa begitu!?“ kesal Zilya sembari mengerutkan bibirnya.
“Haha! Aku hanya bercanda, istriku tersayang.“ jawab Zayn sembari mencubit gemas pipi chubby Zilya.
“Kamu tuh ya, buat aku gemas tahu gak,“
“Sudah, sudah. Zayn, antarkan istrimu kedalam kamar. Ia terlihat sangat lelah,“ perintah Sofi kepada Zayn.
“Iya, Ma.“ jawab Zayn, tanpa aba-aba ia langsung menggendong tubuh Zilya ala ala pengantin baru. So sweet.
__ADS_1
“Sayang! Malu tahu didepan Mama,“ bisik Zilya dengan pipi memerah. Namun hal itu tersamarkan oleh blush di pipinya.
“Gak papa dong! Mama juga pasti gak mempermasalahkannya. Kan, mama juga pernah di posisi kita. Pasti tahu lah kalau pengantin baru itu gimanaa,“ jelas Zayn.