Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 37 : MENGHILANG


__ADS_3

Restoran ini pengawasannya memang cukup ketat. Terutama pada ruangan VVIP. Tidak bisa sembarangan orang memasukinya.


Seseorang yang dibelakang gadis itu pun berniat membekap mulut si gadis. Tanpa disadari, Zayn berlari menuju ruangan VVIP.


“Maaf, Tuan. Ruangan ini dikhususkan untuk pelanggan VVIP kami. Setiap pelanggan VVIP kami, akan mempunyai kartu VVIP. Apakah Tuan memiliki Kartu VVIP?“ tanya Pelayan yang mengawasi diluar ruangan VVIP.


Biasanya para pelayan tidak akan peduli apa yang dibicarakan dalam ruangan VVIP. Sebab, ruangan VVIP ini dibuat, biasanya untuk seseorang yang ingin berbicara namun tidak diketahui siapapun.


“Ini,“ Tanpa basa-basi, Zayn langsung mengeluarkan Kartu VVIP miliknya. Pelayan yang menahan Zayn masuk itu terkejut dengan Kartu yang dimiliki oleh Zayn.


“Silakan masuk, Tuan,“ Para pelayan tersebut merasa segan dengan Zayn.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi, Zayn bergegas masuk. Manik matanya mencari seseorang yang tadinya berniat membekap seorang gadis yang tampaknya adalah seorang mahasiswa.


“Kemana orang tersebut?“ Zayn merasa kebingungan. Meneliti satu-persatu orang yang berada di ruangan VVIP tersebut, namun tidak ada satupun orang mencurigakan.


“Apa aku salah lihat?“ tanya Zayn pada dirinya sendiri. Lalu memutuskan kembali ke meja tempat ia makan. Pelayan yang mengawasi ruangan VVIP dari luar merasa heran dengan Zayn.

__ADS_1


“Ada apa dengan pria itu? Masuk dengan tergesa-gesa seolah ada masalah, lalu keluar seolah tanpa beban,“ heran Pelayan tersebut.


“Apa dia terburu-buru hingga lupa tempat duduknya tadi dimana?“ Pelayan tersebut berpikir keras.


“Lupakan! Lagipula urusannya bukan urusanku,“ ucap Pelayan tersebut.


***


Sementara di meja makan Zayn dan Mamanya.


Sedangkan Mamanya, melihat Zayn yang sedari tadi gelisah terus-menerus merasa bingung. Apalagi Zayn merasa gelisah setelah kembali. Pasti ada hal buruk terjadi.


“Ada apa, Nak?“ tanya Mana Zayn mencoba bertanya kepada anaknya. Barangkali anaknya dapat menjelaskan apa yang menjadi bahan gelisahnya itu.


Zayn tidak mampu menjawab. Lidahnya terasa kelu. Mama Zayn yang memahaminya pun tidak bertanya lagi, dan memilih melanjutkan makannya.


Zayn sendiri merasa tidak tenang. Keringat dingin membasahi pelipisnya itu. Rasa gelisah terus mendera dirinya. Dirinya sendiri bahkan tidak mengerti mengapa dirinya bisa merasakan gelisah. Gelisah karena apa pun tidak dimengerti oleh Zayn.

__ADS_1


Rasa gelisah itu semakin menjadi-jadi. Seolah hal buruk akan terjadi padanya.


“Apa kamu sakit, Nak?“ Mama Zayn memberikan sapu tangan kepada Zayn. Zayn terlihat basah kuyup seolah kepanasan. Padahal ruangan ini penuh dengan fasilitas pendingin ruangan.


“Tidak, Ma,“ jawab Zayn lirih. Ia menjadi tidak tenang. Sekali-kali melihat jam tangannya.


“Keringatmu terus mengalir. Jika tidak apa, lalu apa ini? Tubuhmu basah kuyup seolah habis bermain hujan-hujanan ataupun kepanasan. Padahal ruangan ini penuh dengan pendingin ruangan,“ ujar Mama Zayn.


“Zayn tidak tahu, Ma. Zayn baik-baik saja,“ jawab Zayn.


“Jelaskan pada Mama, Nak. Ada apa dengan dirimu? Mama tidak tenang jika kamu tidak menceritakannya,“ pinta Mama Zayn.


Zayn menghela napasnya dengan pelan. Bagaimana cara dirinya menjelaskan hal ini kepada Mamanya, jika dirinya sendiri tidak mengerti asal usul rasa gelisah ini?


Zayn bingung memuianya dari mana. Yang pada akhirnya, Zayn memutuskan menceritakan apa yang dirasakan olehnya saat ini kepada Beliau.


Mama Zayn terdiam mendengar penjelasan dari Zayn.

__ADS_1


__ADS_2