
***
Flashback pun berakhir.
Begitulah pertemuan mereka yang hanya seperkian detik. Beruntungnya mereka masih dapat saling menemui walau hanya seperkian detik. Waktu itu sangat berharga, walaupun hanya seperkian detik, mereka bisa merasakan seberapa besar rindu yang tertahan selama tidak bertemu.
Zilya bergegas menuju lokasi Dania pada saat itu juga.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya Zilya sampai di lokasi Dania saat itu. Ternyata yang dikatakan oleh Dania benar, penjagaan diluar sangatlah ketat. Bahkan para penjaga dengan penjaga lainnya hanya berjarak kurang lebih 5 meter. Sedangkan bangunan tua ini begitu luas. Pastilah penjaganya sangat banyak.
Zilya pun mulai menyusun strategi agar dirinya bisa masuk kedalam bangunan tua itu untuk membebaskan Dania.
__ADS_1
Zilya bahkan sama sekali tidak memedulikan ponselnya yang terus berdering. Lebih terkesan mengabaikan.
***
Sementara di dalam Gedung Tua tersebut.
Terlihat penjaga-penjaga yang mengawasi didalam Gedung Tua tersebut, masih tetap was-was dengan keadaan. Apalagi terhadap Dania. Khawatir apabila gadis tersebut tiba-tiba kabur sebelum atasan mereka datang ke Gedung Tua ini.
“Haduh, kapan Bos mau datang sih? Kenapa begitu lama!“ decak suruhannya tersebut sambil mengawasi keadaan. Perasaannya begitu kesal. Apalagi sang Bos yang tidak kunjung datang.
“Kau memang benar! Aku minta tolong kepada kau, untuk jaga gadis ini baik-baik saja sebentar. Aku ingin membuang air kecil di kamar mandi. Oke?“ sahut suruhannya tersebut.
__ADS_1
“Ok. Jangan terlalu lama ya. Aku takutnya tidak bisa menjaga gadis ini sendirian dengan lama,“ jawab temannya.
“Kalau kau takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lebih baik, kau panggil saja salah satu penjaga diluar untuk menemanimu. Aku juga khawatir takutnya kau malah dipukul sama si gadis itu. Apalagi kau kan gak punya ilmu bela diri!“ ucap suruhan tersebut seolah sedang menyindir temannya.
Ya, memang benar. Temannya itu tidak mempunyai ilmu bela diri. Bahkan jika diajak untuk berperang ataupun baku hantam, pastikan pria itu mundur duluan. Ibarat menyerah sebelum berperang.
Bukan tidak pernah diajari. Temannya itu sendiri yang tidak mau. Dia sendiri pernah mengajak temannya untuk berlatih bela diri. Namun, temannya itu keras kepala, dan memilih menolak dengan alasan sakit. Padahal keadaan temannya saat itu baik-baik saja.
“Hehe. Kenapa kau jadi membahas tentang aku sih? Sudahlah, lebih baik kau cepat pergi kamar mandi untuk segera menuntaskan nya. Daripada kau malah mengompol disini. Apa kau mau diberitakan dengan hal memalukan seperti ini?“ ucap temannya dengan nada kesal. Tentang dirinya selalu diungkit-ungkit oleh temannya itu.
“Haha, baik baiklah. Aku akan segera menuntaskannya. Berhati-hatilah, kawan,“ ucap suruhan tersebut sambil cekikikan kecil. Lalu, bergegas berlari sebelum kena cubit.
__ADS_1
“Ih, bikin kesal aja itu anak!“ gerutu temannya.
Tanpa disadari oleh Penjaga tersebut, Dania diam-diam sudah berhasil membebaskan diri. Ia berniat menyusun strategi untuk melarikan diri dari Gedung Tua tersebut. Penjaga annya begitu ketat diluar. Sepertinya dia harus mencari cara lain agar bisa melarikan diri dari Gedung tersebut tanpa diketahui oleh Penjaga-penjaga tersebut atau ibaratnya tidak ketahuan.