
“Kita ke Rumah Sakit sekarang, Bram!“
“Baik, Tuan.“ Meskipun bingung dengan keadaan, namun setelah melihat Zilya pingsan, pikirannya langsung dapat mencerna apa yang baru saja terjadi.
Mobil mewah tersebut pun meninggalkan markas Evan secara perlahan.
***
Sesampainya mereka di Rumah Sakit, Zayn menggendong Zilya sambil berjalan cepat. Sebelum mereka sampai, Bram sudah menelepon pihak Rumah Sakit apabila mereka akan segera ke sana.
Zayn disambut oleh para Dokter dan juga para Suster. Zilya diletakkan di brankar pasien dan langsung didorong ke dalam ruang pemeriksaan.
Zayn berjalan mondar-mandir di depan ruangan tersebut. Membuat pasien lainnya merasa risih, namun tidak berani menunjukkannya karena Zayn adalah salah satu donatur di Rumah Sakit tersebut.
Dania dan Bram hanya duduk sambil menunggu. Bukannya tidak khawatir, namun tenang adalah solusi dibalik kekhawatiran.
“Tuan Zayn, bisakah anda duduk tenang sebentar? Jika anda seperti ini terus, maka pasien lainnya akan merasa risih dengan Anda, Tuan Zayn,“ seru Dania membuat Zayn terdiam mencerna demi kata yang diucapkan Dania.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Zayn langsung duduk. Namun, ia juga masih tidak tenang. Berkali-kali ia mengigit kukunya.
Dania pun hanya pasrah melihat Zayn seperti itu. Dalam hati, ia berdoa agar saudari kembarnya baik-baik saja.
Sedangkan Bram, ia mengambil ponsel lalu mengabari seseorang bahwa Zayn sedang berada di Rumah Sakit.
Ponsel Bram tiba-tiba berdering. Sontak Bram berdiri dan memutuskan untuk keluar dari Rumah Sakit sebentar.
Dania pun tidak mengerti mengapa Bram tiba-tiba saja keluar. Namun dalam hati, ia juga tidak peduli.
“Dengan siapa atas pasien Nona Zilya?“ seru Dokter yang tiba-tiba keluar dari ruangan pemeriksaan Zilya. Dania dan Zayn berdiri.
“Saya temannya, Dok.“
“Saya saudari kembarnya, Dok.“
Dokter tersebut pun hanya tersenyum.
“Baik, kalian berdua, mari ikut saya ke ruangan. Saya akan menjelaskan tentang kondisi Nona Zilya kepada kalian,“ ajak Dokter tersebut lalu berjalan lebih dulu. Dania dan Zayn pun hanya mengikuti Dokter tersebut karena tidak mengetahui ruangan Dokter tersebut.
“Silakan duduk.“
__ADS_1
Suasana menjadi tegang.
“Baiklah, akan saya jelaskan kondisi Nona Zilya.“
“Hasil pemeriksaan, Nona Zilya tidak terluka parah. Ia hanya mengalami luka lecet di bagian siku dan lutut,“
“Nona Zilya pingsan karena sering melewatkan makan siangnya. Saya sarankan, untuk memberitahu Nona Zilya agar jangan pernah melewatkan waktu makannya. Karena jika ini kembali terulang, maka akibatnya fatal,“
“Saya sudah meresepkan vitamin. Jangan lupa mengingatkannya untuk meminum vitamin tersebut rutin ya. Dan juga obat untuk lukanya juga akan saya berikan nanti sekalian,” jelas Dokter tersebut panjang lebar.
“Baik, Dok.“ jawab Zayn dan Dania. Dokter tersebut hanya menganggukkan kepalanya.
“Dok, apa Zilya perlu dirawat?“
“Tidak. Nona Zilya sudah boleh pulang apabila cairan infusnya sudah habis ya,“ jawab Dokter.
“Baik, Dok. Terima kasih ya, Dok.“
“Sama-sama. Apakah ada pertanyaan lain?“ Dania dan Zayn menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
***
Di dalam ruangan Zilya.
“Apakah aku di Rumah Sakit?“ Zilya langsung dapat menebaknya.
“Tok! Tok! Tok!“ Terdengar suara ketukan pintu, membuat perhatian Zilya teralihkan,
“Akhirnya kamu sadar juga, Zil.“ ucap Dania sambil mendekati saudari kembarnya lalu memeluknya.
“Di mana Zayn?“ tanya Zilya membuat Dania tersenyum.
“Zayn pergi membelikanmu makanan.“ Mendengar itu, membuat Zilya memerah, ia merasakan pipinya memanas.
“Aku tidak menyangka, Zil. Jika aku itu sebenarnya memiliki saudari kembar, yaitu kamu,” ucap Dania sedih. Karena ia baru mengetahui kebenaran ini sekarang.
“Sama, Nia. Aku juga tidak pernah menyangkanya,”
Mereka pun kembali berpelukan.
__ADS_1
Untuk mengisi waktu berdua mereka, mereka saling bertukar cerita yang mereka alami selama ini. Cerita sedih, cerita komedi, cerita bahagia, semuanya lengkap diceritakan. Hanya tinggal membuat sebuah buku dan memindahkannya.
Keduanya sama-sama sedih dengan cerita yang mereka ceritakan. Namun, hal tersebut sudah berlalu, yang seharusnya dibiarkan berlalu. Dan kini, mereka memutuskan untuk membuka lembaran baru.
***
Di sisi lain.
“Bagaimana bisa Zayn di Rumah Sakit? Saya kan sudah menugaskan kepadamu untuk menjaganya baik-baik!“ Terdengar suara seorang pria yang tengah melampiaskan amarahnya dengan penelepon.
“Maaf Tuan Arya. Sebenarnya Zayn tidak---“ Belum lagi Bram melanjutkan ucapannya, panggilan telepon langsung dimatikan. Membuat Bram berdecak kesal.
“Haduh, kesalahpahaman lagi kesalahpahaman lagi. Tidak ayah tidak anak sama saja,“ Bram menghentakkan kakinya kesal.
Bram menunggu di lobi Rumah Sakit.
Tidak lama kemudian, Arya bersama istrinya datang. Bram pun menyambutnya dengan hormat.
“Di mana ruang rawat Zayn?“ tanya Arya tanpa basa-basi. Tidak lupa dengan tatapan tajam yang dilemparkan kepada Bram.
“Tuan Arya, maaf telah membuat kesalahpahaman tadi. Sebenarnya yang dirawat itu bukan Zayn tetapi---“ Lagi-lagi, ucapan Zayn dipotong.
“Siapa kalau bukan Zayn? Jelaskan itu jangan berbelit-belit!“ Arya mengoceh tanpa sadar diri.
“Haduh, Tuan Arya. Bagaimana saya bisa menjelaskan tanpa berbelit-belit jika anda saja sudah memotong ucapan saya sebelum mendengar apa yang ingin saya katakan,“ lirih Bram dalam hatinya.
Tiba-tiba saja hal tidak terduga, Zayn tiba-tiba datang sambil membawa makanan yang baru saja dibeli.
“Mama? Papa? Kenapa kalian bisa disini?“
Sontak semuanya menoleh kearah sumber suara.
...***...
Bersambung... 🤭🤭
Selama beberapa hari, Author akan crazy update ya, untuk melengkapi yang bolong-bolong kemarin, hehe🤭🤭
Tapi Author gak bisa janji, minggu depannya tetap crazy update kayak begini ya✌
__ADS_1
setiap absen, akan Author coba lengkapin ya
Terimakasih ✌