
“Zilya,“ Sontak, Zilya menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya itu. Melihat wajah mahasiswa yang memanggil namanya, wajah Zilya memperlihatkan raut terkejutnya.
“Daffa?“ Masihkah kalian mengingat dengan Daffa?
“Panggil Zayn, Zil,“ pinta mahasiswa yang memanggil Zilya tadi. Ternyata mahasiswa itu ialah Daffa.
“Ada apaa, Zayn?“ tanya Zilya memanggil Daffa dengan sebutan Zayn.
Nama lengkap Daffa adalah Zayn Daffa. Terkadang dia dipanggil Daffa, namun lebih sering dipanggol Zayn. Sejauh ini, orang-orang sering memanggilnya dengan Daffa. Entah kenapa, Daffa ingin Zilya memanggilnya dengan Zayn. Adakah sesuatu dibalik nama Zayn?
“Kamu sedang apa?“ Zayn ataupun Daffa ini, apakah dia tidak bisa melihat? Zilya ini sudah jelas-jelas sedang membaca. Malah mahasiswa itu bertanya, Zilya sedang apa.
“Baca buku,“ jawab Zilya singkat. Dalam hati, ia kesal dengan Daffa. Sudah jelas dirinya sedang membaca buku, malah ditanya lagi sedang apa. Sebenarnya apa mau Zayn?
“Boleh gabung?“ Akhirnya, Daffa mengutarakan niatnya jika dirinya ingin bergabung bersama Zilya membaca buku.
Zilya membalas dengan anggukan kepala. Lalu kembali fokus dengan bacaan.
Daffa pun mengambil buku pelajaran yang sama dengan buku Zilya. Lalu duduk di sebelah Zilya. Dan mulai membaca buku.
Beberapa menit kemudian.
“Eh, Zil, Zil,“ panggil Daffa.
__ADS_1
“Iyaa, Zayn?“ sahut Zilya tanpa menoleh sedikitpun kearah Daffa. Dirinya benar-benar ingin serius untuk saat ini. Apalagi sebentar lagi, masa pendidikan tingginya akan berakhir. Dan dirinya sedang mengejar nilai tertinggi agar memudahkan dirinya nanti di masa depan.
“Boleh tolong ajarkan bagian ini? Aku sungguh tidak mengerti,“ pinta Zayn sambil menunjuk bagian materi yang tidak dipahamu olehnya. Padahal materi tersebut benar-benar mudah, dan Zayn sangat memahami isi materi tersebut. Sebenarnya apa yang Zayn inginkan?
“Ini?“ Zilya tidak percaya dan menoleh kearah Zayn. Seorang Zayn Daffa memintanya untuk mengajari materi ini dan bahkan mengatakan dirinya tidak memahami?
“Iya, Zil,“ jawab Zayn dengan santainya. Tidak mengetahui jika gadis duduk disebelahnya sedang terkejut dengan permintaan dia.
“Em, baik, baiklah,“ Zilya menyetujui untuk mengajari Zayn tentang materi tersebut. Menyampingkan egonya terlebih dahulu.
Dengan lembut, Zilya mengajari Zayn. Zayn pun fokus dengan apa yang diajarkan oleh Zilya. Zilya terlihat seperti seorang guru yang sedang mengajari anak muridnya.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya, Zayn pun mengerti tentang materi tersebut.
“Sama-sama, Daf,“ jawab Zilya.
“Zayn, Zil. Zayn!“
“Nggakk, maunya panggil Daffa. Daffa enak dipanggil, kalau Zayn kurang cocok,“ tolak Zilya. Dia lebih nyaman memanggil Zayn dengan sebutan Daffa.
“Zayn, titik!“ Zayn pun mulai memaksa.
“Kenapa sih, Zayn? Orang-orang memanggilmu dengan sebutan Daffa, dan bahkan diantara mereka ingin memanggilmu dengan sebutan Zayn, namun kamu menolaknya. Sebenarnya ada apa, Zayn?“ Zilya menyampingkan egonya terlebih dahulu. Menyelesaikan sebuah masalah harus dengan kepala dingin.
__ADS_1
Zayn tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Ia sebenarnya juga tidak mengerti, mengapa dirinya ingin Zilya memanggilnya dengan sebutan Zayn. Bahkan tidak ingin orang-orang selain Zilya memanggilnya dengan sebutan Zayn. Hanya ingin Zilya.
Sebenarnya ada apa dengan hatinya? Apakah dirinya memiliki perasaan dengan Zilya? Zayn benar-benar tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya! Bisakah kalian memberitahu kepada, Zayn yang sesungguhnya apa yang terjadi?
Zayn melangkah kakinya pergi. Perlahan langkahnya menuju luar kelas, menuju kamar mandi. Sambil berpikir, sebenarnya ada apa dengan dirinya?
Sesampainya di kamar mandi, ia pun membasuh wajahnya dengan air keran. Mengambil sapu tangan yang selalu dibawa kapan saja.
“Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Apakah aku jatuh cinta dengan sosok bernama Zilya?“ Zayn menatap dirinya di depan cermin.
“Tidak, tidak mungkin aku mencintainya,“ Zayn kembali dengan egonya. Menyakinkan diri bahwa dirinya tidak mencintai sosok Zilya.
Namun, dirinya kembali terbayang dengan sosok Zilya yang tersenyum manis. Zilya seolah sedang bersamanya, lalu melemparkan senyuman termanisnya itu.
“Tidak! Aku tidak mencintainya!“ Zayn masih tetap di pendiriannya.
Zayn menyimpan kembali sapu tangan yang dikeluarkannya tadi. Berniat memasukkannya kembali dalam tas. Namun, tiba-tiba saja sebuah foto terjatuh. Foto itu basah akibat terkena air keran yang masih mengalir.
“Dania?“ Zayn mengambil foto yang sudah terlanjur basah itu.
“Dania? Kapan kamu kembali? Aku merindukanmu,“ Zayn mengucapkannya sambil tersenyum getir. Tidak bisa ditulis bagaimana perasaannya dengan sosok yang diketahui bernama Dania. Namun, hingga saat ini, sosok itu tidak pernah kembali.
***
__ADS_1
Sebenarnya siapa sosok Dania itu? Bisakah kalian menebaknya? Ada apa dengan sosok bernama Dania dengan Zayn?