
“Gak papa dong! Mama juga pasti gak mempermasalahkannya. Kan, mama juga pernah di posisi kita. Pasti tahu lah kalau pengantin baru itu gimanaa,“ jelas Zayn.
“Yaa, tapi tetap saja aku merasa malu,“ cicit Zilya.
“Sudah, tidak apa,“ Zayn mendudukkan Zilya dengan lembut diatas ranjang.
“Mengapa tubuhmu terasa ringan sekali?“ tanya Zayn dengan heran.
“Ringan?“ Zilya juga merasa bingung. Padahal ia merasa akhir-akhir ini ia lebih banyak makan daripada hari-hari sebelumnya. Lalu mengapa pria dihadapannya saat ini yang telah berstatus suaminya mengatakan ia sangat ringan?
“Apa berat badanmu hanya mencapai 40 kilogram?“ tanya Zayn.
“Sekitar 42 kilogram sih,“ jawab Zilya sembari mengingat-ingat kembali. Ia juga sudah lama tidak menimbang berat badannya.
“Hah! Yang benar saja, sayang? 42 kilogram? Itu sangat ringan!“ seru Zayn dengan wajah tidak percaya.
“Bukankah saat ditangkapnya Evan, berat badanmu sedikit agak berat?“
“Apakah kamu melakukan semacam program diet, sayang? Atau apa?“ sambung Zayn dengan penasaran.
“Hem, itu terakhir kalinya aku menimbangnya. Jika sekarang, mungkin sudah naik ke 44 atau 45 kilogram,“ jelas Zilya.
“Aku juga tidak mengikuti program diet,“ sambung Zilya lalu sejenak berpikir.
“Mungkin berat badanku menurun karena aku sering begadang semenjak di Singapura. Kamu tahulah, aku sibuk mengerjakan pekerjaanku sebagai penulis. Apalagi aku harus lebih memutar otak untuk mengeluarkan ide-ide agar pembaca senang membacanya. Dan ya, memang semenjak di Singapura, waktu tidurku semakin berkurang, yang awalnya 6-8 jam menjadi 3-4 jam saja,“ jelas Zilya panjang lebar.
Zilya memiliki tinggi badan sekitar 155 centimeter, dengan berat badan sekitaran 43 kilogram. Jika dikategorikan berat badan Zilya saat ini bisa dikatakan ideal.
“Tidak, kamu itu kurus sekali. Mulai sekarang, kamu harus makan lebih banyak lagi. Kasihan tubuhmu jika kamu selalu makan sedikit,“ nasehat Zayn.
“Dan mulai sekarang juga, aku akan mengontrolmu. Mulai sekarang, pukul 9 malam, kamu sudah harus tidur. Kasihanilah tubuhmu sayang jika dibawa lelah terus-menerus untuk bekerja. Biarkanlah sementara kamu tidak overworked dulu, misalnya kemarin-kemarin bekerja 12 jam sekarang jadi 8 jam,“ sambung Zayn sembari memeluk istrinya.
“Aku tidak ingin kamu kelelahan, sayang,“ bisiknya dengan lembut.
“Ayo, aku bantu bersihin tubuhmu. Setelah itu kita tidur,“ ajak Zayn sembari menggendong tubuh Zilya ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan tubuh, pasangan pengantin baru itu langsung tertidur ketika sudah berbaring di ranjang.
Bisa dikatakan hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Ditambah hari-hari sebelumnya, mereka harus dengan cepat menyiapkan segalanya. Lalu, hari ini mereka harus menghadapi tamu yang belasan ribu.
Ditambah merekalah peran utamanya dalam acara resepsi pernikahan tadi. Tentu semakin banyak yang harus dilakukan.
__ADS_1
***
Keesokan harinya pun tiba.
Zilya yang sudah bangun lebih awal hanya bisa menatap wajah suaminya. Ia tidak bisa beranjak dari posisinya karena Zayn memeluk tubuhnya sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya.
“Hidungnya mancung,“ gumam Zilya sembari menyentuh hidung Zayn.
“Kenapa dia menjadi menggemaskan seperti ini? Aku tidak bisa menahannya,“ monolog Zilya sembari mencubit pelan pipi suaminya.
“Erghh,“ Terdengar suara dari suaminya. Membuat Zilya seketika panik dan kembali memejamkan matanya berpura-pura kembali tidur.
“Astaga! Semoga saja dia tidak menyadari apa yang aku lakukan barusan! Sangat memalukan jika dia bertanya!“ ucap Zilya dalam hati.
“Ergh, sayang. Tadi kamu yang menjahiliku ya,“ ucap Zayn dalam hati.
Sebenarnya Zayn sudah bangun lebih awal daripada Zilya. Hanya saja ia ingin lebih lama memeluk tubuh istrinya.
Zayn mengecup seluruh wajah Zilya membuat gadis itu merasa geli.
“Hahaha, sayang! Ayo bangun! Aku sudah tahu jika kamu bangun tadi!“ Masih tetap melanjutkan aksinya.
“Sayang! Hentikan! Sangat geli rasanya,“ seru Zilya sembari membuka kedua matanya.
“Oh ya? Kemana?“ tanya Zilya dengan penasaran.
“Ada deh, nanti kamu akan tahu setelah sampai,“ jawab Zayn lalu tanpa aba-aba menggendong tubuh istrinya ke dalam kamar mandi.
Mereka pun mandi bersama. Tapi, masih belum melakukan anu anu yaa.
***
Waktu yang ditunggu telah tiba. Yaitu pukul 12 siang. Zilya dan Zayn berangkat ke Bandara.
“Hati-hati, sahabatku! Jika sudah sampai, kabarin ya!“ seru Mei sembari memeluk tubuh sahabatnya dengan erat. Ia tidak menyangka waktu akan berjalan secepat ini. Sahabatnya sudah menikah. Tinggal dirinya yang belum menceritakan pasangan hidup.
“Baik, Mei! Ayo cari pasanganmu, supaya bisa sama-sama hamil nanti!“ bisik Zilya membuat Mei membulatkan matanya.
“Tidaklah, aku hanya bercanda.“ ucap Zilya sembari tersenyum cengir.
Sementara itu.
__ADS_1
“Bram! Untuk sementara selama aku tidak di Kota Jakarta, tolong handle segala urusan di Perusahaan ya. Dan ingat, sekarang tugasmu bertambah,“ seru Zayn.
“Apa itu?“ Bram masih belum mengerti dengan kode yang diberikan atasannya.
“Menjaga gadis yang telah menempati hatimu saat ini,“ jawab Zayn sembari menepuk bahu asistennya.
“Apa!? Bagaimana bisa Tuan tahu?“ jawab Bram dengan ekspresi terkejut.
“Tentu saja aku tahu. Jangan lupakan bahwa aku ini adalah Zayn Daffa,“ seru Zayn.
“Ya … ya,“ jawab Bram dengan pasrah. Walau otaknya saat ini tengah berpikir. Dari mana atasannya tahu bahwa ia telah mendapatkan gadis yang sudah menempati hatinya saat ini. Apakah Nona Zilya memberitahunya?
“Ingat! Jangan lukai sahabat istriku sedikitpun. Jika sekali saja kamu membuat istriku menangis, aku pastikan kau tidak akan bisa melihat matahari terbit lagi!“ ancam Zayn membuat Bram meneguk salivanya dengan sulit. Atasannya itu memang lebih cocok menjadi bos nadia mengingat setiap ancaman yang diberikan selalu mengerikan.
“Ba-baik, Tuan!“ sahut Bram.
“Aku percaya denganmu. Aku pergi dulu. Semangat, bro!“ ucap Zayn menyemangati asistennya lalu merangkul tubuh istrinya.
“Ayo, sayang!“ ajak Zayn.
“Mei, aku pergi duluan ya! Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada,“ pamit Zilya.
“Kamu juga, Zil.“ jawab Mei sembari mengelap air matanya.
“Jaga Zilya dengan baik ya, Daf.“ pesan Mei kepada Zayn.
“Tentu saja aku akan menjaganya dengan baik. Karena Zilya telah menjadi istriku saat ini,“ sahut Zayn.
“Aku percaya denganmu, Daf. Sampai jumpa!“ ucap Mei saat Zayn dan Zilya sudah perlahan masuk ke dalam pesawat. Zilya dan Mei saling melambaikan tangan walau tahu tidak akan terlihat secara langsung.
Pesawat yang dinaiki Zilya dan Zayn sudah lepas landas. Mereka menaiki pesawat pribadi milik Zayn. Tentu segala keberangkatan kali ini, semua biayanya ditanggung oleh suami Zilya yaitu Zayn.
“Tidurlah jika kamu merasa lelah,“ seru Zayn seolah tahu istrinya ingin tidur.
Zayn pun mengatur kursi Zilya sehingga kursi itu tampak bersandar.
“Apakah kamu merasa nyaman, sayang?“ tanya Zayn.
“Tentu saja. Terima kasih atas perhatiannya, suamiku. Aku mencintaimu,“ jawab Zilya.
“Aku mencintaimu juga,“ sahut Zayn setelah mengatur kursinya seperti Zilya juga.
__ADS_1
Zilya mulai memejamkan kedua matanya. Sedangkan Zayn asik menatap wajah cantik istrinya.