
“Oh ya, Pa. Tadi Mama nggak sengaja kedengaran dari luar. Menantu? Papa punya menantu dari siapa?“ Sofi melemparkan tatapan tajam kepada suaminya. Arya hanya mampu meneguk air liurnya dengan susah payah. Ia tidak menyangka, bahwa istrinya memiliki pendengaran yang sangat tajam.
“I-Itu, Ma.” Arya yang terkenal dingin dan cuek di kalangan masyarakat, ketika bersama istrinya, ia terlihat berbeda dari yang dikatakan kalangan masyarakat.
“Jelaskan kepada Mama, Pa! Apa Papa punya wanita lain di luar?“ Sofi yang terkenal dengan tutur katanya yang baik, ternyata bisa marah juga.
Arya memutuskan menjelaskan semua rencananya kepada sang istri.
“Jadi begitu ya, Pa …“ Sofi mengangguk mengerti.
“Iya, Ma. Oh ya, Ma … Dari kemarin, Papa lupa terus untuk bertanya sama Mama. Sebenarnya … Mama bisa kenal Zilya sama siapa? Apa Zilya merupakan salah satu teman kerja bisnis Mama?“ Akhirnya, Arya mengeluarkan pertanyaan yang selama ini ada di benaknya.
Sofi tersenyum penuh arti, lalu mulai menceritakan semuanya dari awal ia mengenal Zilya.
“Oh, jadi Zilya itu yang waktu itu pernah Mama ceritain ke Papa, ya?“ Sofi mengangguk.
“Papa nggak nyangka ya. Ternyata dia hebat juga,“
“Lalu, apa Papa yakin jika mereka memiliki perasaan cinta satu sama lain? Bagaimana jika ternyata rencana Papa justru membuat mereka saling memusuhi satu sama lain?” Kata-kata Sofi membuat Arya terdiam sejenak.
“Papa yakin kok, Ma … Mereka memiliki rasa suka satu sama lain. Hanya saja mereka gengsi mengakuinya atau mungkin mereka tidak mengetahui perasaan mereka sendiri,“ Melihat suaminya yang begitu teguh dengan pendiriannya, Sofi mengangguk setuju.
“Apapun yang Papa lakukan, asalkan itu baik untuk mereka berdua, Mama setuju aja,“
__ADS_1
***
Di sisi lain, terlihat seorang gadis tengah memasukkan pakaiannya kedalam koper.
“Baiklah, untuk sementara mau tak mau aku harus pergi meninggalkan Kota ini,” gumam Zilya.
Usai memasukkan pakaian-pakaiannya serta barang-barang miliknya ke dalam koper, ia segera menuliskan sebuah surat dan meninggalkannya diatas meja.
“Sampai jumpa, Kontrakanku,“ Zilya memandangi isi Kontrakannya dengan sedih. Dan mulai menarik kopernya keluar.
Zilya langsung masuk ke dalam mobil taksi yang ia pesan. Sekali-kali, ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat Kontrakannya yang akan ia tinggalkan.
Sesampainya Zilya di Bandara, ia segera mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna hijau dan menyerahkannya kepada Pak Sopir.
“Terima kasih, Non,“
Zilya langsung menaiki pesawat dengan tujuan yang dituju nya setelah membeli tiket.
“Untuk kedua kalinya, aku terpaksa mengalah lagi demi semuanya. Maafkan aku, diriku. Suatu hari nanti, aku akan kembali untuk membalasmu,“
***
Beberapa bulan kemudian ...
__ADS_1
Di sisi lain.
“Sabar ya, Nak. Sebentar lagi, Papa akan mengeluarkanmu dari sini,“ Hal tersebut membuat wajah sang anak berbinar-binar.
“Benarkah, Pa? Papa tidak sedang membuatku terbang diatas lalu Papa menjatuhkanku?“ tanya Naomi dengan mata menatap Papanya. Selama ia berada di Penjara, Papanya selalu memberikan dirinya berupa janji akan segera membebaskan dirinya dari sana, namun hingga saat ini, Papanya masih belum membebaskan dirinya
“Tidak, Nak. Kali ini, Papa akan segera membebaskanmu,”
“Mana buktinya, Pa! Naomi butuh janji yang beneran! Bukan janji seperti ini!“
“Kamu itu ya! Papa sudah sulit mengurus surat ini itu untuk membebaskan kamu, tapi sikap kamu ke Papa seperti ini ya!” Nada Gavin naik disertai dengan mata merah menahan amarah yang sebentar lagi akan memuncak.
“Sebenarnya aku tidak ingin seperti ini, Pa! Tapi Papa yang selalu memberikan janji seperti ini! Aku juga butuh kepastian, Pa! Bukan hanya janji semata saja!“ Nada Naomi juga tidak kalah dengan ayahnya.
Tampak Gavin langsung berlalu tanpa pamit pada putrinya. Ia menarik napas panjang berkali-kali untuk menghilangkan rasa amarahnya.
Setelah keluar dari Kantor Polisi, ia masuk kedalam mobilnya lalu membawanya dengan kecepatan tinggi.
Entah lupa atau pura-pura lupa, Gavin melupakan istrinya yang berada di Kantor Polisi.
Iya, Veni juga ikut bersamanya tadi. Hanya saja, Gavin masuk lebih dahulu karena Veni yang tidak tahan ingin ke Toilet. Namun saat masuk, ia malah dikejutkan dengan Gavin yang sudah berlalu.
“Ma, sebaiknya Mama tinggalkan Naomi dulu deh. Naomi mau menjernihkan pikiran Naomi!“ usir Naomi dengan terang-terangan.
__ADS_1
“Tapi---?“ Belum lagi Veni melanjutkan perkataannya, Naomi sudah pergi meninggalkannya.
Veni hanya bisa menatap Naomi yang perlahan pergi.