Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 42 : MENGETIK


__ADS_3

Tiba-tiba disaat suasana tegang seperti ini, terdengar pula suara notifikasi yang berbunyi di ponsel Mei. Mei yang mengira Zilya membalas pesannya pun segera membuka ponselnya.


’Hai, Mei’


’Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir tentang keadaanku’


Hal tersebut membuat Mei sontak membulatkan matanya membaca pesan tersebut. Zayn dan ibu-ibu paruh baya itu merasa bingung dengan perubahan ekspresi yang ditunjukkan oleh Mei.


“Ada apa, Mei?“ tanya Zayn.


“Lihat ini, Daf! Zilya membalas pesanku tadi!“ seru Mei sambil menunjukkan ponselnya.


“Baiklah, Nak. Ibu masuk duluan ya, ada dedek yang harus dijaga 24 jam,“ pamit ibu paruh baya itu dengan sopan.


“Iya, Bu. Maaf jika tadi mengganggu Ibu,“ jawab Mei dengan sopan juga.


“Tidak masalah, Nak,“ sahut Ibu paruh baya itu lalu kembali masuk kedalam kontrakannya.


Setelah Ibu paruh baya itu masuk, Mei dan Zayn memutuskan masuk kedalam kontrakan Zilya sambil membaca pesan yang dikirimkan oleh Zilya.

__ADS_1


Mereka merasa tidak enak apabila berdiri terus didepan pintu kontrakan Zilya. Tidak enak pada tetangga yang tampaknya risih dengan kedatangan mereka yang mengganggu.


“Apakah pesanmu tadi juga dibalas oleh Zilya?“ tanya Mei setelah keduanya masuk kedalam kontrakan Zilya.


Kontrakan Zilya ini tidak begitu mewah, tidak begitu tampak biasa saja. Bisa dikatakan pula, desain kontrakan Zilya ini tampak sederhana. Meskipun begitu sederhana, fasilitas-fasilitas lengkap disediakan.


“Aku belum memeriksanya,“ jawab Zayn.


“Apa Zilya masih online?“ tanya Zayn kembali membahas yang bersangkutan tentang Zilya.


“Masih, Daf. Apa kamu ingin menitip pesan kepada Zilya?“ sahut Mei.


Zayn hanya menanggapi ucapan Mei dengan anggukan kepala.


“Coba tanyakan, di mana keberadaan dia sekarang?“ ucap Zayn.


“Baik,“ jawab Mei sambil mengklik keyboard di layar ponselnya dengan lincah. Jari-jarinya terlihat lincah dalam mengetik. Sepertinya Mei begitu sering mengirimkan pesan kepada teman atau kerabatnya, sehingga Mei terbiasa mengetik dengan cepat.


“Sudah,“ ucap Mei sambil menunjukkan ponselnya. Dimana dirinya sudah mengirimkan sebuah pesan yang berisi sesuai dengan permintaan Zayn tadi.

__ADS_1


“Zilya sudah membacanya?“ tanya Zayn.


“Sudah, bahkan sekarang dia sedang mengetik,“ jawab Mei membuat Zayn tidak sabar melihat isi pesan yang dikirimkan oleh Zilya.


Satu menit. Dua menit berlalu.


Status Zilya masih saja online, dan juga masih mengetik. Tidak tahu Zilya mengetik apa, yang jelas, Zilya begitu lama mengetik.


“Zilya sudah membalasnya?“ tanya Zayn ketika suara sering notifikasi pinsel Mei berbunyi.


“Belum,” jawab Mei dengan wajah lesu. Sambil menatap layar ponselnya.


“Kenapa lama sekali? Bukankah biasanya Zilya lihai dalam mengetik?“ heran Zayn.


“Aku juga tidak tahu, Daf. Mungkin Zilya mengetik begitu panjang hingga memakan waktu cukup banyak,“ sahut Mei pengertian.


“Iya aku tahu, Mei. Tapi ini memakan hampir 10 menit. Dan 10 menit itulah kita menunggu. Memangnya seberapa panjang pesan yang ingin dikirimkan Zilya sampai kita harus menunggunya selama ini?“ protes Zayn.


Zayn sudah tidak begitu sabaran. Menunggu bukanlah salah satu kebiasaannya. Zayn lebih sering ditunggu daripada menunggu. Oleh sebab itulah mengapa saat menunggu pesan yang akan dikirimkan oleh Zilya, ia terlihat tidak begitu sabar.

__ADS_1


“Aku juga tidak tahu, Daf! Sabarlah menunggu!“ Mei kesal saat Zayn terus menanyakan apakah Zilya sudah membalasnya atau belum. Sedangkan dirinya menunggu sudah merasa bosan, apalagi dicecar dengan pertanyaan yang sama berulang kali, membuat kepalanya ingin pecah saja.


Tiba-tiba saja, terdengar suara sering notifikasi Mei. Sontak keduanya menoleh kearah ponsel Mei yang tergeletak diatas meja. Perasaan tak menentu. Seolah ada sesuatu buruk akan datang.


__ADS_2