
“Sayang juga pada suaminya. Baru saja menikah beberapa jam, istrinya sudah keburu mat*!“ Darwin tertawa keras.
***
Acara masih berlangsung dengan lancar.
“Baiklah, hadiah selanjutnya adalah berupa uang sebanyak 1 miliar,“ seru MC yang mendapatkan sorakan dari para tamu.
“Gila! Gak main-main hadiahnya!“ ucap salah satu tamu.
“Iya, namanya juga Sultan. Mau kasih doorprize berapa pun juga bebas. Toh, uangnya juga tidak akan habis!“ seru temannya.
“Dapat iPhone keluaran terbaru saja aku sudah bersyukur banget. Gak berharap banyak-banyak sih,“ seru temannya yang lain yang tadi mendapatkan HP iPhone keluaran terbaru.
“Iya ya. Dari 10ribuan tamu gini, kamu beruntung banget bisa dapatin itu hp! Lah aku, daritadi cuma masih bisa berharap aja dapat! Daritadi selisihnya satu mulu!“ kesal temannya yang lain.
Di Panggung.
“Kami persilakan kepada Nona Zilya Daisha untuk mengambil nomor undiannya diatas panggung,“ seru MC.
Zilya pun naik keatas panggung dan mulai mengambil salah satu gulungan kertas. Para tamu mulai merasa gugup dan berharap bisa mendapatkan hadiah 1 miliar ini.
“Nomor undian 01668! Kami persilakan kepada pemilik nomor undian 01668 untuk naik keatas panggung!“ seru MC.
“Dalam hitungan ke-3, jika tidak segera naik keatas panggung, maka hadiahnya kami anggap hangus!“
“Tidak mungkin hadiah kali ini hangus. Hadiahnya saja sampai 1 miliar,“ celetuk Zilya.
Zilya pun memutuskan untuk turun dari panggung. Tiba-tiba ia merasa ingin buang air kecil, sehingga ia segera pergi ke Toilet.
“Mau ke mana, Zil?“ tanya Mei yang tadinya asik ngobrol dengan Bram.
“Mau ke toilet.“ jawab Zilya.
“Mau aku temani ga? Buat bantu angkatan gaunnya?“ ujar Mei menawarkan diri.
“Tidak perlu, Mei. Aku bisa kok. Gaunnya ga begitu berat,“ tolak Zilya dengan halus.
“Yang bener?!“ tanya Mei sekali lagi.
“Iya bener kok. Aku bisa. Kamu sama Bram saja ngobrol. Aku tidak ingin menganggu kalian,“ jawab Zilya lalu bergegas pergi.
“Zilya selalu seperti itu. Dia terlalu mandiri. Tidak ingin merepotkan orang lain,“ ujar Mei.
“Tapi aku cukup kagum dengan Nona Zilya. Dia mandiri,“ jawab Bram.
“Iya. Dari sekian banyaknya pria yang mengagumi sosoknya, Zilya memilih salah satu teman sekampus nya dulu. Yaitu Zayn, atasanmu,“ seru Mei.
“Benar juga!“ sahut Bram.
__ADS_1
Mereka berdua pun tertawa bersama. Jika saja sekarang suasananya sedang hening, mungkin suara merekalah yang paling kuat disini. Namun, karena suara MC yang kuat ditambah dengan suara riuh-riuh para tamu, suara mereka jadi tenggelam. Untunglah,.
***
Di Toilet.
Usai membuang air kecil, Zilya pun berbuat kembali ke Aula. Letak Aula dengan toilet agak jauh, sehingga Zilya memerlukan tenaga ekstra. Ditambah para tamu sedang berkerumun sehingga jalan pintas tertutup.
“Hadeh, jalan pintasnya malah ditutupi sama tamu! Aku mau gak mau harus pakai jalan lama! Yaaa, walau harus nyiapin tenaga ekstra!“ seru Zilya.
Para tamu tentu fokus dengan acara doorprize kali ini. Apalagi hadiahnya yang begitu besar. Tentu mereka tidak akan melewatkannya. Meskipun ada yang jarak rumahnya sangat jauh, apalagi ada juga yang beda provinsi namun rela terbang demi hadiah yang tak terkira.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang mencengkram kedua lengan Zilya.
“Siapa kalian?“ Zilya berusaha berteriak, namun tentu suaranya tenggelam dengan para tamu.
“Jangan bersuara, atau kami akan membunuhmu sekarang juga!“ ancam seseorang itu namun tidak membuat Zilya takut.
“Aku tidak takut dengan ancaman kalian! Cepat lepaskan aku, atau aku akan pastikan kalian berada di Penjara sekarang juga!“ ancam Zilya balik.
“Rupanya kamu berani mengancam balik. Apa kamu tidak takut apabila suamimu yang disana akan menjadi korbannya juga?“ ancam seseorang itu sembari meletakkan pisau di leher Zilya.
Zilya hanya bisa menelan salivanya dengan sulit mendengar ancaman seseorang itu. Jika dirinya kenapa-napa, ia tidak peduli. Namun, jika suaminya yang menjadi korbannya, Zilya tidak mau itu terjadi.
“Ikutlah bersama kami!“ Zilya pun menuruti pria-pria itu.
Di luar Hotel.
Jika kalian mengira Zilya akan menurutinya lagi, maka jawabannya salah.
Setelah penculikan oleh Rendi saat itu di sebuah Mall. Zayn mulai mengajarinya ilmu bela diri yang dapat membantunya suatu saat. Dan inilah saatnya ia mempraktikkan ilmu bela diri yang telah is peroleh.
BUGH! BUGH! BUGH!
Tiga pria berbadan kejar jatuh terkapar di aspal. Semuanya pingsan.
Zilya menendang tepat di bagian dada mereka dengan gerakan cepat. Sehingga mereka tidak mampu menghindarinya.
“Tidak sia-sia aku mempelajari ilmu bela ini. Terima kasih, Zayn,“ ucap Zilya dalam hati.
Gaunnya sedikit robek dibagian bawah. Namun, Zilya tidak peduli. Ia pun kembali masuk kedalam Hotel.
***
Di dalam Hotel.
“Di mana Zilya?“ tanya Zayn dengan dingin pada asistennya.
“Tadi dia pergi ke Toilet, tuan.“ jawab Bram.
__ADS_1
“Kenapa salah satu diantara kalian tidak menemaninya! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya!“ seru Zayn dengan perasaan kesal sekaligus khawatir. Meskipun Zilya sudah dibekali ilmu bela diri, tapi tetap saja Zayn merasa khawatir.
“Maaf, Daf. Tadi aku sudah menawarkan diri untuk menemaninya, namun Zilya menolak dengan alasan bisa sendiri. Aku sudah berusaha memaksa, namun ia juga tidak mau," jawab Mei menundukkan kepalanya.
“B*doh! Dia itu keras kepala! Mengapa tidak mengikutinya saja!“ umpat Zayn.
“Maaf, Tuan. Jangan memarahi Mei. Ini salahku,“ jawab Bram melindungi Mei dibalik tubuhnya.
“Ini memang salahmu, b*doh!“
“Zayn,“ panggil seseorang membuat Zayn terdiam sesaat. Suara yang tidak asing.
“Zayn?“ panggil seseorang itu lagi. Membuat Zayn mau tidak mau menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Ternyata itu adalah istrinya.
Tanpa aba-aba, Zayn pun memeluk istrinya dengan erat. Mei dan Bram yang merasa hanya menjadi nyamuk diantara pasangan pengantin baru itu memutuskan untuk pergi.
“Kamu ke mana, sayang? Aku khawatir denganmu,“ lirih Zayn.
“Maafkan aku, sayang. Aku memang keras kepala,“ jawab Zilya mengakui bahwa dirinya keras kepala.
“Ya, kau memang keras kepala. Dan aku jatuh cinta pada sosokmu,“ ucap Zayn mengeratkan pelukannya. Seolah tidak ingin lepas.
“Hadeuh! Dah dibilangin juga kan, pa! Mereka itu pengantin baru, wajar lagi mau bermesraan!“ ujar seseorang.
“Yaa, setidaknya setelah melihat mereka disini. Hati papa sedikit merasa tenang. Takutnya kalau hilang kan bahaya,“ sahut Arya.
“Iya juga sih,“ jawab Sofi.
“Sudahlah, sebaiknya kita kembali saja! Toh, mereka juga berdua disini!“ ajak Arya sembari merangkulkan tangan Sofi.
"Ya sudah, ayo!“
Orangtua Zayn pun pergi tanpa bersapa dengan Zayn dan Zilya.
“Orangtuamu kenapa?“ tanya Zilya heran setelah pelukannya dilepas.
“Tidak tahu. Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Lebih baik kita bahas, tadi Bram mengatakan kamu pergi ke toilet kan? Kenapa lama sekali!“ ujar Zayn mengalihkan topik pembicaraan.
Zilya pun menceritakan semuanya yang terjadi. Di mana ia hampir saja diculik tadi.
“Syukurlah. Nanti kalau mau kemana-mana, jangan sendirian! Panggil aku atau siapa gitu untuk menemanimu, asal bukan Bram!“ ucap Zayn sembari memeluk lagi Zilya.
“Aku bisa sesak kalau begini Zayn! Daritadi kamu memelukku dengan erat!“ jawab Zilya.
“Maafkan aku. Aku terlalu khawatir denganmu. Jangan hilang lagi ya,“ Zayn mengecup lembut kening Zilya.
“Ayo kita kembali kesana.“ ajak Zayn.
" Ya sudah, ayo!“ jawab Zilya.
__ADS_1
Mereka berdua kembali ke tempat awal posisi mereka berada sembari bergandengan tangan. Hal tersebut berhasil disorakin oleh MC dan juga pada tamu yang hadir.
Sungguh pasangan baru yang romantis.