
Keesokan harinya pun tiba. Cairan infus Zilya sudah habis dan infusnya sudah dicabut. Zilya sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah dengan beberapa pesan yang diberikan oleh Dokter.
Zayn membantu Zilya untuk membawa beberapa barang dan memasukkannya kedalam mobil.
“Terima kasih, Sayang. Maafkan aku karena sudah merepotkanmu. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara membalas kebaikanmu selama ini,“ lirih Zilya.
“Aku justru merasa senang jika kamu merepotkanku. Jika ingin membalasku, cukup berada di sisiku selamanya,“ sahut Zayn. Membuat Zilya terharu dengan perkataannya.
Mereka berdua pun menaiki mobil Zayn.
Di sepanjang perjalanan, Zayn menggenggam tangan Zilya dan seolah tidak ingin melepaskannya. Mereka berdua saling melemparkan senyuman manis.
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang dari depan.
“Tetap tenang! Jangan panik, sayang!“ Zilya berusaha membuat Zayn tetap tenang agar konsentrasi mengemudi nya tetap fokus.
“Banting stir ke arah pembatas jalanan!“ Zayn mengangguk dan melakukannya.
Beruntunglah mereka berhasil menghindari kecelakaan tabrakan tadi. Mereka melihat mobil tadi perlahan melaju kedepan.
Mobil mereka hampir saja terjatuh kedalam jurang.
“Untunglah,“ lirih Zilya. Sedari tadi Zilya juga panik, namun ia menyembunyikannya agar Zayn juga tidak ikut panik. Sungguh berbahaya bukan jika pengemudi juga ikut panik? Pikiran akan blank, sehingga melakukan hal-hal yang bisa saja diluar dugaan.
Disaat mereka hendak keluar dari mobil, ada sebuah mobil hitam yang kembali melaju. Arah mobil tersebut ke arah mobil Zayn.
“Cepat keluar, sayang!“ Dengan panik, Zayn berusaha membantu Zilya untuk keluar dari mobil. Membiarkan barang-barang yang tersisa di dalam mobil.
’Barang hilang ataupun rusak masih dapat dibeli. Tapi jika nyawa kita hilang, apa nyawa bisa dibeli? Tentu tidak!’
“Sepertinya ada yang hendak mencelakai kita,“ ucap Zilya membuat Zayn berpikir keras. Sudah dua kali ia mendapatkan kejadian ini dalam sehari. Sepertinya memang benar jika ada mencelakai mereka, tapi siapa?
Mobil Zayn pun terjatuh ke dalam jurang bertepatan dengan mobil yang hendak menabrak mereka.
Zayn segera menghubungi pihak kepolisian dan juga pihak rumah sakit.
Tidak lama kemudian, pihak kepolisian tadi telah datang bersamaan dengan pihak rumah sakit. Pihak kepolisian sudah membuat pembatas area itu yang dimana hanya orang-orang tertentu yang dapat memasukinya. Pihak rumah sakit pun mengangkut jenazah supir mobil yang tadinya hendak menabrak mereka.
“Sungguh tragis sekali!“ ucap Zilya.
__ADS_1
“Terima kasih atas laporannya Tuan, Nona. Kami akan segera menyelidikinya,“ ucap Polisi itu.
“Sama-sama. Kami mohon secepatnya apalagi mengingat kejadian ini mengangkut keselamatan kami,“ sahut Zayn.
“Sebaiknya untuk sementara, kalau bisa jangan keluar rumah jika tidak ada hal yang penting. Saya mencurigai, sepertinya ada orang yang hendak mencelakai kalian. Jika ada hal-hal yang penting, sebaiknya ketika keluar gunakanlah penyamaran seperti topi, kacamata, topeng, masker atau hal apapunlah yang bisa menutupi wajah kalian,“ nasehat Polisi itu.
“Baik, Pak! Terima kasih atas sarannya,“ jawab Zayn dan Zilya.
“Oh ya, agar lebih aman, tempatilah seorang pengawal pribadi saat keluar. Itu mungkin dapat membantu Anda,“
Zayn menelepon asistennya. Tidak lama kemudian, asistennya pun datang dan mengantarkan mereka berdua pulang.
“Zilya. Aku tahu keadaan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tapi, maukah kamu untuk menempati rumah orangtuaku sementara agar aku bisa lebih leluasa menjagamu?“ tanya Zayn kepada Zilya dengan wajah serius.
“Aku akan sangat merepotkanmu dan orangtuamu, sayang. Lebih baik tidak usah,“ jawab Zilya dengan tidak enak hati.
“Tidak apa-apa kok. Daripada kamu tinggal sendirian, bukankah akan berbahaya bagi keselamatanmu?“ ucap Zayn membuat Zilya berpikir sejenak.
“Coba kamu tanyakan dulu pada orangtuamu, sayang. Daripada nanti aku mau, eh ternyata tidak diizinin,“ sahut Zilya. Zayn pun mengangguk lalu menghubungi orangtuanya. Ia mengaktifkan mode loud speaker sehingga siapa saja yang di dalam mobil dapat mendengarnya.
“Halo Zayn! Ada apa?“ tanya Arya.
“Di mana mama, pa?“ Bukannya menjawab pertanyaan papanya lebih dulu, Zayn malah melemparkan pertanyaan juga.
“Ohh …“ Zayn hanya ber oh ria.
“Memangnya ada apa?“ tanya Arya penasaran.
“Sayang! Siapa yang menelepon?“ Terdengar suara Mama Zayn, Sofi yang bertanya kepada Arya. Sepertinya wanita paruh baya itu telah keluar dari kamar mandi.
“Zayn, Ma. Ini dia cariin mama, mungkin ada yang mau disampaikan,“ jawab Arya sembari memberikan ponsel Sofi kepada sang pemiliknya.
“Ada apa, sayang?“ tanya Sofi dengan lembut kepada anaknya.
“Anu, ma. Apa boleh Zilya menginap di Rumah kita sementara waktu?“ sahut Zayn dengan ragu-ragu.
“Tentu saja boleh. Tapi apakah gadis itu mau?“
“Dia mau kok, ma. Kalau mama tidak percaya, mama bisa tanyakan aja nih sama orangnya,“ jawab Zayn sembari memberikan ponseknya kepada Zilya.
__ADS_1
“Apakah benar, Zilya?“
“Benar, Nyonya. Maaf jika merepotkan,“ jawab Zilya dengan jujur.
“Jangan panggil aku Nyonya lagi. Panggil aku Mama seperti Zayn,“ suruh Sofi.
“Baiklah Nyo- eh Ma,“ jawab Zilya yang masih canggung memanggil mama Zayn dengan sebutan mama.
“Kamu harus membiasakan diri untuk memanggil mama dengan sebutan mama agar tidak canggung lagi kedepannya,“ ucap Sofi.
“Baiklah, ma. Aku akan berusaha, jawab Zilya.
“Nah begitu dong. Mama tunggu kehadiran kalian di rumah ya,“ ucap Sofi.
“Baik, Ma.“ jawab Zilya dan Zayn bersamaan. Sontak mereka saling menatap satu sama lain.
“Haduh, ada yang lagi mau tatapan-tatapan dulu nih. Mama matikan dulu teleponnya ya. Dadah!“ Sofi pun langsung mematikan teleponnya.
Mereka berdua masih menatap satu sama lain. Entah apa yang dipikirkan. Hingga tidak lama kemudian, mobil yang dinaiki mereka telah sampai di sebuah bangunan tinggi nan megah.
“Tuan, Nona. Kita sudah sampai di Mansion Utama,“ ucap Bram membuat aksi tatapan-tatapan antara Zilya dan Zayn berhenti.
“Sudah sampai?“ Zayn terkejut. Padahal tadi masih di perjalanan.
“Iya, Tuan.“ jawab Bram.
Zayn dan Zilya pun turun dari mobil. Meskipun masih tersisa rasa terkejut karena tidak terasa sudah sampai. Mungkin karena asik tatapan-tatapan kali, haduhh.
“Akhirnya kalian datang juga. Ayo masuk! Mama sudah buatkan makanan untuk kalian,“ sambut Sofi sembari merangkul Zilya.
“Hais, apa aku sudah dilupakan?“ gerutu Zayn namun tetap mengikuti langkah kedua wanita yang amat ia sayangi selama hidupnya. Rasa itu tidak akan berkurang.
Meskipun ia kesal karena ia anak kandung tapi seperti dianaktirikan, namun dalam lubuk hatinya ia justru merasa sangat senang. Karena mamanya mau menganggap Zilya sebagai anaknya juga, walau tidak memiliki hubungan sedarah.
Sesampainya di meja makan, Zilya menatap tidak percaya dengan masakan yang disediakan. Makanannya terlalu banyak. Zilya merasa sangat merepotkan.
“Maafkan Mama ya, mama tidak tahu kamu sukanya apa.“ ucap Sofi.
“Tidak, ma. Zilya suka kok semuanya. Cuma Zilya merasa direpotkan saja. Karena Zilya mau datang, mama sampai nyiapin banyak makanan,“ sahut Zilya merasa tidak enak hati.
__ADS_1
“Tidak perlu merasa direpotkan. Mama senang kok kalau kamu repotin mama. Habis makan, nanti Mama ajak keliling Mansion ya. Kebetulan di Mansion ada taman bunga, kamu pasti suka,“ ucap Sofi dengan antusias.
“Baik, Ma.“ jawab Zilya.