
🐌
🐌
🐌
🐌
🐌
Waktu berlalu hingga tidak terasa sudah berjalan satu minggu setelah acara kelulusan.
Di Perusahaan Arya …
“Aku mau kamu menyelidiki semuanya! Tanpa ada yang dilewat-lewati tentang gadis itu! Mengerti?!“
“Mengerti, Tuan.“
“Kirimkan kepadaku setelah kamu berhasil menyelidikinya,“
“Siap, Tuan.”
Panggilan pun dimatikan oleh Arya.
Baru saja, Arya melakukan panggilan dengan Bram. Meminta Bram untuk menyelidiki gadis yang ia temui minggu lalu. Entah mengapa, ia begitu penasaran dengan asal usul gadis tersebut. Hasil pertemuannya dengan gadis tersebut terasa tidak memuaskan baginya.
Entahlah apa yang terjadi dengannya, apalagi setelah melihat Zayn putranya seperhatian itu dengan gadis tersebut. Tidak masuk akal jika Zayn yang terkenal dingin dan cuek itu bisa melakukannya.
Apa jangan-jangan, sebenarnya putranya yang menyukai gadis tersebut? Namun, gadis tersebut nyatanya tidak memiliki rasa suka yang sama? Jika itu benar, nasib putranya dalam percintaannya hanya bertepuk sebelah tangan.
Tidak! Tidak bisa! Arya sebagai seorang ayah, tidak akan membiarkan putra semata wayangnya mengalami hal tersebut. Ia harus bisa mencari solusi dari permasalahan ini.
“Apa aku lakukan saja ide itu?“ Arya tiba-tiba saja teringat dengan ide yang entah dari mana muncul di pikirannya saat kepergok Zilya dan Zayn saat itu.
“Tidak! Tidak bisa! Bagaimana jika ternyata Zayn melakukannya karena rasa kasih sayang? Selama ini kan, Zayn tidak memiliki kakak ataupun adik,“
“Ahh! Urusan percintaan memang membuatku pusing tujuh keliling saja!“ Arya mendengus kesal.
“Di balik suatu permasalahan, pasti selalu ada jalan keluar bukan?“
“Baiklah, untuk kali ini, aku akan mencoba menerima semua hal ini. Jika Zayn benar-benar menyukai gadis itu, maka tidak ada salahnya aku menerimanya bukan? Apalagi jika ternyata gadis tersebutlah yang membuat Zayn berbahagia,“
__ADS_1
Arya sedang berdebat dengan pikiran dan hatinya yang tidak sejalur. Padahal sama-sama terletak di organisme yang sama, namun entah mengapa otak dan hatinya tidak sepemikiran.
Ting!
Arya segera mengambil ponselnya. Ia melihat Bram mengirimkannya sebuah dokumen.
Ia sangat menyukai kinerja Bram. Bram adalah salah satu asistennya yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Bram juga ahli dalam menyelidiki suatu kasus. Maka tidak salah, Arya memilih Bram untuk menjadi asisten putranya.
[Terima kasih, Bram. Aku akan segera mentransfer bonusmu di bulan ini, Bram.] ~Arya
Bram mengetik …
[Terima kasih, Tuan Arya. Aku akan selalu menjadi yang bisa diandalkan untukmu, Tuan.] ~Bram
Tanpa basa-basi panjang lagi, Arya segera membuka dokumen yang dikirimkan oleh Bram tadi.
“Ternyata benar, ia berasal dari keluarga yang berada,“
Arya membaca dokumen tersebut dengan serius.
“Jadi gadis ini diusir oleh orangtuanya sendiri? Tega sekali mereka!“ Arya merasa iba dengan gadis bernama Zilya.
“Oh, pantesan mereka tega, ternyata mereka adalah orangtua tirinya, bukan orangtua kandung!“ Arya menjadi mengebu-gebu.
“Apa? Jadi mereka adalah orangtua kandung Zilya?“ Arya menunjukkan raut terkejutnya.
***
Di sisi lain.
“Papa! Naomi mohon, Pa … Bantu Naomi bebas dari sini, dan Nancy, Pa … “ Naomi menangis sejadi-jadinya.
Waktu lalu, ia juga sempat di Penjara, hanya saja ia dibantu oleh seorang pria. Pria tersebut menawarkan bantuan untuk bebas dengan syarat. Naomi dan Nancy yang sudah gelap mata pun, langsung menyetujui kesepakatan tersebut. Walau untuk bebas, pria tersebut harus mengurus ini itu yang memerlukan waktu seminggu.
“Iya, Nak. Papa janji, Papa akan bantu bebasin kamu secepatnya dari sini. Ok?“ Gavin begitu memanjakan putrinya.
“Ok, Pa. Naomi tunggu kabar baiknya dari Papa,“ Naomi tersenyum.
“Iya, Nak.“ jawab Gavin.
Gavin terlalu menyayangi putrinya itu. Membuat Gavin memanjakan Naomi. Hingga membentuk karakter Naomi seperti itu. Seolah semua bisa ia dapatkan.
__ADS_1
“Naomi. Apakah sejauh ini kamu pernah melihat Zilya?“ tanya Gavin membuat Naomi membulatkan matanya tidak percaya. Ayahnya bertanya itu?
Naomi terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan ayahnya itu.
“Jawab saja, Nak. Jangan ragu-ragu seperti itu. Apakah kamu diancam sama seseorang, Nak?“
Tiba-tiba saja, Nancy menghampiri ayah dan anak itu.
“Paman, sebenarnya beberapa hari yang lalu. Kami tidak sengaja bertemu Zilya. Dia memberikan kami berupa ancaman untuk tidak memberitahu kepada siapapun jika kami bertemu dengannya, Paman,“ jelas Nancy.
“Apa kamu yakin dia adalah Zilya?“
“Tentu saja, Paman. Tapi Paman tahu? Saat kami bertemu dengannya, kami melihat dia bersama pria yang sudah tua, mungkin jika diperkirakan dari fisik, usianya mungkin lebih tua dari Paman. Mereka saling berpelukan,“
Gavin tidak percaya. Putrinya yang ia usir saat itu, ternyata menjual diri kepada pria-pria yang kaya raya.
“Paman pasti tidak percaya, kan? Aku juga tidak percaya. Namun, setelah bertemu beberapa kali, akhirnya Nancy yakin, kalau Zilya menjual dirinya kepada pria-pria yang kaya raya, Paman,“
Gavin geram. Wajahnya menahan amarah sekaligus geram kepada putri tirinya itu.
🐌
🐌
🐌
🐌
🐌
.
.
.
.
.
Waduh, Author nggak nyangka juga nih, ternyata Nancy kejam juga ya. Nancy menghasut papanya Naomi dengan cara menjelekkan Zilya.
__ADS_1
Kira-kira apa ya yang akan dilakukan oleh Gavin setelah mendengar bualan dari Nancy? Menurut kalian, apakah Gavin percaya dengan bualan Nancy?
Yukk tetap selalu dukung yaa.. Terimakasih 🙏🏻