
“Pergilah! Aku tidak ingin mendengar gagal!“ perintah pria itu.
“Baik, bos!“
“Hahaha! Aku akan membuatmu menderita setelah membuat kakakku di penjara!“ Ya, ternyata pria itu adalah Darwin. Adik dari Rendi. Adik yang selalu menuruti apa kata kakaknya, sayangnya tanpa disadari kakaknyalah yang perlahan-lahan membuatnya hancur bersama. 😪, Author sudah lelah dengan kedua tokoh ini.
***
Di sebuah Mansion Utama.
“Tapi, pa? Apa tidak terlalu cepat?“ tanya Zayn berusaha bernegosiasi dengan papanya.
“Tidak! Jika kekasihmu tinggal disini tanpa ada status yang jelas, apa kata orang nanti!?“ Pertanyaan yang membuat Zayn tidak bisa berkutik.
Zayn menatap Zilya seolah meminta jawaban.
“Baiklah, pa. Mungkin lebih baik begitu,“ putus Zilya yang membuat hati Zayn senang. Untung saja kekasihnya mau.
“Lihat, kekasihmu saja mau menyetujuinya!“ sahut Arya, sang ayah dari Zayn.
“Hem,“ Zayn hanya berdehem.
“Pernikahan kalian akan dilangsungkan 2 hari lagi, maka dari itu persiapkan diri dari sekarang,“ putus Arya membuat Zayn dan Zilya tidak percaya. Bagaimana bisa dalam 2 hari, persiapan acara pernikahan mereka selesai? Apa papanya mengira bisa disulap langsung jadi?
“Hah! Yang benar saja, pa?“
“Lebih cepat lebih baik. Sudahlah, sebaiknya kalian segera memesan gaun,“ sahut Arya lalu pergi meninggalkan Zayn, Zilya, dan istrinya.
“Mama permisi dulu ya,“ Sofi pun mengikuti arah pergi suaminya.
Tinggalah Zayn dan Zilya berdua.
“Oh ya, Zil. Ada yang ingin aku bicarakan,“ ujar Zayn.
“Tadi siang, kamu kenapa? Kok setelah melamun sikap kamu kayak berubah gitu? Apa kamu ada masalah?“ tanya Zayn sembari menatap manik mata Zilya.
“A-aku,“ Zilya menundukkan kepalanya. Ia sudah lelah dengan kehidupannya. Ingat, orang yang kuat juga memiliki sisi kelemahannya.
“Katakan, Zil. Tidak apa. Aku siap menjadi pendengar baikmu,“ ujar Zayn lagi membuat Zilya terharu dan air matanya keluar.
“Hei? Ada apa denganmu?“ Zayn semakin khawatir dengan Zilya yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.
“Terima kasih sudah mau menerimaku. Terima kasih sudah mau menerima segala keburukanku,“ Zilya bersandar di bahu Zayn.
“Setiap manusia memiliki sisi kelebihan dan sisi kelemahan mereka. Jangan hanya fokus dan menunjukkan kelemahanmu!“ nasehat Zayn.
__ADS_1
“Aku beruntung bisa bertemu denganmu, Zayn. Aku seperti menjadi wanita paling beruntung karena dapat menikahimu sebentar lagi,“ sahut Zilya.
“Dan aku juga satu-satunya pria yang paling beruntung karena dapat menikahi seorang gadis berprofesi sebagai penulis terkenal di seluruh dunia,“ jawab Zayn.
***
“Apa tidak apa-apa jika mereka berdua kita tinggalkan, pa? Takutnya mereka anu,“ ujar Sofi.
“Tidak perlu khawatir, sayang. Kita kan mengawasi mereka dari sini,“ jawab Arya.
Iya, mereka diam-diam bersembunyi di balik dinding yang sama. Sembari mengamati yang dilakukan oleh sepasang suami-istri, eh Author salah, sepasang calon suami-istri tepatnya.
“Mama suka mengejek Zayn karena sering menguping pembicaraan kita dibalik dinding ini. Lalu, kenapa Mama juga berbuat seperti itu?“ celetuk Arya pada istrinya.
“Hais! Papa juga ya!“ sahut Sofi tidak mau kalah.
“Kan papa ikut karena paksaan dari kamu, sayang. Coba kalau kamu tidak paksa papa, papa pun sekarang sudah membaca berkas-berkas perusahaan di ruangan kerja papa,“ jawab Arya tidak mau mengakui.
“Mana ada Mama paksa ya. Papa yang menawarkan diri untuk menemani Mama,“ balas Sofi lagi.
“Hais, ya sudah, papa mengalah. Iya dah, papa salah,“ Arya mau tidak mau mengalah.
“Nah gitu dong,“ jawab Sofi sembari tersenyum senang.
"Apa yang Papa Mama lakukan disini?“ Suara itu membuat Arya dan Sofi tersentak terkejut.
“Mama-“ Sofi berpikir untuk mencari jawaban. S*alnya, otaknya malah blank.
“Papa hanya mengikuti kemauan Mamamu,“ jawab Arya dengan pasrah.
“Hais, tadi mama mengejekku karena suka menguping pembicaraan orang dibalik dinding ini. Eh, rupanya yang ngomong juga sama. Haduh haduh,“ Zayn hanya bisa pasrah kepada-Nya.
Disaat itu juga, tiba-tiba Zilya tertawa keras. Membuat ketiga orang itu menatap tajam kearah Zilya.
“Ma-maaf,“ Zilya menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba mereka pun ikut tertawa. Sungguh keluarga yang aneh.
“Sudahlah! Mama capek lihat perdebatan kalian! Lagipula Mama belum selesai mengajak Zilya untuk berkeliling Mansion Utama ini,“ ujar Sofi.
“Jika kalian ingin melanjutkan perdebatan kalian, lanjutkan saja. Tapi Mama dan Zilya pergi dulu,“ sambung Sofi, lalu mengajak Zilya untuk pergi dari sana.
Tinggalah Zayn dan Arya. Mereka sempat terdiam.
“Mamamu aneh sekali,“ celetuk Arya.
__ADS_1
“Mamaku, juga istrinya papa kan? Lagipula, papa baru sadar ya?“ balas Zayn.
“Sudahlah, daripada kita berdebat seperti ini. Apa kata readers kita,“ ujar Arya sembari melihat para readers yang sedang membaca novel ini.
“Ah, benar juga ya! Halo readers ZD ❤ ZD! Perkenalkan, saya Zayn, calon suaminya Zilya!“ ujar Zayn sembari membuat gerakan tangan perkenalan.
“Hais! Tidak mamamu, tidak anaknya, sama saja!“ gerutu Arya.
“Para readers sudah mengenalimu dari awal bab, Zayn Zayn!“ sambung Arya.
“Papa nih, menganggu suasana saja!“ Zayn mengerutkan bibirnya.
“Sudahlah! Daripada kita berdebat terus, ga ada gunanya juga kan. Lihat itu para readers kita, mereka sudah bosan melihat kita berdebat,“ ujar Arya sembari menunjuk kearah readers.
“Iya juga ya. Ya sudah, kita mau bahas apa dong?“ jawab Zayn dengan polosnya.
“Ya Tuhan! Tentu saja membahas pernikahanmu!“ Arya benar-benar merasa kehilangan kesabaran menghadapi anaknya, ditambah istrinya juga. Ya Tuhan, rasanya Arya ingin pindah alam saja. Eh tunggu sebentar, Arya mana tega meninggalkan istri yang benar-benar membuat dirinya jatuh pada pelukan istrinya.
“Oh iya ya! Zayn baru ingat, hehe,“ sahut Zayn sembari tersenyum cengir.
Mereka pun membahas tentang pernikahan Zayn yang akan dilangsungkan 2 hari lagi. Waktu yang sangat singkat untuk menyiapkan segalanya.
***
Di sisi lain.
“Apa yang kau dapatkan?“ tanya Darwin dengan tidak sabaran.
“Kami baru saja mendapatkan informasi jika wanita itu akan melangsungkan pernikahan 2 hari lagi bersama seorang pria bernama Zayn Daffa,“ jelas anak buahnya sembari memberikan berkas-berkas yang berisi informasi yang didapatkan olehnya.
“Zayn Daffa? Nama yang tidak asing!“ sahut Darwin sembari membaca identitas tentang Zayn Daffa.
“Rupanya dia dulu adalah mahasiswa sekampusku!“
“Sekaligus musuh terbesarku! Aku heran dengan para wanita, mengapa mereka lebih memilih mendekati si pria yang dinginnya melebihi kutub utara!“ gerutu Darwin.
“Haha! Permainan akan segera dimulai!“ Darwin tertawa dengan keras. Namun, bagi anak buahnya, itu adalah tawaan yang sangat mengerikan..
“Zilya Daisha dan Zayn Daffa. Tunggu saja pembalasanku. Aku tidak terima melihat kalian berbahagia diatas penderitaanku dan juga kakakku Rendi!“ Darwin mengepalkan tangannya dengan kuat.
Senang Melihat orang Susah
Susah Melihat orang Senang
Itulah SMS.
__ADS_1