
“Tidak perlu merasa direpotkan. Mama senang kok kalau kamu repotin mama. Habis makan, nanti Mama ajak keliling Mansion ya. Kebetulan di Mansion ada taman bunga, kamu pasti suka,“ ucap Sofi dengan antusias.
“Baik, Ma.“ jawab Zilya.
Usai memakan siang, Zilya pun diajak oleh Sofi untuk berkeliling Mansion.
“Ayo kita ke taman bunga!“ ajak Sofi sembari merangkul lengan calon menantunya dengan antusias.
“Ini namanya bunga mawar, di batangnya terdapat duri,“ ucap Sofi sembari memetik satu bunga mawar dan memberikannya kepada Zilya.
"Apa kamu menyukainya?“ tanya Sofi.
“Tentu saja, Ma. Aku benar-benar menyukainya,“ jawab Zilya sembari mencium aroma bunga mawar.
“Ini juga ada bunga melati, bunga matahari, bunga kamboja, bunga anggrek, bunga kembang sepatu, bunga lily, bunga …“ Sofi menyebutkan satu per satu nama-nama bunga yang ia tanam.
“Wah banyak sekali, Ma. Bagaimana caranya Mama bisa mengingatnya satu per satu, apalagi mengingat jumlah bunga itu banyak sekali!“ tanya Zilya dengan penasaran.
“Dengan melihat bentuknya, Zil. Menghafal sesuatu itu tidak mesti menghafal nama-namanya, tetapi juga harus tahu yang mana. Ini termasuk metode penghafalan, banyak orang yang memilih sebuah objek dan menghafalnya dengan mudah,“ jelas Sofi.
“Wah, Mama hebat!“ puji Zilya.
“Kamu juga hebat, Sayang. Malah lebih hebat daripada Mama. Mama ini sudah berpuluh tahun menjalani karier seorang penulis, tapi tidak sampai seluruh dunia sepertimu. Mama sungguh kagum denganmu yang mampu membuat seluruh dunia ini menyukai tulisanmu, sayang.“ Sofi memuji balik menantunya, eh masih calon.
“Terima kasih, Mama.“
“Oh ya, diantara sekian banyak bunga yang Mama miliki, bunga apa yang kamu sukai?“ tanya Sofi dengan antusias.
“Bunga lily, dia satu-satunya bunga yang memiliki bentuk unik. Bunga kembang sepatu juga,“ jawab Zilya.
“Mama akan memberikanmu dua bunga itu,“ ucap Sofi sembari mengambil salah satu tanaman bunga Lily dan bunga Kembang Sepatu.
“Ahh, tidak perlu Ma. Zilya bisa membelinya kok, dimana-mana juga ada,“ tolak Zilya dengan halus.
“Tidak, sayang. Terimalah, mama memberikannya untukmu,“ paksa Sofi.
“Baiklah, Ma. Terima kasih banyak!“ sahut Zilya.
Walau mereka sudah berjumpa sebelumnya namun dengan posisi atasan dan karyawan, ternyata mereka tidak seakrab saat ini. Setelah tahu bahwa Zilya adalah kekasihnya Zayn, Sofi pun mengubah segala buruk yang terdapat padanya. Sofi mendukung penuh dengan putranya.
__ADS_1
“Terima kasih telah menjadi kekasih putraku. Kamu adalah salah satunya wanita yang dikenalkan pada Mama sebagai status kekasih. Yang lain bahkan hanya seperti teman dekat atau tidak rekan kerja,“ ucap Sofi dengan penuh haru. Antara bersyukur karena putranya masih normal dan menyukai wanita, dan haru karena gadis yang sedang bersamanya ini mau menerima cinta dari Zayn.
“Benarkah?“ tanya Zilya dengan penasaran. Jika itu semua benar, ia sangat merasa bahagia karena telah menjadi wanita pertama yang dikenalkan pada calon mertua.
"Benar, Zilya. Lihatlah kekasihmu itu, bisa-bisanya ia bersembunyi disitu demi mengawasi kita!“ celetuk Sofi ketika melihat Zayn bersembunyi dibalik dinding.
“Hah! Aku bagian tidak melihatnya, Ma.“ jawab Zilya.
“Itu memang sudah menjadi kebiasaannya. Dulu juga pernah Mama sedang berbicara dengan papanya disini, diam-diam ia penasaran dan mengintip disitu,“ Sofi menyebarkan aib putranya yang selama ini ditutupi oleh Zayn dengan rapi.
Zilya tidak menyangka.
“Zayn, kemarilah! Mama sudah tahu kamu bersembunyi disitu!“ panggil Sofi yang semakin membuat Zayn malu. Mau tidak mau, putranya yang sebentar lagi akan menyandang sebagai seorang suami menghampiri dirinya.
“Hais, mengapa Mama selalu tahu?“ gerutu Zayn dengan kesal. Pasalnya Mamanya itu selalu mengetahui dimana ia bersembunyi, dan parahnya Mamanya itu malah menyebarkan aibnya itu. Benar-benar menyebalkan!
“Bagaimana Mama tidak tahu? Kamu saja selalu bersembunyi di dinding yang sama setiap kali kamu menguping. Mama rasa dinding itu sudah menjadi tempat kesukaan kamu sebagai tempat menguping,“ balas Sofi tidak mau kalah.
Zilya tersenyum-senyum melihat perdebatan antara ibu dan anak ini. Benar-benar keluarga yang harmonis. Ah, Zilya jadi membayangkan jika dirinya memiliki keluarga harmonis juga. Sayangnya itu semua hanyalah mimpi.
Melihat Zilya yang diam sembari melamun membuat perdebatan antara ibu dan anak itu berhenti. Mereka saling tatap-tatapan satu sama lain, apakah mereka ada berbuat salah?
“Zilya? Apakah kamu baik-baik saja?“ tanya Sofi dengan hati-hati. Ia tidak berniat menyinggung perasaan kekasih putranya. Namun, Zilya tidak juga menyahut.
“Ya?“ jawab Zilya tanpa sadar.
“Apa kamu baik-baik saja?“ Pertanyaan itu berhasil membuat Zilya berhenti dari lamunannya.
“Iya, aku baik-baik saja. Kenapa emangnya?“ tanya Zilya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tadi kamu melamun. Apa kamu baik-baik saja? Apa aku atau mamaku menyinggung perasaanmu?“ tanya Zayn dengan hati-hati.
“Tidak kok. Permisi dulu ya, aku mau ke toilet,“ pamit Zilya.
“Oh ya, toiletnya di mana?“ tanya Zilya.
“Kamu lurus dulu, nanti setelah lihat dapur belok kiri. Habis itu, lurus aja terus sampai mentok. Belok kanan dan lurus dikit dan di depan itulah toiletnya,“ jelas Sofi.
“Baiklah, Ma. Terima kasih,“ ucap Zilya lalu pergi dari halaman belakang Mansion.
__ADS_1
Tinggallah Sofi dan Zayn berdua. Mereka masih bingung dengan apa yang terjadi dengan Zilya barusan. Gadis itu melamun lalu kembali seperti seolah tidak terjadi apa-apa.
Mereka kembali memikirkan apa yang mereka lakukan. Lalu keduanya menghela napas panjang. Mereka tidak mengerti. Berharap mereka tidak menyinggung perasaan gadis itu.
“Zayn. Cobalah kamu tanya dengan baik-baik nanti. Mama takutnya tadi kita menyinggung dia,“ lirih Sofi.
“Mama tenang saja. Nanti Zayn akan tanyakan itu pada Zilya,“ sahut Zayn.
“Baiklah, Mama tunggu jawaban darimu.“ ucap Sofi yang diangguki oleh Zayn.
“Kalau begitu, mama permisi dulu,“
Merasa dirinya ditinggal sendirian, Zayn pun memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Sembari termenung memikirkan apa yang terjadi dengan Zilya.
“Apa aku berbuat kesalahan?“ tanya Zayn pada dirinya sendiri. Ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Hari kecilnya mengatakan ia harus segera menanyakan kepada Zilya, namun di sisi lain ia takut malah membuat Zilya sakit hati.
“Ah! Ini bahkan lebih rumit daripada kasus korupsi.“ celetuk Zayn sembari mengetuk jarinya di meja.
***
Di sisi lain.
“Bagaimana? Apakah berhasil?“ tanya seorang pria saat panggilan telepon tersambung.
“Maaf, Bos! Kami gagal,“
“APA? Datang ke markas sekarang juga! Aku akan menghukum kalian! Bisa-bisanya gagal, padahal hanya kasus seperti itu!“ bentak pria itu.
“Ba-baik, Bos!“ jawab anak buahnya dengan takut.
Tut!
Tidak lama kemudian, anak buahnya yang ia tugaskan untuk menyelesaikan sebuah tugas pun datang.
Dengan amarah, pria itu langsung memukul anak buahnya tanpa ampun. Jeritan ampun terdengar namun tidak dihiraukan oleh pria itu.
“Kali ini aku akan memaafkan kalian. Tapi jika lain kali tidak berhasil juga, maka jangan salahkan aku jika aku akan membunuh kalian semua!“ ancam pria itu.
“Ba-baik, Bos. Maafkan kami,“ jawab semua anak buahnya dengan gugup.
__ADS_1
“Pergilah! Aku tidak ingin mendengar gagal!“ perintah pria itu.
“Baik, bos!“