
Beberapa bulan telah berlalu.
Di Kota barunya, Zilya telah menjadi penulis yang terkenal hingga ke luar negeri. Setiap harinya, Zilya dan rekannya harus mencetak buku-buku sebanyak sepuluh ribu hingga dua puluh ribu buku.
Penghasilannya juga tak terhingga. Namun Zilya tidak pernah menunjukkan kekayaannya itu, ia selalu tampil dengan kesederhanaannya. Bahkan Zilya hanya mempunyai 1 rumah dan 1 mobil saja.
Misteri identitas penulis Daisha pun masih belum dapat dipecahkan oleh masyarakat hingga kini. Sebab, setiap kali Zilya diundang ke stadion TV, Zilya selalu menolaknya.
“Hari ini hari yang melelahkan,“ keluh Zilya sambil merebahkan badannya di ranjang. Badannya lelah setelah aktivitas hari ini.
“Tring … Tring!“ Terdengar suara panggilan yang masuk dari ponsel Zilya. Zilya segera mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?“ ucap Zilya.
“Halo, Zilya! Kamu masih ingat kan sama aku?“ ucap penelepon.
Zilya sedikit kaget ketika mendengar suara yang tidak asing.
“Mei kah?“ jawab Zilya sedikit gugup. Sebelum kepergiannya, Zilya mengganti nomor teleponnya sehingga nomor sahabatnya itu hilang dari kontaknya. Apalagi Zilya sama sekali tidak mengingat nomor sahabatnya itu.
“Tentu saja! Kemana kamu selama ini? Mengapa tidak mengabariku?“ ucap Mei dengan nada kesal. Sebab, Zilya pergi sama sekali tidak mengabarinya, membuat Mei khawatir. Selama berbulan-bulan, Mei berusaha mencari informasi Zilya.
“Maaf, Mei. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya.“ jawab Zilya.
“Hum.. Baiklah. Kalau begitu, kamu berada di mana sekarang? Jangan katakan kamu berada di luar kota ya!?“ tebak Mei.
“Hehe, bukan di luar kota lagi Mei. Tapi sekarang, aku berada di Negara Singapura.“ jawab Zilya sedikit cengegesan.
“Buset, jauh amat mainnya Zil!“ sahut Mei terkejut.
“Hehe iya Mei. Aku berusaha untuk mencapai cita-citaku disini.“
“Apakah kau berhasil meraihnya?“
“Ya, sekarang aku sudah berhasil meraihnya. Bahkan aku telah menjadi penulis terkenal di seluruh dunia.“ ceplos Zilya.
__ADS_1
“APA?!“ Mei tidak percaya bahwa sahabatnya telah menjadi penulis yang terkenal di seluruh dunia.
Seketika Zilya pun menyadari bahwa dirinya telah keceplosan. Otaknya mulai berpikir mencari alasan yang akan diberikan kepada Mei nantinya.
“Kamu sedang tidak bercanda kan, Zil?“ tanya Mei dengan sedikit bimbang di hatinya. Mei masih belum percaya dengan kenyataan bahwa sahabatnya telah menjadi penulis terkenal diseluruh dunia hanya dalam beberapa bulan saja.
“Tidak, Mei. Maaf tidak memberitahumu lebih awal.“
“Okay.. Tidak masalah! Coba beritahu aku, apa nama penamu?“
“Zilya Daisha!“
“Apa? Aku sungguh tidak percaya. Bisakah kau kembali ke kota Indonesia segera, Zil? Agar kau bisa menjelaskan lebih banyak kepadaku?“
“Hum.... Baiklah! Besok aku akan segera memesan tiket ke Indonesia,“ jawab Zilya setelah berbagai pertimbangan. Walaupun dihatinya ada rasa tidak percaya bahwa besok dirinya akan meninggalkan Negara yang menemaninya selama perjalanan menuju penulis terkenal di seluruh dunia.
“Lebih cepat lebih bagus, Zil! Aku tidak sabar menunggu kehadiranmu disini!“ seru Mei tidak sabar.
“Baiklah!“ jawab Zilya.
“Mei, aku matikan dulu teleponnya ya? Ini ada orang yang menelepon ku,“ ucap Zilya.
“Orang stadion TV. Mereka pasti memintaku untuk pergi ke stadionnya dan tampil,“ jawab Zilya.
“Lebih baik kau terima saja permintaannya, Zil! Bukankah dengan tampil di stadion TV, kau akan semakin terkenal? Tentu tidak akan lagi yang menyamar sebagai dirimu!“ ucap Mei.
“Hum, nanti akan aku pikirkan lagi!“ jawab Zilya.
“Okay, sampai jumpa!“ ucap Mei.
“Tut!“ Panggilan telah berakhir.
Zilya memikirkan ucapan Mei tadi. Hingga ia sadar, bahwa ia lupa untuk mengangkat telepon dari orang stadion TV.
“Haduh! Mikirin ucapan Mei tadi, malah aku lupa untuk mengangkatnya!“ ucap Zilya sambil menepuk jidatnya. Ia segera mengambil ponsel dan menelepon balik orang stadion TV tersebut.
__ADS_1
“Halo?“ ucap Zilya memulai panggilan ketika orang tersebut sudah menjawab panggilan dari Zilya.
“Halo! Selamat pagi, Nona Daisha! Kami ingin menawarkan kepada nona untuk tampil di stadion TV kami. Apakah nona Daisha bersedia?“ ujar orang stadion TV itu.
“Hum, baiklah. Kapan?“ Zilya pun setuju dengan tawaran orang stadion TV tersebut.
“Baiklah kalau begitu nona. Kalau besok sekitaran jam 10, apakah bisa?“
“Bisa,“
“Baiklah Nona. Terima kasih telah menerima tawaran kami, Nona Daisha. Kami akan menunggu kehadiranmu Nona di stadion kami. Semoga harimu menyenangkan,“
“Tut!“ Panggilan telah dimatikan.
Zilya kembali merebahkan badannya di ranjang. Menutup matanya dan tak lama kemudian ia tertidur.
***
Matahari pun terbit. Hari ini tidak begitu panas, tapi tidak juga begitu dingin.
Zilya telah bersiap-siap, ia mengenakan dress berwarna navy. Zilya terlihat begitu elegan.
Ia berangkat ke stadion TV.
skip.
Setelah diwawancarai dengan ribuan pertanyaan oleh wartawan, Zilya bersiap-siap berangkat ke Bandara untuk memesan tiket ke Indonesia.
....
.
.
.
__ADS_1
Hiii! Maaf yaa, Author hiatusnya lamaa...
Author berusaha untuk update hingga tamat yaa.. Selalu nantikan update-update selanjutnya. Terimakasih telah menantikan kelanjutan novel ini!