
Daffa pun mengambil laptopnya segera. Dengan penuh harapan, semoga saja Zilya mengangkat teleponnya walau hanya sejenak. Memberikan kesempatan kepada dirinya untuk melacak lokasi gadis tersebut.
“Zilya, semoga kamu baik-baik saja. Aku akan merasa sangat bersalah jika kamu kenapa-kenapa,“
***
Zilya yang sedang menyusun strategi, dikejutkan dengan suara panggilan telepon dari ponselnya. Awalnya ia cuek, namun setelah melihat nama penelepon, ia memutuskan untuk menjawab telepon tersebut.
“Halo?“ Mata Zilya tiba-tiba membulat melihat mobil hitam terparkir di depan bangunan tua, dan sang pemilik mobil keluar langsung diberi sambutan oleh para penjaga-penjaga diluar.
“Halo! Halo! Zil? Kamu di mana?“ ucap Daffa dengan nada khawatir di dalam telepon.
Namun, Zilya yang sudah terlanjur khawatir dengan nasib saudari kembarnya pun memutuskan segera mematikan panggilan tersebut. Mengambil beberapa benda yang diperkirakan akan ia gunakan nanti.
Tanpa berpikir panjang lagi, Zilya segera masuk ke dalam bangunan tua tersebut.
“Siapa kamu? Berani-beraninya kamu menginjakkan kakimu di bangunan kami!“ seru salah satu Penjaga sambil menembak kearah atas, membuat Tuan mereka yang kebetulan belum jauh dari tempat tadi, bergegas menghampiri anak buahnya itu.
Melihat gadis tersebut yang menurutnya tidak asing, Tuannya itu langsung bergegas memberikan aba-aba kepada anak buahnya.
“Angkat tanganmu!“ Setelah mendapatkan aba-aba dari Tuan-nya, mereka bergegas mengerumuni Zilya sambil menodongkan senjata api.
“Kamu bertanya, saya siapa? Baik, Saya adalah Zilya Daisha,“ seru Zilya dengan lembut namun tegas. Meskipun puluhan pria bertubuh tegap sudah mengerumuninya yang hanya seorang diri.
“Zilya?“ Puluhan pria bertubuh tegap itu terkejut dengan perkataan Zilya. Namun, mereka tidak akan percaya begitu saja dengan gadis ini.
“Zilya? Kamu pikir bisa membohongi kami?“ Walaupun sudah tertampang jelas wajah gadis ini mirip dengan gadis yang mereka culik tadi, namun pria bertubuh tegap ini tidak akan percaya sebelum benar-benar ada bukti yang menguatkan selain ini. Wajah sama, bisa dibuat bukan?
“Jadi, daripada kamu membuang waktu kami dengan membohongi kami, sebaiknya kamu segera angkat tangan, atau peluru ini akan menembus tubuhmu!“
“Angkat tanganmu!“ Semua pria bertubuh tegap itu kembali menodongkan senjata kearah Zilya.
***
Di waktu yang bersamaan …
Setelah berhasil melacak lokasi Zilya berkat keahliannya dan bantuan dari asistennya yang ditunjuk oleh ayahnya, Zayn dan asistennya yang bernama Bram langsung bergegas menuju lokasi.
__ADS_1
“Bisakah kamu mengendarainya lebih cepat lagi, Bram?!“ Zayn begitu khawatir dengan keadaan Zilya.
“Maaf, Tuan. Saya tidak mungkin mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, karena selain melanggar aturan, itu juga membahayakan nyawa kita dan orang lain, Tuan,“
“Tapi, berdasarkan lokasi Nona Zilya saat ini, sepertinya ada jalan alternatif untuk menuju kesana,“ Bram menunjukkan maps di ponselnya kepada Zayn.
“Jalan alternatif ini biasanya terhindar dari kemacetan, Tuan. Selain itu, kita bisa lebih cepat sampai dengan menggunakan jalan ini, Tuan,“ jelas Bram.
“Kita gunakan saja jalan alternatif itu!“
“Baik, Tuan.“
Mobil mewah itu pun segera menuju jalan alternatif.
Berkali-kali, Zayn mengacak rambutnya frustasi. Rasa emosinya tidak bisa dikontrol.
Rasa panik dan khawatir itu bercampur aduk mmbuat Zayn merasa semakin frustasi. Dalam hati, tiada henti mendoakan keselamatan gadis pujaan hatinya itu.
***
Kembali pada Zilya lagi …
Seru seorang pria dengan menggunakan jas di tubuhnya. Aura dinginnya terpancar jelas, Zilya dapat merasakan hal itu. Pria ini pastinya adalah atasan dari para pria bertubuh tegap yang mengerumuninya saat ini.
Zilya yang mendengar kata saudari kembarnya yang dibawa-bawa dalam masalah ini, langsung mengarahkan pandangannya pada pria tersebut.
Ia melihat dengan matanya sendiri, saudari kembarnya diseret dengan begitu kasarnya oleh salah satu pria bertubuh tegap. Dania dipaksa berdiri, dengan pistol yang diarahkan tepat di kepalanya.
“Jangan lakukan itu!“ seru Zilya dengan raut wajahnya yang cemas dengan saudari kembarnya.
“Jika kau tidak menginginkan saudari kembarmu ini yang menjadi sasarannya, maka kau harus segera bertumpu lutut tepat di hadapanku dan mengangkat tangan bahwa kau menyerah!“ Pria ini sudah mengetahui apa tujuan Zilya datang ke gedung tua yang menjadi markasnya.
“Baiklah baiklah, aku akan melakukan apa yang anda perintahkan setelah Anda menurunkan senjata anda, Tuan Evan!“
“Baik,“ Pria yang bernama Evan itu pun menurunkan senjatanya.
“Zilya! Jangan lakukan itu!“ Tiba-tiba saja, Dania berseru.
__ADS_1
“Dania … Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku akan tetap memastikan dirimu aman walau aku harus mengorbankan nyawaku sendiri, Nia!“ Zilya berucap, lalu tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung bertumpu lutut di hadapan Tuan Evan dan mengangkat tangannya bahwa ia telah menyerah. Terlihat air mata mengalir deras di wajahnya.
“Ha … Ha … Ha! Tidak ku sangka, Nona Zilya, kau begitu mudahnya menyerah demi saudari kembarmu ini, hingga rela mengorbankan nyawamu!“
“Cepat periksa apakah gadis ini membawa benda-benda yang membahayakan!“
Tanpa berlama-lama, anak buahnya pun segera memeriksa Zilya. Zilya terlihat hanya pasrah dengan keadaan tanpa melakukan apapun lagi. Dia hanya berharap, saudari kembarnya baik-baik saja.
“Tidak ada, Tuan.“ jawab anak buahnya setelah memeriksa Zilya.
“Apa kau yakin tidak ada senjata yang dibawa oleh gadis licik ini?“ ucap Tuan Evan sekali lagi.
“Tentu saja, Tuan.“ sahut anak buahnya.
“Baik, ambil tali dan ikat dia sekencang mungkin! Pastikan dia tidak bisa melepaskan diri! Dan lakukan hal yang sama kepada saudari kembarnya ini!“
“Siap, Tuan.“
Anak buahnya pun segera melaksanakan perintah Evan. Sedangkan mulut Dania terpaksa di lakban agar tidak mengagalkan rencana mereka ini.
“Mmmm!“ Dania berusaha mengeluarkan suara, namun ia tidak bisa. Tangannya juga diikat membuat ia tidak bisa melakukan apa-apa.
“Perintah sudah dilaksanakan, Tuan.“ seru anak buahnya.
Dania dan Zilya diikat. Tidak lupa dengan mata mereka yang ditutupi dengan kain. Dan juga mulut mereka yang ditutupi dengan lakban.
“Ha … Ha … Ha! Kehancuranmu akan tiba, Nona Zilya!“ Evan tertawa dengan begitu kerasnya. Ambisinya selama ini, sekarang sudah berhasil.
Tiba-tiba saja, asap hitam mengelilingi mereka. Semakin lama, asap itu bukannya menghilang justru bertambah banyak. Membuat para pria bertubuh tegap yang merupakan anak buah Evan pingsan seketika di tempat.
...~~~...
Sebenarnya tokoh Evan seharusnya tidak dihadirkan dalam novel ini, karena pada saat membuat kerangka, tokoh Evan tidak dibuat.
Namun, supaya Zilya terlihat menjadi tokoh wanita kuat dan mandiri, dengan terpaksa Author menghadirkan tokoh Evan di novel ini.
Menurut kalian, siapa ya yang menyebarkan asap hitam tersebut? Author lagi lancar nih nulisnya, semoga idenya selalu lancar...
__ADS_1
Terimakasih.