
"Zilya,“ panggil Zayn.
“Iya,“
“Apakah kamu sudah memiliki kekasih?“
“UHUK!“
Mendengar pertanyaan Zayn yang terkesan bersifat privasi, membuat Zilya kesedak salivanya.
Zayn yang khawatir karena Zilya kesedak dan takut gadis itu kenapa-kenapa pun segera mengambil air botol yang masih disegel dan memberikannya kepada Zilya.
Zilya pun menerimanya dan meminum air tersebut dalam satu tegukan.
“Sudah merasa lebih baik?“ tanya Zayn dengan rasa khawatir yang menyelimuti hatinya.
“Sudah,“ jawab Zilya.
“Soal pertanyaanku tadi, abaikan saja. Anggap angin berlalu tadi,“ seru Zayn.
Dalam hati ia berucap, “Ahh! Aku malu sekali! Kenapa mulut ini bisa keceplosan sih!?“
“Semoga Zilya tidak menganggap pertanyaanku tadi tidak serius! Ahhh!“ Zayn berteriak dalam batinnya. Merasa malu dengan tindakannya tadi.
“Em, tapi aku ingin menjawab pertanyaanmu,” ucap Zilya membuat jantung Zayn disaat itu ingin melompat dari tempatnya.
“Ti-Tidak perlu, Zil. Tadi aku hanya iseng bertanya kepadamu,“ ucap Zayn sambil membuang wajahnya kearah lain. Takut Zilya melihat wajahnya yang sudah bermerah karena rasa malu yang ditahan sejak tadi.
__ADS_1
“Oh ya? Tapi tidak masalah bukan jika aku menjawab pertanyaan isengmu tadi?“ Zilya seolah tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Zayn tadi. Jangan kira Zilya tidak melihatnya, Zayn.
“Em-em … Tidak masalah sebenarnya,“ jawab Zayn dengan gugup.
“Apa kamu merasa keberatan jika aku menjawabnya?“ Zilya seolah menantang Zayn dikala itu juga.
“I-Iyaa. Aku merasa keberatan jika kamu menjawabnya,“ jawab Zayn sambil menahan rasa malunya. Berharap Zilya tidak bertanya apapun lagi atau mengucapkan kata-kata yang membuatnya semakin malu.
“Em, sebenarnya aku memang belum memiliki kekasih. Sejauh ini, belum ada laki-laki yang cocok denganku. Mungkin inilah yang dinamakan takdir. Takdirku untuk mempunyai kekasih mungkin di tahun depan atau di waktu yang memang sudah digariskan untukku,“ jawab Zilya menjelaskan.
Yang dikatakan Zilya memang benar adanya. Zilya memang belum memiliki seorang kekasih. Sejauh ini, ia lebih sering sibuk dengan pendidikannya. Sehingga tidak memiliki waktu untuk mencari yang namanya kekasih. Lagipula setelah ia lulus kuliah nanti, ia ingin mencapai impiannya.
Masa depannya masih jauh. Jadi, Zilya belum memikirkan hal-hal serius. Zilya ingin mencapai impiannya terlebih dahulu dan menjadi orang sukses dimasa depan. Barulah setelah itu, mungkin ia baru mencari yang namanya kekasih atau merasakan yang namanya jatuh cinta.
Meskipun Zilya belum memiliki kekasih, tapi ia tahu sedikit-sedikit tentang cinta. Kata orang, ketika jatuh cinta, dunia ini seakan milik berdua. Saat jatuh cinta, itu terasa indah. Seolah tidak ada beban di dunia ini.
Zayn pun terdiam. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Zilya. Dari masa remajanya dulu hingga ia mencapai tingkat dewasa pertama, ia benar-benar belum memiliki kekasih. Jangankan kekasih, ia merasakan jatuh cinta saja, baru kali ini dirasakan olehnya. Namun, rasa cinta itu belum dapat dijelaskan benar-benar.
“Terimakasih sudah mengantarkanku, Zayn,“ ucap Zilya. Lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi. Masuk kedalam kontrakannya.
“Sama-sama, Zil. Semoga harimu menyenangkan ya,“ ucap Zayn sebelum Zilya benar-benar turun dari mobilnya.
Mobil yang dinaiki Zayn pun pergi.
Mereka sepertinya tidak menyadari apabila ada seseorang yang bersembunyi dibalik semak-semak melihat apa yang sedang terjadi.
“Sepertinya itu adalah Tuan Zayn dan Nona Zilya! Aku heran, mereka berdua tampaknya adalah orang baik. Lalu, mengapa Bos memerintahku untuk memata-matai mereka?“ heran seseorang tersebut.
__ADS_1
“Tapi … Ya sudahlah, lupakan saja! Mungkin ada sesuatu yang membuat Bos membenci mereka berdua sehingga memintaku untuk memata-matai mereka secara diam-diam,“
Tiba-tiba saja ponsel seseorang tersebut berbunyi. Ia segera mengambil ponselnya yang berbunyi terus-menerus tiada henti itu. Dilihatnyalah layar ponselnya yang masih berbunyi.
Ternyata ada seseorang yang menelepon dirinya. Tanpa menunggu lama, seseorang tersebut segera mengklik ikon berwarna hijau untuk mengangkat panggilan suara darisi penelepon.
“Halo, Bos?” seru seseorang tersebut. Sepertinya seseorang tersebut sedang berbicara dengan atasannya.
“Halo! Apa kamu sudah menemukan kedua orang yang sudah aku katakan kepadamu?“ tanya Bos tersebut tanpa aba-aba melalui panggilan suara.
“Sudah, Bos!” jawab seseorang tersebut yang sepertinya ialah bawahan atau mungkin suruhan dari Bos tersebut.
“Baiklah, katakan padaku! Mereka sedang apa sekarang?“ Bos tersebut tampak tidak sabar.
“Pria itu mengantarkan si wanita ke suatu bangunan yang sepertinya adalah tempat tinggal si wanita tersebut!“
“Dan yaa, setelah mengantarkan si wanita itu, si pria mengucapkan kata-kata manis, lalu membawa mobil entah kemana,“ ucap seseorang tersebut menjelaskan.
“Kamu ikutilah si pria itu! Ingat perkataanku, jangan sampai ketahuan olehnya! Atau tidak, nyawamu akan merenggang ditangannya! Camkan itu!“ perintah Bos tersebut.
“Baik, Bos! Akan segera ku ikuti pria tersebut!“ sahut anak buahnya.
“Camkan apa yang aku katakan tadi! Aku tunggu kabar baik darimu!“ Setelah itu, panggilan suara pun dimatikan secara sepihak oleh Bos tersebut.
“Aku harus segera mengikuti si pria itu!“ Anak buahnya pun segera menaiki sebuah motor dan mulai mengikuti si pria.
Dari situlah, anak buah tersebut tiada henti memata-matai seorang pria dan juga seorang wanita. Tidak lupa setelah memata-matai, ia melaporkan apa yang sudah dilihatnya kepada si Bos. Dia melakukan pekerjaannya dengan baik sesuai perintah Bosnya.
__ADS_1
“Baiklah!“ ucap Bos tersebut lalu mematikan panggilannya. Ia baru saja mendapatkan laporan lagi tentang si pria dan si wanita tersebut.
“Lihat saja kalian nanti! Tidak akan kubiarkan kalian berbahagia diatas penderitaan-ku! Ku pastikan kalian akan mendapatkan balasan yang berkali-kali lipat rasanya dari yang aku rasakan sekarang ini!“ Mata Bos tersebut terlihat merah. Tatapannya begitu tajam dan menusuk, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa ketakutan.