
Keesokan harinya pun tiba.
Seluruh mahasiswa di Kampus Lily masuk kembali seperti semula. Termasuk Zilya Daisha.
“Zilya!“ panggil seorang mahasiswa yang membuat sang pemilik nama menoleh kearah sumber suara itu.
“Mei?“ seru Zilya, mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan penglihatannya kali ini tidak salah. Bahwa mahasiswa didepannya saat ini adalah Mei.
“Iya, Zil. Aku Mei. Sahabatmu,“ sahut Mei sambil memeluk tubuh Zilya dengan erat.
Zilya memeluk balik tubuh Mei. Rasa rindu dengan sahabatnya ini mengalahkan segala pertanyaan yang muncul di benaknya.
“Mei. Kamu selama ini kemana saja?“ Zilya mengajak Mei sahabatnya duduk.
“Aku ke Bali, Zil,“ jawab Mei menghapus air matanya yang keluar.
“Karena masalah keluarga, aku terpaksa harus pulang ke sana. Dan akhirnya setelah sekian lama, masalah keluargaku selesai. Jadi, aku kembali ke Kota ini untuk melanjutkan pendidikanku,“ jelas Mei dengan panjang lebar.
Zilya mengelus punggung sahabatnya itu.
“Kamu sekarang sudah berubah ya,“ Tiba-tiba saja, Mei menyadari bahwa sahabatnya kini sudah berubah. Tidak seperti dulu lagi, Zilya yang jelek dan juga gendut, dan bahkan dijuluki si buruk rupa.
“Iya, Mei,“ jawab Zilya.
__ADS_1
“Ceritakan dong, apa saja yang terjadi pada dirimu selama aku tidak ada. Aku penasaran,“ pinta Mei.
Zilya pun menceritakan kejadian selama ini tanpa ada sedikitpun cerita yang dilewati. Ada kisah suka, duka si ceritanya itu. Mei pun menghapus air matanya yang keluar mendengar cerita sahabatnya.
“Yang sabar ya, Zil. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan,“ Mei memeluk sahabatnya itu. Sahabatnya kini sudah tidak seperti dulu, sahabatnya lebih terlihat tegar menghadapi masalah kehidupan dibandingkan sebelumnya. Ia bangga dengan sahabatnya itu.
***
Mereka pun masuk ke kelas yang sama. Kebetulan, mereka memilih jurusan yang sama.
Saat dalam proses belajar mengajar, tiba-tiba saja seorang Polisi bersama rekan-rekannya datang ke kelas tersebut. Semua mahasiswa berkeringat dingin melihat kedatangan para Polisi tersebut. Takut mereka berbuat kesalahan tanpa disadari dan disengajai.
“Haduh, ada apa ya Polisi datang ke kelas kita?“ seru mahasiswa 1 kepada temannya.
Kebetulan, dosen yang sedang mengajar adalah Dosen Saskia. Bu Saskia menghampiri rekan-rekan Polisi itu diluar.
“Permisi, Pak,“ ucap Bu Saskia dengan sopan. Bu Saskia terlihat kebingungan, sebab para polisi ini datang ke Kampus untuk apa? Pasti ada yang tidak beres, benaknya.
“Selamat pagi, Bu Saskia,“ seru Polisi itu mewakili rekan-rekannya.
“Selamat pagi, Pak. Ada apa ya?“ tanya Bu Saskia dengan sopan. Memastikan dirinya tidak ada salah ucap, atau ada kata-kata yang kurang pantas dikeluarkan.
“Adakah di kelas Ibu, memiliki ciri-ciri berikut. Memiliki kulit berwarna putih gading. Rambut sebahu, memiliki tato di lengan mereka. Memakai kacamata berwarna desty dan juga berwarna taro?“ tanya Polisi itu yang tidak berbasa-basi lagi.
__ADS_1
"Ciri-ciri yang Bapak sebutkan, ada di kelas saya. Namun, untuk soal memiliki tato di lengannya, saya rasa tidak ada. Di Kampus ini, melarang setiap mahasiswa memiliki tato ataupun membuat tato di bagian tubuh mereka. Jika ada yang berbuat, maka akan diberikan sanksi tegak. Setiap hari sebelum masuk juga akan dilakukan pemeriksaan tato,“ jelas Bu Saskia.
“Bisakah Ibu menunjukkan yang mana memiliki ciri-ciri yang saya sebutkan tadi?“ tanya Polisi tersebut.
“Bisa, Pak. Akan saya panggilkan, mohon tunggu sebentar,“ jawab Bu Saskia lalu masuk kedalam kelas memanggil kedua mahasiswa yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan oleh pihak kepolisian tadi.
“Naomi, Nancy. Mari ikut saya,“ panggil Bu Saskia.
Naomi dan Nancy pun ikut bersama Bu Saskia keluar.
“Haduh, ada apa ini ya? Aku khawatir banget, kalau ada yang melaporkan kita kepada pihak kepolisian,“ bisik Nancy sambil berjalan keluar.
“Sama, Mi. Aku juga takut ini, apa jangan-jangan soal kemarin itu ya?” bisik Nancy yang seakan semakin menambah ketakutan diantara keduanya.
Hingga tidak terasa, mereka pun sudah dihadapan para rekan Polisi itu.
“Baiklah, Bu. Terima kasih atas bantuannya. Saya izin membawa kedua mahasiswa ini ke Kantor Polisi untuk menjalani pemeriksaan,“ seru Polisi itu yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Bu Saskia.
“Baik, Pak,“ jawab Bu Saskia.
Polisi-polisi itu pun membawa Naomi dan Nancy menuju ke Kantor Polisi. Walau sempat, keduanya menolak dengan alasan tidak melakukan apapun, akhirnya setelah dipaksa, mereka pun mau ikut menjalani pemeriksaan.
Tangan kedua mahasiswa itu terpaksa diborgol ke belakang oleh Polisi agar kedua mahasiswa itu tidak kabur nantinya. Bahkan kakinya juga diborgol bersamaan agar lebih mudah menjalani pemeriksaan nantinya.
__ADS_1
“Semoga saja, bukti-bukti yang menguat ini dihapus sama anak buah Papa,“ batin Naomi yang masih berharap lebih.