Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 48 : KELULUSAN II


__ADS_3

Namun, hasilnya tetap sama. Beberapa dosen mulai melakukan pencarian. Hingga satu gedung itu, diantara mereka tidak ada yang dapat menemukan Zilya.


Mei, salah satu sahabat Zilya juga ikut turut membantu mencari keberadaan Zilya.


Semua para tamu merasa kebingungan. Sebab, semua dosen dan mahasiswa seolah sedang merasa panik dan berlarian ke satu tempat menuju tempat lainnya.


Diantara semua para tamu yang hadir pada acara ini. Ada diantara mereka yang sedang tersenyum sinis saat ini. Tidak dapat dipungkiri, akhirnya rencana yang dibuat dengan penuh susah perjuangan besar akhirnya berhasil.


“Akhirnya! Selamat kepadamu, Zilya! Sangat disayangkan, dirimu harus dikurung sementara di Markasku!“ batin tamu terdekat sambil tersenyum sinis. Mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


***


Sementara disisi lain. Terlihat seorang gadis yang terlikat di sebuah kursi. Badannya dililitkan oleh tali. Membuat badannya seolah tidak bisa bergerak sedikitpun. Sepertinya sangat penculik sengaja agar dirinya tidak mudah melepaskan diri.


Markas tersebut dijaga ketat oleh begitu banyak pengawal. Namun, hanya diluar Markas. Didalam Markas, hanya sekitar satu ataupun dua orang saja yang menjaga.


Tiba-tiba saja, ponselnya bergetar di saku gaun yang dikenakannya. Dengan perlahan, gadis tersebut mengambil ponsel tersebut secara diam-diam. Meskipun hampir seluruh badannya dililitkan oleh tali, tidak membuat gadis tersebut tidak bisa bergerak sama sekali, malah dia lebih terlihat leluasa bergerak.


Jarinya meng-klik layar dengan tombol panggilan berwarna hijau.

__ADS_1


“Halo,“ ucap gadis tersebut dengan suara pelan. Tujuannya agar penjaga-penjaga disana tidak dapat mendengar suaranya.


“Hai. Ini saya, Zilya,“ sahut seseorang didalam telepon. Mengatakan bahwa dirinya adalah Zilya.


“Halo, Zil! Maaf, aku bersuara dengan sangat pelan. Disini begitu banyak penjaga. Dan aku melihat mereka rata-rata menggunakan perekam suara. Jadi, agar suaraku tidak terdengar, aku terpaksa memelankan suaraku. Kamu dapat mendengarnya, kan?“ seru gadis tersebut dengan panjang lebar namun tetap dengan nada suara pelan.


“Ya, tentu saja. Aku dapat mendengar suaramu dengan jelas dari sini,“ sahut Zilya.


“Katakan padaku, apa kamu baik-baik saja disana? Apa mereka tidak melakukan sesuatu buruk kepadamu?“ tanya Zilya dengan nada khawatir.


“Aku baik-baik saja. Mereka tidak melakukan sesuatu buruk kepadaku. Namun, aku tidak bisa menjaminnya, Zil. Sebab, bisa saja mereka melakukan sesuatu itu kepadaku nantinya,“ jawab gadis tersebut menjelaskan.


“Disana penjagaannya bagaimana? Apalah begitu ketat atau begitu longgar?“ tanya Zilya lagi.


“Sepertinya si penculik kurang ahli dalam menyusun strategi. Bagaimana bisa diluar diletakkan begitu banyak penjaga sedangkan didalam seolah dibebaskan?“ seru Zilya.


“Haha, bisa jadi tuh, Zil!“ jawab seorang gadis tersebut.


“Baiklah, Dan. Nyalakan GPS mu sekarang. Aku akan menghampirimu kesana untuk membebaskan dirimu sekarang juga,"

__ADS_1


Sepertinya sang penculik salah sasaran. Niat hati ingin menculik seorang gadis bernama Zilya Daisha, justru mereka malay menculik gadis lain. Dan lebih parahnya, mereka justru percaya begitu saja apabila gadis yang mereka culik itu adalah Zilya.


“Tidak, Zil! Sebaiknya kamu selesaikan saja terlebih dahulu wisudamu! Kasihan para dosen dan mahasiswa lainnya mencari dirimu!“ tolak gadis yang dipanggil Dan itu dengan penuh penekanan dan begitu tegas.


“Dania! Dengarkan Aku baik-baik. Aku ingin kamu secepatnya bebas. Karena Aku takut mereka melakukan sesuatu yang buruk kepadamu. Seharusnya kamu tidak terlibat sama sekali didalam masalah ini,“


“Masalah ini terjadi karena mereka ingin diriku. Mari, Dania. Jangan pikirkan aku. Kamu juga harus memikirkan diri kamu sendiri juga,” ucap Zilya.


“Zil! Aku tahu, masalah ini memang seharusnya tidak terlibat denganku. Namun, Aku sengaja membiarkan mereka menculikku agar dirimu bebas. Bukankah kamu memiliki acara kelulusan hari ini? Ingat, Zil, jangan lupalah untuk menghadiri acara istimewa itu!“ peringat gadis tersebut yang ternyata adalah Dania.


Tanpa berpamitan ataupun mengucapkan kata-kata penutup, Zilya langsung mematikam sambungan telepon secara sepihak. Saat ini, dirinya sedang didalam mobil. Menarik napas panjangnya lalu membuangnya secara perlahan. Diambilnyalah satu botol air mineral itu, dan meneguknya hingga habis tidak tersisa.


Saat berteleponan dengan Dania, Zilya secara diam-diam melacak lokasi Dania pada kala itu. Sebenarnya hal tersebut dilakukan oleh Zilya karena ia ingin Dania secepatnya bebas dari masalah tersebut.


“Dania. Seharusnya kamu tidak terlibat dalam masalahku ini. Kamu tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Jangan membuatku merasa bersalah dan egois karena mengorbankan dirimu demi diriku,“ ucap Zilya penuh penekanan. Lalu, menyetir mobilnya dan menuju tempat lokasi Dania saat itu juga.


Zilya pergi tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


***

__ADS_1


“Ahh, Zil!“ teriak Dania dalam batinnya. Tentu dia tidak akan berani berteriak secara langsung. Karena secara tidak langsung dan tanpa disadari, ia memanggil semua penjaga kemari. Dan itu sangat berbahaya.


“Zilya tidak akan berhenti begitu saja. Pasti dia akan lakukan apapun demi tujuannya," ucap Dania dengan bingung. Ia bingung harus mengambil langkah apa untuk selanjutnya.


__ADS_2