Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 54 : ZILYA PINGSAN


__ADS_3

Evan pun dibawa masuk ke dalam mobil Polisi. Ia diapit kanan kiri oleh Polisi. Tidak sengaja, matanya melihat Naomi dan Nancy yang juga diseret oleh Polisi.


“Itukan Naomi dan Nancy?“ gumam Evan lirih. Ia tidak menyangka bahwa hari ini akan menjadi kehancuran baginya. Karena ambisinya untuk menghancurkan Zilya, justru malah dirinya yang terhancurkan.


Karma itu nyata. Apa yang kita perbuat, itulah yang akan kita tuai nanti. Maka, sebaiknya dalam bertindak, berpikirlah dengan bijak. Dan berhati-hatilah dalam bersikap agar orang lain tidak merasa tersinggung dengan ucapanmu.


***


Di sisi lain, di waktu yang bersamaan …


Zayn dan Zilya saling melemparkan senyum. Hanya mereka yang mengetahui apa maksud dari senyuman yang mereka lemparkan.


“Terima kasih sudah membantuku dan Dania, Zayn,“ ucap Zilya sambil tersenyum.


“Mungkin jika tadi kamu tidak datang membantu kami, mungkin kami …“ Zayn meletakkan telunjuknya di bibir Zilya. Seketika membuat Zilya terdiam.


“Sstt, sudah tidak perlu dilanjutkan. Aku ikhlas kok menolongmu dan Dania," Zayn mengucapkannya sambil tersenyum manis.


Wajah Zilya seketika memerah. Ia memalingkan wajahnya kearah lain, agar Zayn tidak melihatnya. Namun, Zayn sudah lebih dulu melihatnya sebelum Zilya memalingkan wajahnya.


Flashback


“Baik, ambil tali dan ikat dia sekencang mungkin! Pastikan dia tidak bisa melepaskan diri! Dan lakukan hal yang sama kepada saudari kembarnya ini!“ Begitulah perintah dari Evan.


Saat Zilya dan Dania diikat oleh anak buah Evan. Di antaranya yang sedang mengikat Zilya saat itu, tiba-tiba membisikkan sesuatu di telinga Zilya.


“Zilya, ini aku Zayn.“ Bisikan tersebut membuat Zilya terkejut, namun ia menutupi keterkejutannya dengan baik, sehingga Evan dan anak buah Evan yang lainnya tidak mengetahui akan hal tersebut.


“Kenapa kamu bisa disini, Zayn? Apa kau bekerja sama dengan Tuan Evan?“ ucap Zilya dengan suara yang sangat pelan sekali.

__ADS_1


“Tidak, Zil. Aku disini untuk menolongmu, jadi kamu tenang saja. Maafkan aku karena harus mengikatmu sesuai perintah Tuan Evan agar aku tidak ketahuan karena sudah menyamar jadi anak buahnya ini,“ bisik Zayn dengan lembut, membuat Zilya merasa geli di telinganya.


Zilya tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Ia hanya mengangguk perlahan.


“Maafkan aku sekali lagi, Zil,“ ucap Zayn dengan penuh penyesalan lalu mulai mengikat Zilya.


“Aku akan menolongmu, Zil. Tapi tolong ikuti sesuai apa yang aku katakan ya,“ bisik Zayn saat ingin menutupi mata Zilya dengan kain.


Zilya menatap Zayn sebagai jawaban bahwa ia setuju.


Diam-diam, Zayn memberikan Zilya berupa bola yang dimana jika dilemparkan, maka bola tersebut akan pecah dan mengeluarkan asap hitam.


Zilya pun hanya menurut. Walau tangannya terikat dengan kencang, ia berusaha keras untuk memegang bola tersebut. Keringat mengalir di pelipisnya. Namun, anak buah Evan termasuk Evan sendiri mengira Zilya berkeringat karna berusaha melepaskan diri, apalagi Zilya yang mencoba berpindah tempat.


Setelah memastikan situasi dan keadaan mereka saat ini aman, Zayn langsung memberikan aba-aba kepada Zilya. Dengan mata yang tertutup, Zilya pun mencoba melemparkan bola tersebut sesuai arah yang dikatakan Zayn. Walau sulit, ia akan mencobanya.


“DUAR!“


Zayn membuka lakban mulut Zilya lebih awal.


“Ambil pisau di balik jaket yang aku gunakan ini, Zayn …“ Zilya berucap dengan lirih.


“Pisau?“ Zayn mengernyitkan alisnya. Bagaimana bisa Zilya lolos diperiksa tadi?


Zayn datang di lokasi Zilya disaat-saat Zilya diberi ancaman dan dipaksa untuk menuruti apa kata Tuan Evan. Disaat itulah Zayn mulai menyamarkan dirinya menjadi anak buah Evan. Namun sayangnya, dirinya tidak ikut memeriksa Zilya karena pada saat itu, ia sibuk membuat dirinya benar-benar tersamarkan.


“Iya, pisau. Segera ambil untuk melepaskan ikatan ku ini!“ seru Zilya.


“Ba-Baik.“ Zayn pun mengambil pisau dibalik jaket yang digunakan oleh Zilya. Ia tidak menyangka bahwa Zilya akan senekat itu dengan membawa benda-benda seperti itu.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Zayn segera melepaskan ikatan tali di tubuh Zilya dan tidak lupa pada tubuh Dania. Setelahnya, mereka bertiga bergegas beranjak dari tempat tersebut. Memutuskan mencari tempat persembunyian untuk menyusun jebakan untuk Evan.


Beruntungnya, Zayn membawa ponsel. Sehingga mereka memutuskan untuk lebih dulu menghubungi pihak kepolisian. Setelah itu, barulah mereka menyusun jebakan untuk Evan.


Flashback off.


***


“Zil, Zilya!“ seru Zayn panik ketika Zilya tiba-tiba saja pingsan. Dengan cepat, ia mendekap tubuh lemah itu kedalam pelukannya.


“Sepertinya Zilya pingsan,“ ucap Dania.


“Ayo bawa Zilya ke Rumah Sakit sekarang!“ ajak Dania yang masih dapat berpikir dengan jernih.


Zayn menggendong Zilya bersama Dania dengan panik sambil menuju tempat dimana mobilnya diparkir.


Zayn membuka pintu mobil di bagian penumpang. Sedangkan Dania mau tak mau ia harus duduk bersama Bram.


“Kita ke Rumah Sakit sekarang, Bram!“


“Baik, Tuan.“ Meskipun bingung dengan keadaan, namun setelah melihat Zilya pingsan, pikirannya langsung dapat mencerna apa yang baru saja terjadi.


Mobil mewah tersebut pun meninggalkan markas Evan secara perlahan.


...***...


*Jangan lupa dukungannya yaa.. Author udah usahakan buat crazy update lohh buat hari ini....


Terimakasih banyak.

__ADS_1


Author*.


__ADS_2