Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 64 : KEMBALI KE INDONESIA


__ADS_3

Setelah diwawancarai dengan ribuan pertanyaan oleh wartawan, Zilya bersiap-siap berangkat ke Bandara untuk memesan tiket ke Indonesia.


Pada pukul 20.00, Zilya berangkat ke Indonesia dengan pesawat.


1 jam 40 menit telah berlalu, akhirnya Zilya sampai di Bandara Soekarno-Hatta.


Karena sudah larut malam dan tidak memungkinkan untuk pergi ke rumah Mei malam-malam, Zilya pun memutuskan untuk menginap di salah satu hotel yang dekat dengan Bandara.


Sesampainya Zilya di Hotel, Zilya masuk ke lobby hotel dan mengambil kunci kamar di meja resepsionis. Kebetulan Zilya merupakan salah satu member VIP di hotel tersebut, sehingga ia bisa check-in melalui online.


Setelah membersihkan badan, Zilya langsung tertidur.


***


Keesokan harinya telah tiba.


Pukul 10.00.


Zilya memesan taksi dan segera ke rumah Mei. Dia belum memberitahu Mei bahwa dia sudah sampai di Indonesia karena ingin memberinya sebuah kejutan.


Sesampainya di rumah Mei, dia tidak dapat masuk karena gerbang masih dikunci dan dijaga oleh satpam. Satpam tersebut merasa asing sehingga menghampiri Zilya.


“Selamat pagi Nona. Maaf, apakah anda sudah membuat janji dengan tuan rumah? Jika belum, maaf anda tidak bisa masuk. Bisakah saya mengetahui siapa nama anda, nona?“ tanya satpam tersebut dengan sopan.


“Nama saya Zilya. Saya sahabatnya Mei,“ jawab Zilya.


Satpam tersebut menatap Zilya tidak percaya. Namun demikian, ia tidak langsung membukakan gerbang melainkan menghubungi nonanya untuk memastikan apakah benar.


“Halo, selamat pagi Nona Mei. Maaf menganggu waktunya di pagi hari ini, apakah anda memiliki janji dengan sahabat anda? Eumm namanya Zilya,“ ujar satpam tersebut langsung ke intinya.

__ADS_1


“Zilya? Suruh dia masuk, pak!“ jawab Mei meskipun dia masih terkejut karena Zilya tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa memberitahu kepada dirinya.


“Baiklah Nona,“


Gerbang rumah pun dibukakan. Zilya diantar ke ruang tamu oleh satpam tersebut.


“Zilya? Aku tidak menyangka kau akan secepat ini sampai ke Indonesia. Padahal 2 hari yang lalu, kau mengatakan akan memesan tiket besoknya,“ ujar Mei sambil memeluk Zilya. Rasa rindu yang tertahankan selama ini akhirnya tumpah juga.


“Maaf Mei karena tidak memberitahumu. Aku hanya ingin memberimu kejutan. Itu saja.“ jawab Zilya sambil memeluk balik sahabatnya.


Mereka pun duduk-duduk lalu mulai bercerita-cerita apa yang mereka alami selama beberapa bulan ini. Ternyata begitu banyak perkembangan yang terjadi.


“Oh ya Zil, aku baru saja menontonmu di televisi. Kau sangat keren!“ puji Mei.


“Terima kasih. Aku tidak sekeren yang kau kira,“ ucap Zilya sedikit merendahkan dirinya.


“Tidak! Kau keren pokoknya!“ bantah Mei yang tak terbantahkan.


Jawaban Zilya membuat Mei terheran-heran. Sejak kapan sahabatnya itu membalas dendam? Sementara selama ini sahabatnya pergi ke luar negeri. Apakah sahabatnya membalas dendam melalui anak buahnya? Atau hal lain? Sahabatnya itu memang hobi membuat dirinya penasaran setengah mati.


“Sejak kapan?“


“Membalas dendam tidak harus mengotori tanganku. Tapi dengan membuktikan bahwa aku lebih hebat dibandingkan mereka,“ jawab Zilya yang membuat Mei terdiam mencerna maksud dari Zilya.


Zilya yang melihat Mei terdiam kembali melanjutkan ucapannya, “Mereka yang membully karena mereka iri dengan keadaan kita. Mereka tidak akan bisa bahagia jika kita bahagia dan sukses. Jadi, sampai sini kau paham kan, kalau balas dendam itu tidak perlu dengan cara membunuh atau menyiksanya,“


Mei mengangguk. Ia tidak menyangka sahabatnya akan lebih bijak dibandingkan dirinya.


***

__ADS_1


Sementara itu, di sisi lain..


Zayn atau biasanya sering dipanggil Daffa mendapatkan informasi bahwa orang yang selama ini ia cari berada di Jakarta, Indonesia. Daffa kebetulan berada di Jakarta pun langsung bergegas menuju lokasi yang lebih detailnya.


Sesampainya di lokasi tersebut, ia pun dipersilakan masuk oleh satpam karena satpam telah mengenali pria itu adalah teman dekat anak majikannya.


Dua gadis yang sedang berbincang-bincang seketika terkejut melihat Daffa di rumah.


“DAFFA?!“


“Aku sudah mencari keberadaanmu berbulan-bulan dan akhirnya hari ini aku menemukanmu. Selama ini kau berada di mana, Zil?“ tanya Daffa sambil menghampiri Zilya. Raut wajahnya terlihat khawatir namun telah tergantikan rasa senang karena telah menemukan pujaan hatinya.


“Aku berada di Singapura,“ jawab Zilya.


Zilya pun akhirnya menjelaskan kehidupannya selama beberapa bulan ini kepada Daffa.


Daffa mendengarkan sambil menatap wajah indah Zilya hingga tidak menyadari bahwa Zilya sudah selesai bercerita.


“Daf? Daffa?“ panggil Zilya namun tidak digubris oleh Daffa. Daffa asik melamun sambil menatap Zilya membuat Zilya merasa risih.


“Daffa?!“ panggil Zilya sekali lagi. Akhirnya pria itu sadar kalau sedari tadi ia hanya melamun.


“Kau mendengarkan apa yang aku ceritakan tidak??“


“Tentu aku mendengarnya,“ jawab Daffa dengan tenang, walau hatinya tidak tenang.


***


Di sisi lain, terlihat seorang pria paruh baya sedang membanting barang-barangnya dengan penuh amarah setelah menonton televisi.

__ADS_1


Karyawannya bahkan tidak ada yang berani menghampirinya dikarenakan takut menjadi amukan pria tersebut. Termasuk asistennya.


“Aku tidak terima dengan semua ini! Aku harus membuat nama baiknya hancur!“ Pria tersebut menyeringai lalu menghubungi seseorang.


__ADS_2