
***
Di sisi lain..
“Itu apa, Daffa? Bicaralah dengan benar!“ ucap Zilya.
“Itu anu …“ Daffa benar-benar merasa gugup. Saking gugupnya kakinya bergetar hingga tak mampu menompang tubuhnya.
“Katakan yang jelas, Daffa! Kenapa kau berbicara dengan gugup?“ Zilya mulai merasa kesal.
“A-aku sebenarnya mencintaimu, Zilya Daisha,“ sahut Daffa dengan wajah memerah. Ia menundukkan kepalanya agar Zilya tidak melihat ia malu.
“A-apa?“ Zilya tiba-tiba menjadi gugup. Ia tidak tahu mengapa jantungnya berdegup kencang. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya? Sungguh, ia tidak mengerti!
“Aku mencintaimu, Zilya Daisha!“ ulang Daffa.
Zilya diam tidak berkutik. Wajahnya juga memerah, namun ia menyembunyikannya dengan menundukkan kepalanya.
Sebenarnya, apakah mereka berdua saling mencintai ataukah hanya cinta bertepuk sebelah tangan?
***
Sementara itu..
Di Kantor Polisi.
__ADS_1
Veni, Naomi dan Nancy benar-benar tidak menyangka. Mereka dipenjara bersama Gavin di kantor yang sama.
“Kalian?“ Gumam Gavin dalam hati ketika melewati penjara yang ditempati ketiga orang tersebut. Dalam hati, ia masih bingung mengapa ketiga wanita itu dipenjara. Masih menjadi misteri..
Gavin dikembalikan ke Penjaranya usai pulang dari Rumah Sakit. Beruntung luka di tangannya tidak begitu parah sehingga hanya diperban.
“Sebenarnya mengapa ketiga orang itu di penjara? Aku benar-benar kesal setiap melihatnya!“ gerutu Gavin.
Veni pun dipanggil salah satu Polisi. Ia dibawa ke suatu ruangan. Lalu tidak lama kemudian, Naomi dan Nancy juga dipanggil ke ruangan yang berbeda. Hal tersebut membuat Gavin penasaran. Namun, ia tidak mau bertanya karena ia masih marah kepada ketiga orang itu terutama pada mantan istrinya.
Di dalam ruangan Veni.
“Hasil pemeriksaan bahwa saudari positif mengonsumsi obat-obatan terlarang. Dan juga kami telah mencari tahu bahwa saudari merupakan salah satu pengedar obat-obatan,“ jelas Polisi.
“Tidak, tidak! Itu semua bohong!“ bantah Veni. Ia tidak menyangka bahwa Polisi akan bertindak secepat itu.
“Sudah saya katakan, itu semua bohong! Saya tidak ada menyimpan sama sekali obat itu, bahkan mengonsumsinya ataupun menjualnya,“ bohong Veni. Padahal selama ini itulah pekerjaan yang dilakukannya demi hidup kaya raya walau ada risiko tinggi yaitu apabila ketahuan pelaku bisa dipenjara selama bertahun-tahun atau bahkan berpuluh tahun jika masalahnya berat.
“Maaf Saudari, ini semua sudah terbukti. Saudari dapat melihat foto-foto serta berkas-berkas ini jika saudari tidak mempercayai saya,“ seru Polisi itu sambil memberikan beberapa berkas dan juga foto-foto sebagai bukti Veni.
Veni masih saja terus membantah membuat Polisi itu kesal. Polisi itu pun memutuskan untuk keluar dari ruangan Veni dan meminta Polisi lainnya untuk menggantikan dirinya.
Demikian dengan Naomi dan Nancy. Kedua gadis itu juga melakukan hal sama. Inilah yang dikatakan pepatah ’buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ yang bermakna sifat anaknya tidak jauh dari orangtuanya.
Hal tersebut terjadi pada Veni dan Naomi. Sifat mereka tidak jauh berbeda, bukan? Hanya Nancy yang tidak memiliki ikatan kakak beradik dengan Naomi, namun ikatan sepupu. Mungkin juga ada pengaruhnya...
__ADS_1
***
Sementara itu...
Di sebuah Danau yang indah.
Suasana hening. Keduanya sama-sama tidak mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Antara rasa malu dan jatuh cinta bercampur.
“Apakah kamu juga mencintaiku, Zilya?“ tanya Daffa memberanikan diri. Walau hatinya ada rasa takut ternyata gadis itu tidak memiliki perasaan padanya.
Krik krik krik
“A-aku …“ Zilya benar-benar gugup untuk menyatakan perasaan sebenarnya kepada Daffa.
“Katakan saja, Zilya. Tidak apa,“ Daffa mengira bahwa Zilya takut menyatakan perasaan bahwa sebenarnya gadis itu tidak memiliki perasaan apapun. Ia pun menyiapkan hati agar kuat mendengar jawaban Zilya.
“Semoga saja dia juga mencintaiku,“ gumam Daffa dalam hati.
“Aku sebenarnya juga mencintaiku, Zayn Daffa,“ jawab Zilya dengan suara pelan.
Deg!
.
.
__ADS_1
.
.