Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 40 : KAGUM?


__ADS_3

Disepanjang perjalanan menuju pulang, tidak ada yang membuka suara. Keduanya sama-sama memikirkan, sebenarnya yang mereka tadi lihat adalah manusia ataukah sosok-sosok yang memang tidak sengaja dilihat.


***


Malam hari pun tergantikan dengan pagi hari. Tugas bulan sudah selesai, kini tugas Bulan digantikan oleh Matahari. Matahari akan menyinari bumi ini hingga waktu tugasnya selesai.


Pagi hari ini begitu cerah. Matahari bersinar tidak begitu panas, dan tidak begitu biasa saja.


Di Kampus Lily.


Para mahasiswa berkumpul dengan teman-temannya sebelum masuk kedalam kelas jurusan yang mereka pilih masing-masing.


Hari ini, Zayn sengaja datang lebih cepat dari biasanya. Ia ingin memastikan dugaannya semalam apakah benar atau salah.


Manik matanya menelusuri isi Kampus tersebut. Biasanya seseorang yang dicarinya itu datang lebih cepat dibandingkan mahasiswa-mahasiswa lainnya termasuk dirinya.


Usai berkeliling Kampus, ia tidak menemukan sosok yang dicarinya.


“Apakah dia datang terlambat?“ pikir Zayn.


“Tapi tidak biasanya dia datang terlambat,“


“Apakah dia baik-baik saja?“ Rasa khawatir dengan sosok tersebut muncul di hatinya.


“Zil, semoga kamu baik-baik saja,“ harap Zayn dalam hati.


Ternyata sosok yang dicari oleh Zayn adalah Zilya. Sepertinya Zilya adalah sosok yang benar-benar penting bagi seorang Zayn. Bahkan hingga mengkhawatirkan gadis tersebut.


Detik demi detik, menit demi menit. Waktu sudah berlalu 30 menit, namun hingga sejauh ini, ia belum melihat sosok Zilya.

__ADS_1


“Kemana dia? Tidak seperti biasanya dia seperti ini,“ Zayn berusaha berpikir positif terhadap Zilya.


“Mungkin dia terlambat bangun,“


“Atau mungkin dia terjebak macet di jalan,“


“Jangan-jangan, sebenarnya Zilya sudah datang, tapi aku tidak begitu fokus melihatnya?“ Zayn tiba-tiba merasa apabila Zilya sudah datang lebih dulu.


“Sebaiknya aku tanyakan saja kepada Mei. Mei biasanya lebih tahu tentang Zilya,“ Zayn pun mulai mencari-cari Mei.


Mei adalah sosok sahabat Zilya. Dia selalu menemani Zilya dalam keadaan terpuruk ataupun sedang antusias. Hanya saja, beberapa minggu ini, dia harus pergi karena ada urusan keluarga.


“Mei!“ panggil Zayn ketika manik matanya melihat sosok Mei dari jauh.


Sang empunya nama pun menolehkan wajahnya kearah sumber suara. Dan langsung menghampiri si pemanggil.


“Kamu lihat Zilya tidak?” Tanpa basa-basi panjang, Zayn langsung bertanya yang menjadi tujuan dirinya mencari Mei.


“Zilya? Justru aku ingin menanyakannya kepadamu. Karena sejak aku datang, aku tidak melihatnya,“ jawab Mei.


“Apakah Zilya ada mengirimkan pesan kepadamu? Seperti misalnya dia hari ini izin atau sakit dan sebagainya?“ tanya Zayn.


“Tidak ada sama sekali,“ jawab Mei.


“Semalam baru saja kami saling chat di media sosial,“


“Jika kamu tidak percaya, tidak masalah. Tapi aku punya buktinya,“ ucap Mei sambil menyerahkan ponsel sebagai bukti bahwa semalam ia chat dengan Zilya.


“Lalu kemana perginya Zilya?“ Tanpa sengaja, Zayn melihat jam tepat terakhir kali chat yang dikirimkan oleh Zilya.

__ADS_1


“Jam 7 malam?“ batin Zayn merasa bingung.


“Aku tidak tahu, Daf. Makanya aku sedang mencarinya. Mana tahu Zilya sedang usil sehingga bersembunyi dan ingin kita mencari dirinya,“ seru Mei.


“Sebelumnya, apakah Zilya memang sering usil?“ tanya Zayn dengan penasaran. Saat Mei mengatakan tentang Zilya, ia menjadi penasaran dengan kehidupan Zilya yang sebenarnya.


“Tidak sih, Daf. Zilya malah lebih terkesan sopan dan ramah kepada siapapun,“ jawab Mei dengan jujur.


“Siapapun? Termasuk kamu dan juga orang terdekatnya?“ Zayn merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mei.


“Tentu. Intinya kepada siapapun. Kepada kamu dia juga sopan dan ramah. Kepada guru juga,“ tambah Mei.


Zayn tiba-tiba merasa hatinya kagum dengan sosok Zilya.


“Ini hanya sekadar rasa kagum saja bukan?“ Zayn menenangkan dirinya bahwa dirinya tidak jatuh cinta dengan sosok bernama Zilya.


“Ada apa, Daf? Kok malah jadi melamun,“


“Tidak apa-apa, Mei. Ya sudah, nanti kalau Zilyanya sudah datang, kasih tahu ke aku ya,“ pinta Zayn.


“Laksanakan, Daf,“ jawab Mei sambil cekikikan kecil.


***


Jika suka dengan novelnya, jangan lupa diberi like, komen, dan favoritnya yaa.


Terimakasih banyak atas dukungan kalian semua.


Author

__ADS_1


__ADS_2