Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 28 : TAMPARAN


__ADS_3

“Semoga saja, bukti-bukti yang menguat ini dihapus sama anak buah Papa,“ batin Naomi yang masih berharap lebih.


Setelah melakukan perjalanan yang hampir memakan waktu satu jam, akhirnya mobil Polisi itu sampai di depan Kantor Polisi. Ketiga Polisi itu bergegas turun mengawal Naomi dan Nancy masuk kedalam.


Kedua gadis yang masih mahasiswa itu bersikeras menolak, bahkan mereka tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya di balik jeruji besi menanggung perbuatan mereka disana.


Dan akhirnya ketiga polisi itu menarik paksa. Karena tidak mungkin mereka terus-menerus membujuk kedua mahasiswa itu agar turun.


Ketiga Polisi itu mengawal Naomi dan Nancy hingga sampai di penjara tahanan sementara. Naomi dan Nancy akan ditahan disana sementara hingga bukti kejahatan yang mereka perbuat benar-benar sudah kuat dan membuktikan bahwa mereka bersalah.


“Naomi, gimana ini? Aku tidak mau dipenjara disini selamanya,“ seru Nancy dengan raut wajahnya takut.


“Sama, Cy. Aku juga tidak mau disini selamanya. Apalagi aku dengar-dengar kita akan ditahan disini hingga bukti kejahatan kita membuktikan bahwa kita bersalah. Dan kita dipindah dengan penjara yang berbeda, dan pengawasan yang lebih ketat dibandingkan yang saat ini,“ jawab Naomi.


“Hubungi Papa kamu untuk membebaskan kita dari sini,“ ucap Nancy.


“Bagaimana caranya? Apa kamu tidak melihat, tanganku diborgol, bagaimana caraku untuk mengambil ponselku?“ sahut Naomi yang membuat Nancy berpikir keras.

__ADS_1


Ternyata diam-diam, saat Naomi dan Nancy dipanggil oleh Bu Saskia untuk keluar, mereka sudah mengetahui jika para Polisi ada di luar, sehingga menyelipkan ponsel mereka di celana mereka. Para Polisi tampaknya tak menyadari akan hal tersebut.


Tiba-tiba saja, seorang Polisi wanita atau biasanya disebut Polwan datang ke Penjara mereka. Dibukalah borgol yang mengunci pintu Penjara tersebut. Polwan itu membawa nampan yang berisi makanan.


“Ini makanannya,“ ucap Polwan itu dengan lembut sambil meletakkan piring berisi nasi cadong didepan Naomi dan satu lagi di depan Nancy.


Nasi cadong merupakan nasi jatah penjara yang dibagikan pada narapidana. Nasi dengan aneka lauk ini disebut-sebut tak terlalu enak. Lauknya bervariasi meski sederhana, seperti ikan asin, tempe, terong, atau sayur kacang. Biasanya ada rotasi atau penambahan menu pada nasi cadong seperti lele goreng, telur rebus, olahan daging, atau pisang.


Konon porsi nasi cadong terbilang sedikit sehingga tidak terlalu mengenyangkan. Tekstur nasinya juga disebut-sebut pera karena dibuat dari beras bermutu rendah.


Naomi dan Nancy menatap rendah dengan makanan yang diberikan oleh Polwan.


Polwan tersebut sontak merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Naomi.


“Oh ya? Jika menurut kalian, makanan ini tidak pantas kalian cerna, apa yang ingin kalian makan sekarang? Makan batu?“ Polwan tersebut tidak terima tentunya, pun membalas ucapan Naomi dengan ucapan pedasnya.


“Sudah berbuat salah, masih juga bersikap sombong! Asal kamu tahu ya, Dik, menjadi seorang anak berasal dari keluarga terpandang seharusnya memiliki sikap baik, akhlaknya baik! Jadi setidaknya harta segunung itu tidak akan sia-sia kalian gunakan!“ sambung Polwan 2 yang datang menghampiri karena adanya keributan.

__ADS_1


“Heh, Mbak! Asal Mbak ini tahu ya, kami ini anak dari keluarga terpandang! Sebentar lagi, anak buah Papaku akan datang membebaskan kami!“ Naomi masih juga bersikap sombong.


“Benar tuh, Mbak! Punya telinga kan? Didengar baik-baik dong, Mbak! Upss … apa telinga Mbak sudah tidak berfungsi lagi ya?“ sambung Nancy lalu kedua mahasiswa itu tertawa bersama.


Polwan 1 dan Polwan 2 melihat Naomi dan Nancy menertawakan mereka merasa geram. Tangan mereka terkepal kuat, siapapun bisa menjadi sasaran jika berani menyinggung mereka.


Tangannya menjadi gatal untuk menampar pipi kedua mahasiswa di depannya ini. Namun, tidak mungkin baginya untuk melakukannya, sedangkan mereka sendiri tidak pernah bermain tangan kepada siapapun.


“Haha! Mbak sendiri aja gak berani! Cepu banget sih!“ Naomi dan Nancy menjulurkan lidah mereka, mengejek kedua Polwan tersebut yang tidak bisa berbuat apapun.


“Wleee!“


Tanpa disadari oleh keempat manusia itu, ada seorang Polisi yang juga seorang wanita geram melihat hal tersebut. Ia tidak suka rekannya diejek oleh para tahanan.


Polwan tersebut menghampiri penjara itu dengan langkah pelan. Tatapannya begitu tajam bagaikan pisau yang bisa memotong dan menusuk apapun. Siapapun yang melihatnya akan merasa ketakutan yang luar biasa.


“PLAK! PLAK! PLAK!“

__ADS_1


“BUGH! BUGH! BUGH!“


__ADS_2