Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 66 : MENYELESAIKAN


__ADS_3

***


Kembali lagi di kedua orang yang sedang mengotak-atik laptopnya, satunya lagi menggunakan ponsel.


1 jam kemudian.


“Akhirnya aku menemukan bukti-bukti semasa lalu!“ seru Zilya dengan wajah bahagianya.


“Benarkah? Wahh, kau sungguh hebat!“ puji Mei.


Sedangkan Daffa masih fokus dengan pencariannya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Mei dan Zilya sudah mengeluarkan suaranya.


Melihat Daffa yang begitu fokus membuat Mei sedikit merasa kesal sehingga ia menyenggol badan pria itu.


“Ada apa?“ Daffa memendam rasa kesal dalam hati. Ia hampir saja salah mengetik nama seseorang hanya karena badannya disenggol sahabat gadis pujaannya. Kalau bukan sahabatnya, sudah sedari tadi Daffa memarahinya.


“Ternyata dia memang dari awal tidak mendengarkan kita,“ ucap Mei.


Daffa membantah hal tersebut. Mereka berdua pun berdebat.


“Sudahlah, lebih baik kita segera bertindak sekarang daripada membuang waktu. Sebelum kita nantinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena sebentar lagi wanita itu pasti sudah berhasil menguasai netizen,“ Ucapan Zilya membuat perdebatan antara Daffa dan Mei terhenti. Mereka berdua memikirkan ucapan Zilya yang benar apa adanya.


“Kau benar! Kita harus beraksi sekarang!“


Dengan username ’Blackberry’, Zilya pun mengupload foto-foto serta video rekaman CCTV yang telah ia dapatkan tadi berkat kemampuan melacaknya di twitter. Jangan tanyakan lagi, Zilya memang memiliki banyak akun samaran.


Apalagi akun dengan username Blackberry itu memiliki pengikut yang bisa terbilang cukup banyak sehingga dengan mudah postingan tersebut viral hanya dalam beberapa menit saja.


Mei dan Daffa juga turut membantu Zilya. Dengan menggunakan akun samaran, mereka berkomentar untuk menarik simpati dari netizen.


Dalam sekejap, postingan tersebut memasuki peringkat postingan viral yang ke-1. Postingan tentang Zilya tidur bersama pria tenggelam begitu saja, bahkan beberapa netizen yang berpihak kepada mereka pun melaporkan postingan tersebut dengan alasan pencemaran nama baik.


Salah satu komentar netizen terbaru di postingan pencemaran nama baik Zilya adalah ’Beruntung aku tidak langsung mempercayai hal ini lebih dulu. Terutama untuk komentar Bu Veni, aku tidak menyangka kau membuat skenario palsu demi menarik simpati dari para netizen! Aku sangat bangga memiliki idola penulis yang sangat hebat! Semangat kak Daisha!’

__ADS_1


Komentar tersebut juga turut membantu para netizen mengetahui mana yang benar dan mana yang sedang berbohong. Akun yang berkomentar itu memang terkenal dengan komentarnya yang membantu para netizen lainnya.


“Beruntunglah ada netizen yang mempercayai kita dan dia membantu kita!“ Zilya bersyukur akan hal tersebut.


“Ya, dia tampak sangat baik sekali! Aku jadi penasaran dengan siapa pemilik akunnya,“ sahut Mei.


Daffa sedari tadi hanya menyimak percakapan sua gadis tersebut. Ya, bisa dibilang Daffa memang cuek dan dingin. Jadi hal tersebut sudah menjadi hal yang wajar bagi kedua gadis itu.


“Terima kasih Mei telah membantuku,“ ucap Zilya dengan tulus memeluk sahabatnya, Mei.


“Tidak perlu mengucapkan seperti itu. Kita ini adalah sahabat. Sudah sepatutnya aku membantumu saat kesusahan,“ jawab Mei memeluk balik sahabatnya.


Setelah itu, ia melepaskannya dan berniat menghampiri Daffa.


“Terima kasih Daffa,“ ucap Zilya sedikit merasa canggung. Sebab ia bingung untuk melakukan apa sebagai bentuk terimakasihnya. Jika saja orang yang dihadapannya ini adalah perempuan, maka ia tidak canggung untuk memeluknya, tapi.. dia adalah pria!


“Sama-sama, Zil.“ jawab Daffa. Ia juga merasa canggung.


“Peluk saja, Zil. Tidak perlu ragu!“ Mei seolah tahu bahwa sebenarnya Daffa memiliki perasaan suka pada Zilya. Tentu sebagai sahabat, Mei akan mempermudah hal tersebut apalagi setelah Mei mengetahui ternyata Zilya memiliki perasaan yang sama hanya saja sahabatnya itu tidak menyadari akan perasaannya.


Daffa memeluk Zilya tanpa aba-aba saat itu juga. Seketika suasana menjadi hening. Mei yang terheran-heran mengapa Daffa yang memeluk Zilya, bukan Zilya memeluk Daffa? Sungguh pasangan yang membingungkan!


“Sepertinya aku hanya menjadi nyamuk! Aku pergi sebentar dulu ya, ingin mencari udara segar!“ pamit Mei lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari kedua orang itu.


Mei seolah tahu bahwa kedua orang itu membutuhkan waktu untuk berbicara empat mata.


Daffa menghirup aroma tubuh Zilya yang khas. Wangi sekali. Keduanya sama-sama terhanyut..


Hingga beberapa lama kemudian, Daffa seketika sadar dengan aksinya. Lalu melepaskan pelukannya.


“Maaf, Zil! Aku tidak bermaksud …“


“Terima kasih atas bantuanmu, Daf. Aku pamit sebentar, ingin menyusul Mei,“ potong Zilya lalu bergegas pergi.

__ADS_1


“Hum, baiklah!“ Daffa pun duduk kembali di sofanya. Otaknya kembali membayangkan adegan pelukannya bersama Zilya.


“Tidak, tidak! Mengapa otakku sekarang menjadi aneh? Sepertinya aku harus memeriksakan diri ke dokter besok,“ monolog Daffa.


***


Sementara itu, di sisi lain..


“Tidak, tidak! Bagaimana bisa seperti ini?“ Veni mondar-mandir di ruangannya. Baru saja ia diatas sekarang ia mau tidak mau menerima kenyataan ia berada dibawah gadis itu. Ya, gadis itulah yang membuat hal ini semua.


“Aku harus menelpon Gavin!“ Setelah berpikir berbagai cara, Veni memutuskan untuk menelepon suaminya itu untuk meminta pertolongan.


“Halo, Sayang!“ ucap Veni memulai panggilan. Dalam hati, ia menggantungkan harapannya kepada pria yang berstatus suaminya.


“Ya, katakan ada apa Sayang?“ Gavin seolah-olah tahu bahwa istrinya menelepon dengan adanya tujuan.


“Bisakah kau membantuku?“


“Bantu apa?“ tanya Gavin sedikit heran. Sepertinya pria paruh baya itu telah ketinggalan berita. Entah karena kesibukan fokus kerja atau bagaimana, sampai-sampai pria itu ketinggalan berita viral saat ini.


Veni pun menceritakan semuanya.


“APA!? Bagaimana bisa sekarang semuanya berbanding terbalik?“ Gavin tidak percaya dengan kenyataan pahit yang diterimanya hari ini.


“Gadis itu! Gadis itu telah mengacaukan semuanya!“ Veni terus menyalahkan anak angkatnya, Zilya.


“Masalah ini cukup berat, apalagi aku tiba-tiba ikut bersangkutan dalam masalah itu. Aku tidak tahu dari mana orang itu mendapatkan rekaman CCTV kita! Bukankah security sudah menjamin tidak ada hacker satupun yang berhasil membobolnya?“ Gavin mengacak rambutnya dengan penuh frustasi.


“Security itu sudah dipMeit, Sayang! Apakah kau sudah lupa, beberapa bulan yang lalu kau memMeitnya karena kinerja kerjanya yang tidak bagus? Hanya karena dia, kita hampir kemalingan!“


“Alamat, aku malah melupakan hal itu! S*al! Aku bahkan lupa memintamu untuk mencarikan security!“ umpat Gavin lalu mematikan sambungan telepon.


“Arghh! Aku tidak terima dengan hal ini! Aku harus menemui gadis itu untuk memberinya pelajaran! Bisa-bisanya gadis itu melakukan hal sekeji ini pada orangtua angkat yang telah menjaganya sedari kecil!“ Gavin meminta asistennya untuk mengantarkannya ke Kontrakan Zilya. Seolah lupa bahwa dirinyalah yang memutuskan hubungan keluarga itu..

__ADS_1


***


Haii, ini besok akan dilanjutkan sisanya disini ya. Kalau sudah dibaca, besok buka saja lagi babnya. Bersama bab satunya lagi ya. Terimakasih🙏🏻🙏🏻


__ADS_2