Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 68 : Pesan misterius


__ADS_3

"Aku sudah tahu. Tolong jangan sebut dia ayah, sebab kami sudah tidak memiliki hubungan antara ayah dan anak sejak dia memutuskannya,“ jawab Zilya dengan tegas. Melihat kearah jendela lalu melamun.


***


Sementara itu, di sisi lain...


Di Kantor Polisi.


Terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di kursinya dengan tangan dan kaki yang terborgol. Ya, dia berada di Penjara.


“Pak, anda ada tamu. Mari saya antar,“ ucap Polisi.


Gavin hanya pasrah ketika dituntut mengikuti Polisi tersebut. Polisi tersebut melangkah dengan lebar sehingga Gavin sedikit menggesekkan kakinya karena tidak sanggup menyeimbangi langkah kaki Polisi itu.


“Siapa yang menjengukku?“ Batin Gavin bertanya-tanya.


“Veni, Naomi, Nancy?“ Gavin terkejut ketika melihat istri, anak dan juga keponakannya menjenguknya. Batinnya bertanya-tanya, apa tujuan mereka kemari?


“Ini surat cerai kita! Ceraikan aku di detik ini juga!“ seru Veni sambil melemparkan sebuah surat ke arah Gavin.


“Apa maksudmu?“ Gavin sedikit tersentak saat Veni melemparkan bekas penceraian kepadanya.


“Tandatangani surat penceraian kita,“ Veni tidak menjawab pertanyaan Gavin.


“Mau taruh dimana mukaku kalau kau dipenjara? Kau kira, aku akan membantu untuk membebaskanmu? Banyak uang yang harus dikeluarkan, Gavin! Apalagi masalahmu sangat berat dan tiba-tiba ditambah dengan masalah yang lain. Jika aku memutuskan untuk membebaskan kamu, maka harta kita semua akan habis! Dan ya, … Aku memutuskan untuk bercerai denganmu,“ jelas Veni panjang lebar.


“Jadi, kedatanganmu kemari hanya untuk memberi surat cerai ini?“ Gavin mulai emosi. Ia mengira istri anaknya datang akan membebaskan dirinya, namun ternyata istrinya malah meminta untuk diceraikan.


“Tentu saja! Tolong ceraikan aku!“ pinta Veni.


“Baik, aku akan ceraikan kamu. Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku,“ putus Gavin dengan penuh amarah memuncak.


“Tandatangani berkas penceraian kita!“ suruh Veni sambil memberikan pena kepada Gavin. Calon mantan suaminya itu pun menerima dan menandatangani berkas tersebut. Veni merasa sangat bahagia, akhirnya ia terbebas dari pria itu dengan harta yang cukup banyak.

__ADS_1


“Terima kasih sudah mau memberikan semua hartamu, Sayang,“ ucap Veni dengan sinis.


“Maksudmu apa?“ Gavin berniat mengangkat tangan untuk menampar wanita yang kini telah berstatus mantan istrinya.


Namun, Gavin malah dihentikan oleh pihak polisi.


“Maaf, waktu besuk sudah habis,“ ucap pihak polisi lalu membawa Gavin kembali ke penjaranya.


“Aku tidak mau menemuimu lagi! Dasar wanita licik!!“ teriak Gavin penuh amarah.


“Aku juga tidak akan menjengukmu lagi! Mungkin ini pertemuan terakhir kita! Selamat menikmati masa hidupmu dalam penjara, Sayang!“ Veni menatap sinis pria yang kini berstatus mantan suaminya. Ia benar-benar merasa bahagia setelah bercerai dengan pria itu, apalagi setelah bercerai, semua harta dan aset-aset pria itu jatuh kepada anaknya yaitu Naomi.


“Dasar wanita licik! Aku menyesal telah menikahimu!“ teriak Gavin sekencang-kencangnya sebelum Veni benar-benar pergi.


Dalam penjara, Gavin hanya bisa meratapi nasibnya. Hatinya penuh amarah dengan mantan istrinya yang licik itu. Namun, kini ia tak dapat berbuat apa-apa.


Amarah yang memuncak membuat Gavin meninju tembok penjara itu hingga membuat tangannya berdarah. Namun, ia tidak peduli. Hal tersebut terus dilakukannya hingga salah satu polisi menahannya dan membawa Gavin ke rumah sakit.


***


Ia baru saja melihat sebuah pesan dari seseorang misterius. Namun, Zilya jelas mengetahui siapa psang tersebut..


“Aku pulang dulu,“ ucap Zilya dengan dingin.


“Aku bawa motor milikku ya, Mei,“ Mei mengangguk sebagai jawaban. Walau hatinya ingin bertanya pada sahabatnya, apa yang terjadi sebenarnya hingga membuat sahabatnya itu dingin seketika.


Ya, Zilya memang menitipkan motornya ditempat Mei. Zilya pun membawa motor tersebut dan melaju kencang. Mei dan Daffa tidak dapat menahan gadis itu.


“Apa kau tidak ingin menyusulnya? Aku takut dia kenapa-kenapa,“ tanya Mei. Sebenarnya bisa saja Mei menyusul sahabatnya itu, hanya saja ia sedang dalam menjalani hukuman yang diberikan oleh kedua orang tuanya yaitu tidak boleh keluar rumah satu bulan.


“Aku ingin menyusulnya, tapi …“


“Susul dia, Daf!“ paksa Mei.

__ADS_1


“Tapi, Mei?“ Daffa tidak bisa melanjutkan ucapannya, apalagi Mei terus memaksa dirinya.


“Baiklah, baiklah. Aku akan menyusulnya,“ putus Daffa. Walau hatinya takut apabila ia ketahuan menyusul gadis itu, dan akhirnya gadis itu memarahinya. Namun, semua ketakutan itu ia tahan demi keselamatan gadis itu. Lebih baik kena marah daripada dia kenapa-kenapa.


“Baguslah,“ puji Mei mengacungkan kedua jempolnya kepada Daffa.


Daffa menaiki mobilnya dan segera menyusul gadis pujaannya.


***


Di sepanjang perjalanan, Zilya semakin menambah kecepatan motornya. Bahkan beberapa kali ia hampir menabrak pengendara lain, namun itu semua ia abaikan karena ada emosi yang tertahan dalam hatinya.


Air matanya terus mengalir. Zilya sudah menghapusnya beberapa kali, namun air mata itu terus keluar.


“Kenapa aku jadi cengeng begini sih! Tidak, tidak! Seorang Zilya tidak boleh menangis!“ Zilya mengelap air matanya dan berusaha menguatkan hatinya. Namun, tangisnya malah semakin menjadi-jadi.


“Hei Nona! Bawa motornya yang bener dong! Saya hampir tertabrak!“ pekik pengendara lain namun Zilya mengabaikannya.


Zilya menghentikan motornya di sebuah danau. Ia berteriak sepuasnya.


“Teriaklah sepuasmu. Nangislah sepuasmu sampai hatimu lega,“ Suara yang tidak asing itu membuat Zilya menghentikan aksinya.


“Aku mengerti posisimu. Aku tidak bisa hanya mengucapkan yang sabar ya, sementara kamu memendam semuanya. Maka dari itu, keluarkanlah semuanya agar kamu lega!“ ucap Daffa lalu memeluk gadis itu.


“Hiks … hiks … hiks!“ Zilya menangis sejadi-jadinya di pelukan Daffa. Pelukan yang membuatnya nyaman.


Beberapa lama kemudian. Zilya berhenti menangis.


“Gimana? Udah puas nangisnya?“ tanya Daffa.


“Udah,“ jawab Zilya sambil menerima tisu yang diberikan Daffa. Pria itu memang sangat perhatian dan selalu membuatnya nyaman.


“Hmm … Aku mau bertanya sesuatu. Apakah boleh?“

__ADS_1


“Tentu saja boleh. Siapa yang melarangmu bertanya? Lagian kamu ada-ada saja, mau tanya pake acara izin segala,“ ketus Zilya.


“Sebenarnya, apa pesan misterius itu?“ tanya Daffa dengan penuh hati-hati.


__ADS_2