Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 41 : PESAN


__ADS_3

“Ada apa, Daf? Kok malah jadi melamun,“


“Tidak apa-apa, Mei. Ya sudah, nanti kalau Zilyanya sudah datang, kasih tahu ke aku ya,“ pinta Zayn.


“Laksanakan, Daf,“ jawab Mei sambil cekikikan kecil.


***


Waktu berlalu. Dari yang tadinya pagi hari, sekarang sudah menjadi siang hari. Beberapa pelajaran sudah berlalu. Namun, sosok Zilya ataupun sosok sahabat Mei itu, tidak memunculkan dirinya pada hari ini. Sosok Zilya seperti hilang bagaikan ditelan bumi.


“Kemana dia? Tidak seperti biasanya Zilya seperti ini,“ Mei mulai khawatir.


“Zilya, jangan seperti ini tolong,“ Mei berbicara seolah sedang berbicara dengan Zilya sambil mengambil ponsel diatas ranselnya.


“Aku harus coba mengirimkan pesan kepadanya. Zilya menghilang seperti ditelan bumi. Aku mencarinya di Kampus ini bahkan hingga berkeliling berulang kali tiada hasil,“ Mei mulai mengetik pesan.


‘Zilya’


‘Zilya, kamu baik-baik saja kan?’


‘Tadi kamu tidak hadir di Kampus. Ada apa denganmu?’


‘Aku tadi membuat status kehadiranmu hari ini izin karena aku tidak tahu harus buat apa. Dan tidak mungkin jika aku membuatnya menjadi sakit, nanti para mahasiswa justru ingin menjengukmu’


‘Jangan bercanda, Zilya’


‘Tolong dibalas ya, Zil. Jangan bercanda seperti ini tolong …’

__ADS_1


Sederetan pesan dikirimkan oleh Mei. Namun status pesan tersebut justru centang satu berwarna abu-abu, yang artinya pesan tersebut belum terkirimkan kepada Zilya atau si penerima pesan.


“Haduh, mana centang satu lagi!“ Mei kesal sekaligus bingung. Rasa kesal dan rasa bingung itu bercampur aduk. Tidak tahu harus apa. Sosok sahabatnya itu benar-benar menghilang seperti ditelan bumi.


“Apa Zilya di kontrakannya ya?“ Tiba-tiba saja pikiran tersebut terbesit diotak Mei. Mei tersenyum senang, seolah ia habis menerima sesuatu yang begitu berharga.


“Semoga saja dia ada di kontrakannya, “ doa Mei dengan penuh harap.


Mei pun melanjutkan aktivitas belajarnya lagi. Dengan harapan semoga Zilya ada di kontrakannya.


***


Waktu kembali berlalu. Tiada henti, waktu terus berjalan. Tadinya siang hari sekarang sudah sore hari. Waktu para mahasiswa kembali ke rumah ataupun tempat tinggal mereka masing-masing untuk mengistirahatkan diri setelah menerima begitu banyak materi yang diperoleh hari ini.


Begitu juga dengan Mei dan Zayn. Seharusnya mereka pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing, namun demi mencari keberadaan Zilya, mereka rela pergi ke kontrakan yang menjadi tempat tinggal Zilya selama ini, untuk memastikan apakah Zilya ada disana ataukah tidak. Dan juga ingin memastikan apakah Zilya baik-baik saja atau hal buruk terjadi padanya.


“Zilya! Zilya! Ini aku, Mei dan Zayn!“ panggil Mei dengan suara yang agak tinggi agar Zilya yang ada didalam dapat mendengarnya.


Sepertinya harapan Mei dan Zayn tidak terwujud. Tidak ada yang menyahut panggilan mereka.


“Zilya! Zilyaa!“ Mei pantang menyerah. Ia kembali mencoba memanggil Zilya walaupun tidak ada sahutan yang terdengar sama sekali.


Sedangkan Zayn, ia sibuk dengan ponselnya. Jari-jarinya berkali-kali mengklik layar ponselnya. Sepertinya Zayn sedang mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang atau membuka aplikasi.


“Zilya! Kamu ada di dalam kan?“ panggil Mei yang tidak menyerah sama sekali. Walaupun keringat bercucuran dipelipisnya. Namun, Mei sebagai sosok sahabat yang baik, ia tidak akan pantang menyerah begitu saja, ini demi sahabatnya.


“Zilyaaa!“ panggil Mei dengan suara yang semakin ditinggikan. Membuat para tetangga yang tinggal di sebelah merasa terganggu dengan keributan yang dibuat oleh Mei tanpa disengajai.

__ADS_1


Para tetangga yang merasa terganggu pun keluar dari kontrakannya.


“Ada apa ya ribut-ribut?“ tanya tetangga yang merasa terganggu itu. Ia seorang ibu-ibu paruh baya.


“Kami sedang memanggil Zilya, Bu. Tapi Zilyanya nggak keluar-keluar,“ sahut Mei dan Zayn.


“Oh, cari Zilya?“


“Iya, Bu.”


“Mohon maaf nih ya, dari kemarin, saya tidak melihatnya. Terakhir saya melihat Nona Zilya berangkat kuliah pagi-pagi. Lalu sorenya, saya tidak melihat dia pulang. Saya tidak tahu Nona Zilya pergi kemana,“ jelas ibu paruh baya itu membuat Mei dan Zayn sontak terkejut.


Tiba-tiba disaat suasana tegang seperti ini, terdengar pula suara notifikasi yang berbunyi di ponsel Mei. Mei yang mengira Zilya membalas pesannya pun segera membuka ponselnya.


’Hai, Mei’


’Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir tentang keadaanku’


***


Siapakah yang mengirimkan pernah tersebut? Penasaran yaa? 🤭🤭


Novelnya banyak misteri, jadi mohon bersabar ya. Masih banyak misteri yang mau dipecahkan. Jadi kalau ceritanya terkesan lambat, mohon maaf🙏🏻.


Jika suka, jangan lupa like, komen dan favoritnya di novel ini ya!


Terimakasih kepada para readers yang telah memberikan dukungan walaupun hanya like dan komen.

__ADS_1


__ADS_2