Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 56 : PENJELASAN


__ADS_3

Tiba-tiba saja hal tidak terduga, Zayn tiba-tiba datang sambil membawa makanan yang baru saja dibeli.


“Mama? Papa? Kenapa kalian bisa disini?“


Sontak semuanya menoleh kearah sumber suara.


“Zayn? Kamu baik-baik saja kan, Nak?“ ucap Istri Arya dengan khawatir sambil memeriksa tubuh Zayn.


“Ada apa, Ma? Aku? Aku baik-baik saja, Ma. Justru yang ingin aku tanyakan pada Mama, kenapa Mama datang ke Rumah Sakit? Apa terjadi sesuatu, Ma?“ Zayn merasa heran ketika Mama-nya memeriksa tubuhnya secara detail.


“Asistenmu Bram mengatakan kalau kamu berada di Rumah Sakit. Hari ini kan acara kelulusanmu, Zayn? Kenapa kamu berada di Rumah Sakit, bukan di Kampus?“ Arya menatap tajam kepada putranya meminta jawaban.


“Itu, Pa. Nanti Zayn akan jelaskan. Sekarang Zayn ingin memberikan makanan ini dulu,“ Zayn berucap lalu melangkah cepat meninggalkan kedua orangtuanya dan Bram agar ia tidak ditanya lebih banyak lagi, yang membuat dirinya tidak bisa beranjak.


“Ada apa dengan anak itu? Apakah dia sudah memiliki kekasih?“ celetuk Sofi, membuat Arya membulatkan matanya.


“Kita harus mengikuti anak itu, Ma! Papa takut, kalau anak itu malah yang aneh-aneh pula di sana!“ Arya langsung mengikuti anaknya dengan diikuti istrinya.


“I-Iya, Pa.“


Bram yang ditinggal pun menjadi bingung. Haruskah dirinya mengikuti majikannya atau lebih baik ia menunggu?


“Ah! Lebih baik aku ikuti saja mereka, daripada aku duduk disini malah dikira yang aneh-aneh pula sama orang lain,“ putus Zayn.


***


Kembali di Ruangan Zilya.


“Tok! Tok! Tok!“


“Itu pasti Zayn.“ Dania beranjak dari tempat duduknya.


“Maaf, aku terlambat,“ Zayn memberikan sekantong makanan kepada Dania.


“Tidak apa-apa, Zayn. Terima kasih banyak,“ Dania berterimakasih kepada Zayn.


“Senang bisa membantu. Apa perlu bantuan?” Zayn menawarkan bantuan.


“Sepertinya ya, karena aku harus pergi ke kamar mandi sebentar. Tolong bantu Zilya duduk, dan suapin dia makan ya. Terima kasih atas bantuannya,“ Dania berucap sambil mengedipkan satu matanya kepada Zilya. Lalu, dengan buru-buru, Dania langsung pergi ke luar mencari kamar mandi, padahal terdapat kamar mandi di ruangan Zilya.

__ADS_1


Suasana menjadi hening setelah Dania pergi.


“Sini, aku bantu,“ ucap Zayn hendak memegang tangan Zilya.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” Zilya berusaha mengganti posisinya menjadi duduk. Namun, entah kenapa tubuhnya terasa lebih lemah dibandingkan sebelum-sebelumnya, membuat dirinya kesulitan untuk duduk.


“Sudah aku katakan, sini biar aku bantu saja.“ Tanpa basa-basi panjang, Zayn langsung mengangkat tubuh Zilya dan memposisikan tubuh Zilya menjadi duduk.


“BRAK!“


Pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar. Di saat itulah, Arya melihat putranya menggendong wanita lain.


“Zayn!“


“Papa?”


Mata Arya memerah menahan amarahnya. Ia tidak menyangka, dengan matanya sendiri, melihat Zayn menyentuh tubuh wanita yang duduk di brankas pasien tersebut.


“Siapa gadis itu? Jelaskan pada Papa sekarang!“


“Pa, dia---”


“Bukan, Pa. Dia adalah Zilya. Teman sekampus Zayn,“ jelas Zayn.


“Temanmu? Apa dia tidak memiliki teman lain selain dirimu untuk membantu dirinya? Kenapa harus kamu?“ Arya menatap tajam kepada putranya.


“Papa!“ ucap Sofi yang baru saja sampai di ruangan Zilya. Matanya menelusuri ruangan tersebut. Tidak sengaja, matanya melihat Zilya.


“Zilya?”


“Nyonya?“ Mata Zilya membulat ketika atasannya datang. Ia yang baru saja duduk, mencoba berdiri.


Zayn mengernyitkan alisnya. Mengapa bisa Mama-nya mengenal Zilya? Begitu juga dengan sebaliknya?


“Aww!“ Suasana panas itu tiba-tiba tergantikan dengan suara Zilya.


“Zilya!“ Zayn terkejut melihat aksi Zilya. Zilya yang masih dalam kondisi lemah mencoba berdiri, hingga akhirnya malah dia yang terjatuh.


“Kamu gapapa?“ tanya Zayn sambil membantu Zilya berdiri.

__ADS_1


Sofi dan Arya hanya bisa mematung. Mereka tidak pernah melihat Zayn se-perhatian ini kepada perempuan lain selain ibunya. Dan ini adalah pertama kalinya, mereka melihat Zayn seperti ini.


“Ti-Tidak apa. Aku tidak apa. Lepaskan tanganmu dari lenganku,“ lirih Zilya.


“Aku akan membantu dirimu untuk naik,“ Tanpa menuruti kata Zilya, ia pun menggendong tubuh Zilya yang terasa sangat ringan di atas brankar pasien.


“Papa, Mama. Sebaiknya kita bicara diluar saja, agar Zilya tidak merasa terganggu.“ Lagi-lagi, ucapan Zayn membuat kedua orangtuanya tidak bisa berkata-kata.


Di saat yang bersamaan, Dania kembali.


“Dania, tolong bantu Zilya ya,“ Dania yang bingung hanya menganggukkan kepalanya.


Tadinya Dania berharap, dengan kepergiannya tadi, Zilya Dan Zayn bisa menghabiskan waktu berdua. Alasan dirinya melakukan hal tersebut karena ia yakin, Zilya dan Zayn sama-sama memiliki perasaan suka satu sama lain. Hanya saja mereka merasa gengsi untuk mengutarakan rasa suka mereka.


Namun, setelah kejadian tadi, Dania sedikit merasa menyesal karena meninggalkan saudari kembarnya.


***


Di luar ruangan Zilya.


“Apa yang ingin kamu jelaskan kepada kami, Nak?“ tanya Sofi dengan lembut.


“Ma, Pa. Kita bicaranya di Restoran dekat Rumah Sakit ya, Ma, Pa. Nggak enak sama yang lain kalau Zayn jelasin semuanya di sini,“


“Baiklah, terserah kamu saja Zayn. Tapi tetap ingat, jelasin semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi sama Papa dan Mama. Mengerti?!“ tegas Arya, tidak lupa dengan tatapan tajamnya yang membuat siapapun akan mati kutu.


“Me-Mengerti, Pa.“


Mereka berjalan menuju Restoran terdekat.


Mereka langsung memesan Ruangan VVIP di Restoran tersebut.


Tidak lupa memesan minuman untuk menemani Zayn menjelaskan kepada kedua orang tuanya.


“Silakan menikmati,“ ucap Pelayan lalu pergi.


“Jelaskan semuanya sekarang, Zayn?“


Zayn menarik napas panjang.

__ADS_1


Zayn mulai menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir tanpa ditutup-tutupi. Mulai dari ia pergi ke lokasi acara kelulusan terlambat karena ia berangkat terlambat ditambah dengan kemacetan di jalanan. Lalu, ia pergi mencari keberadaan Zilya yang hilang. Penculikan Dania. Penangkapan Evan. Dan hingga mereka bisa berada di Rumah Sakit tersebut.


__ADS_2