Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 86 : KAMU SAYANG!


__ADS_3

“Jadi apa?“ tanya Zilya dengan penasaran. Walau ia merasakan jantungnya tiba-tiba menjadi berdegup kencang. Ia sungguh ingin tahu sebenarnya apa hal yang menjadi hal terindah sekaligus yang sangat disyukuri oleh suaminya.


“KAMU SAYANG!“ jawab Zayn dengan menatap serius wajah istrinya.


“A-aku?“ ucap Zilya dengan suara bergetar. Zlya tidak menyangka. Ia benar-benar merasa terharu dengan ucapan Zayn barusan.


“Tentu saja, sayang. Kamu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan kepadaku.“ sembari memeluk Zilya dengan erat.


Mereka berdua sembari berpelukan dengan erat. Tiada satupun yang melihatnya. Menumpahkan rasa haru.


***


Sementara itu, di Kota Jakarta.


“Kenapa kamu selalu mengikutiku setiap saat?“ protes Mei. Kemana-mana seolah dirinya memiliki bodyguard. Padahal kan pria itu juga ditugaskan untuk meng-handle tugas perusahaan, lantas mengapa pria itu bisa mengikutinya dari pagi hingga sore hari.


“Tuan Zayn memerintahkanku untuk menjagamu dengan baik,“ jawab Bram dengan singkat, padat, dan jelas.


“Ta-tapi tidak perlu berlebihan juga kali?“ Mei sedikit gugup apalagi pria itu mendekatkan wajahnya sehingga hembusan napas pria itu dirasakan oleh Mei.

__ADS_1


“Aku hanya ditugaskan untuk menjagamu dengan baik. Apa kamu mau, jika kamu kenapa-napa, terus kepalaku yang dipenggal?“ tanya Bram dengan serius.


“Te-tentu saja tidak,“ jawab Mei. Ia tidak mau hanya karena dirinya, orang lain harus mat*. Tidak, ia tidak mau itu terjadi. Bagaimana jika setiap hari ia akan dihantui oleh arwah gentayangan Bram?


“Tidak, tidak!“ gumam Mei sembari menggelengkan kepalanya berulang kali. Ia tidak mau hal itu terjadi.


“Aku 'kan takut sama hantu. Jadi, aku tidak mau berbuat apapun yang membuatku harus terlihat dengan para hantu,“ gumam Mei namun terdengar sedikit oleh Bram.


“Apa tadi katamu? Kamu takut dengan siapa?“ tanya Bram dengan heran. Pasalnya ia tidak dapat mendengar begitu jelas karena jarak mereka yang sudah normal ditambah suara Mei yang memang sangatlah kecil.


“Tidak, tidak ada apa-apa,“ jawab Mei mengalihkan pandangannya.


“Ayo kita pulang sekarang!“ ajak Bram sembari membawa barang-barang belanjaan Mei tadi. Bram benar-benar tidak mengizinkan Mei membawa barang-barang belanjaannya satupun kecuali tas gadis itu.


Entah apa yang terjadi, membuat hari ini benar-benar menjadi hari pertama ia dikawal oleh bodyguard. Biasanya ia paling hanya bersama sahabatnya atau tidak bersama orang tuanya, namun tidak untuk kali ini.


“Emangnya kenapa atasanmu memintamu untuk menjagaku? Apa sebenarnya yang akan terjadi?“ tanya Mei dengan penasaran saat mereka berdua sama-sama sudah berada di dalam mobil.


“Aku tidak tahu. Tanyakan sajalah padanya,“ jawab Bram dengan gaya coolnya.

__ADS_1


“Tanya pada dia? Yang benar saja! Aku bahkan tidak memiliki nomor teleponnya. Jikapun ada, mana mungkin aku akan menghubunginya disaat-saat momen honeymoon mereka. Masa iya, aku tega sekali dengan mengacaukan momen honeymoon sahabatku,“ celetuk Mei sembari bersedekap tangan di depan d*d*.


“Maka dari itu, cukup menurutlah padaku!“ Jawaban dari Bram yang mampu membuat Mei tidak bisa berkutik.


Di sepanjang perjalanan pulang, suasana benar-benar hening. Yang biasanya Mei akan membuka suara tiba-tiba menjadi sangat pendiam ditambah dengan Bram yang orangnya juga pendiam. Jadilah diam-diaman.


“Sampai jumpa besok!“ ucap Bram yang akhirnya mengeluarkan suara saat mereka sudah sampai di Mansion milik Keluarga Mei.


“Sampai jumpa juga! Hati-hati,“ pesan Mei lalu meninggalkan Bram dan masuk ke dalam Mansion.


“Maafkan aku dengan sikap cuekku. Aku tidak tahu bagaimana caranya memberi tahu dirimu bahwa aku benar-benar mencintaimu,“ lirih Bram sembari melihat sekilas Mansion tersebut lalu akhirnya pergi juga.


Di dalam Mansion.


“Akhirnya kamu pulang juga, Nak! Ayo cepat bersihin badanmu sana. Kita akan segera pergi ke acara ulang tahun perusahaan rekan bisnis Papa,“ seru Papa Mei.


“Tapi Pa? Mei baru saja pulang?“


“Tidak ada tapi-tapian! Cepat, sekarang juga! Papa tidak menerima penolakan apapun!“

__ADS_1


Mau tidak mau, Mei yang notabenenya sebagai seorang anak harus menghormati papanya. Walau rasa lelah sudah melandai, namun demi baktinya kepada sang papa, ia pun menurutinya.


Setelah membersihkan dirinya dan bersiap-siap, Mei dan kedua orang tuanya pun berangkat ke acara ulang tahun perusahaan rekan kerja papanya.


__ADS_2