
“Aku sebenarnya juga mencintaiku, Zayn Daffa,“ jawab Zilya dengan suara pelan.
Deg!
Hari itu benar-benar hari yang tidak pernah disangka oleh seorang Zayn Daffa. Hari itu dimana ia mengetahui bahwa sebenarnya selama ini cintanya tak bertepuk sebelah tangan!
“Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus,“ ucap Zilya dengan penuh tulus dari hatinya.
“Terima kasih juga sudah mencintaiku, Zilya Daisha,“ jawab Daffa.
“Apakah aku boleh memelukmu?“ Zilya pun menganggukan kepalanya. Dengan hati yang senang, Daffa memeluk gadis itu.
“Maukah kau menjadi kekasihku?“ tanya Daffa dengan serius usai pelukan.
“Ya, aku mau menjadi kekasihmu,“ jawab Zilya.
“Terima kasih sudah menerimaku,“ seru Daffa sambil menatap dalam mata indah yang dimiliki Zilya.
Mereka kembali berpelukan di Danau tersebut. Danau tersebut jarang dikunjungi orang-orang karena banyak yang tidak mengetahuinya. Selain karena tempatnya jauh dari permukiman, Danau ini juga katanya Danau angker namun hingga saat ini masih belum dapat dikatakan apakah benar atau tidaknya berita tersebut.
***
Beberapa hari berlalu.
Tugas bulan telah digantikan oleh matahari yang siap terbit. Datanglah awan-awan yang siap menemani matahari pagi hari ini.
Terdengar suara burung-burung yang berkicau. Ayam-ayam jantan pun berkokok. Seperti di desa.
Di suatu rumah yang letaknya cukup jauh dari penukiman warga dan waktu kira-kira hampir 2 jam untuk sampai ke pusat kota. Disinilah tempat Zilya tinggal.
Saat Zilya sedang melihat daftar rumah-rumah yang dijual di aplikasi online, Zilya tidak sengaja melihat sebuah rumah yang dijual cukup mahal namun suasananya seperti desa membuat Zilya tertarik untuk membelinya.
Dan inilah rumah yang dibeli oleh Zilya. Suasananya benar-benar seperti desa. Zilya merasa tidak sia-sia mengeluarkan kantong yang cukup banyak demi rumah ini.
Selain itu, udaranya juga bersih jauh dari asap kendaraan ataupun asap dari pabrik. Sudah bisa jadi tempat tinggal ideal kamu belum, nih?
__ADS_1
“Entah kenapa baru beberapa malam tinggal di sini, aku merasa betah dengan tempat tinggal ini. Tempat tinggal ini memang memiliki ciri khas yang unik. Udara disini juga sangat sejuk, sangat bagus untuk kesehatan,“ monolog Zilya sambil membuka jendela rumahnya dan menghirup udara segar.
Zilya melihat jam tangannya. Jarum pendek mengarah ke angka 7, sedangkan jarum panjangnya mengarah ke angka 3. Sekarang baru jam 07.15. Saatnya Zilya untuk membersihkan diri dan mempersiapkan ide untuk menulis novel baru lagi.
Karena sudah memiliki karyawan di setiap bagiannya masing-masing, Zilya sudah tidak perlu repot untuk mencetak bukunya sendiri. Ada karyawan yang akan mengerjakan itu semua. Zilya hanya perlu menulis cerita barunya.
“Identitas Diva Yang Tersembunyi sudah berhasil dicetak. Tapi sayang, belum banyak yang tertarik dan membeli buku tersebut,“
“Aku harus melakukan sesuatu agar buku itu cepat terjual,“ Zilya mulai memikirkan yang harus dilakukannya agar buku tersebut cepat terjual laris.
“Aku punya ide yang bagus! Aku akan membuat promosi! Jadi orang-orang yang membeli buku dengan judul Identitas Diva Yang Tersembunyi, maka akan diberi hadiah berupa tandatangan aku dan sebuah buku yang sedang viral saat ini!“
“Harganya akan aku naikin juga nih,“ monolog Zilya.
Zilya yang saat ini berada di tubuh tokoh utama mulai berpikir, apa lanjutan dari cerita tersebut setelah menjalani hubungan kekasih dengan seorang Zayn Daffa.
“Kenapa aku merasa aku benar-benar jatuh cinta dengan Zayn Daffa, ya!“
“Apa aku harus lanjut pertualanganku disini atau memilih untuk keluar?“
“Jika novel ini sudah tamat, aku akan di kemanakan? Akankah aku kembali ke kehidupan asli ku atau aku akan selamanya disini?"
“Tapi … Disini juga enak, ya walaupun ada sisi menyedihkan namun juga ada sisi menyenangkannya,“ Zilya benar-benar dilema. Ia berada di posisi yang cukup sulit. Ia benar-benar tidak mengetahui, apakah ia akan kembali ke kehidupan nyata atau tetap berada di novel tersebut selamanya atau bahkan ia akan pindah ke novel lainnya?
“Halo kekasihku sayang!“ ucap seorang pria sembari tersenyum manis dan membawa sebuah buket bunga di tangannya.
Zilya yang merasa suaranya tidak asing pun mengarahkan pandangannya kearah sumber suara itu. Ternyata sumber suara itu ada dibelakangnya. Tiba-tiba jantungnya kembali berdegup kencang.
“Zayn?“ Wajah Zilya benar-benar memerah. Ia menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak dilihat oleh Zayn, namun sebelum melakukan itu Zayn sudah melihatnya lebih dulu.
“Kenapa tidak menjawab sapaku?“ ucap Zayn pura-pura kesal sembari mengerutkan bibirnya. Jika dilihat-lihat, Zayn seperti anak kecil yang tengah merajuk kepada ibunya karena tidak diberikan permen.
Seketika hal tersebut membuat Zilya menahan tawanya.
Karena sudah tidak tahan, Zilya pun melepaskan tawanya. “Pfttt! Ha … Ha … Ha!“
__ADS_1
Merasa ditertawakan, Zayn semakin kesal dan semakin mengerutkan bibirnya seperti .... (isi sendiri ya🤭)
“Kenapa kamu lucu sekali,“ ucap Zilya yang masih dengan tawanya sembari mencubit pipi pria itu.
“Kamu seperti anak kecil yang tengah merajuk kepada ibunya karena tidak diberikan permen, haha!“ Tawa Zilya kembali lepas.
Zayn atau Daffa benar-benar tidak menyangka hal tersebut akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi Zilya. Mendengar tawanya membuat hati Zayn ikut bahagia.
“Apa? Kamu menyamakanku dengan anak kecil!“ jawab Zayn pura-pura tidak terima. Ia pun mendekati gadis yang masih dengan tawanya lalu menggendongnya dan meletakkan tubuh gadis itu di sofa panjang.
Zilya yang berada di gendongan Zayn pun menghentikan tawanya.
“Kali ini, aku akan memberikanmu hukuman karena sudah menertawakanku dan juga menyamakanku dengan anak kecil!“ ucap Zayn.
“A-apa? Tolong lepaskan aku!“ jawab Zilya dengan panik apalagi ketika Zayn masuk ke dalam kamarnya dan keluar dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Pfftt, hahaha!“ Zayn menertawakan balik Zilya. Wajah gadis itu terlihat lucu dimatanya ketika sedang panik. Ya, sepertinya Zayn sedang menjahili kekasihnya..
“Tenang saja, aku tidak akan memberimu hukuman yang berat kok,“ ucap Zayn berniat membuat Zilya sedikit tenang sembari mengecup kening kekasihnya dengan lembut.
“Ti-tidak, tolong lepaskan aku!“ seru Zilya apalagi ketika pria itu mulai memegang kedua tangannya membuat ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Zayn memegang kedua tangan Zilya dan meletakkannya di atas kepala Zilya. Lalu mengambil sesuatu yang ia dapatkan tadi di kamar Zilya.
Zilya benar-benar merasa panik. Bahkan keringat mulai bercucuran di wajahnya. Dengan lembut, Zayn mengelapnya.
“Jangan salahkan aku karena telah memberikanmu hukuman. Karena kamu tadi sudah menertawakanku, maka sekarang giliranku untuk membalasmu sayang!“ ucap Zayn sembari tersenyum namun terlihat menyeramkan dimata Zilya yang sedang panik.
.
.
.
.
__ADS_1