
“Ada apa dengan tanganmu?“ tanya Zayn dengan wajah khawatir.
“I-ini hanya luka biasa,“ jawab Zilya dengan gugup.
“Katakan dengan jujur! Apa pria itu melukai tubuhmu?“ Melihat luka di tangan Zilya, membuat Zayn ragu apakah tubuh Zilya terdapat luka atau tidak.
“Tidak, pria itu tidak melukaiku!“ jawab Zilya.
“Benarkah? Lalu, luka tangan ini dari mana?“ tanya Zayn sembari memegang tangan Zilya yang terluka itu dan juga melihat luka itu dengan teliti.
Namun, belum lagi Zilya menjawab, pandangannya sudah mulai berkunang-kunang.
“Zilya! Zilya!“ panggil Zayn.
“A-aku,“ Belum lagi Zilya melanjutkan ucapannya, tubuh Zilya sudah lebih dulu oleng. Beruntung Zayn langsung menangkap tubuh Zilya, jika tidak pasti sekarang tubuh Zilya sudah menempel dengan lantai.
Zayn segera menggendong tubuh Zilya ke dalam mobil. Perasaannya bercampur aduk.
Mobil Zayn perlahan meninggalkan tempat tersebut. Walau Polisi sempat menahan Zilya karena Zilya sebagai saksi atau korban, jadi ingin diminta keterangan lebih lanjut.
Skip.
Sesampainya di rumah sakit.
“Dokter! Dokter! Susterr!“ teriak Zayn walau ia dianggap gila oleh orang lain, namun hal tersebut diabaikan karena ia lebih memfokuskan pada Zilya.
“Letakkan pasien di brankar, Tuan!“ Tubuh Zilya pun diletakkan di atas brankar.
Suster mendorongnya ke dalam sebuah ruangan.
“Maaf, Tuan! Anda tidak bisa masuk,“ ucap Suster tersebut.
Dengan pasrah, Zayn menunggu diluar. Wajahnya terlihat memerah pertanda ia jelas kelelahan untuk hari ini. Saking khawatirnya, Zayn mondar-mandir tepat di depan ruangan Zilya.
Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar. Zayn segera menghampiri Dokter tersebut dan bertanya, “Dokter! Bagaimana keadaan kekasih saya?“
“Kekasih Tuan baik-baik saja. Beruntung luka yang ada di tangannya tidak begitu parah. Namun, kekasih Tuan mengalami dehidrasi ringan karena kekurangan cairan,“
“Jadi, untuk sementara selama beberapa jam, kekasih Tuan diinfus terlebih dahulu. Kami juga menyarankan agar mengingatkan Nona untuk meminum air putih yang cukup,“ jelas Dokter.
“Baiklah, Dok! Terima kasih!“ Dokter tersebut menganggukkan kepalanya.
“Saya permisi dulu! Jika ada yang ingin ditanyakan, bisa langsung ke ruangan saya, tepatnya ruangan nomor 108.“
__ADS_1
“Baik, Dok! Apakah saya sudah bisa menjenguk kekasih saya?“
“Sudah ya. Jangan lupa untuk mengingatkannya untuk beristirahat yang cukup,“ pesan Dokter lalu pergi dari hadapan Zayn.
Dengan tidak sabar, Zayn pun masuk ke dalam ruangan Zilya. Ia melihat Zilya sudah sadar sembari memegang kepalanya.
“Sayang! Apakah kamu merasa pusing?“ tanya Zayn dengan perasaan khawatir.
“Iya,“ lirih Zilya.
“Aku panggilkan Dokter dulu ya,“ ucap Zayn lalu berniat meninggalkan ruangan itu.
“Jangan tinggalkan aku,“ ucap Zilya dengan suara pelan, namun Zayn dapat mendengarnya.
“Baiklah baiklah. Aku akan menemanimu disini,“ sahut Zayn.
Tangan Zilya yang terluka terlihat sudah diperban. Hanya saja, sepertinya selama di Rumah Sakit, Zilya akan sulit untuk bergerak. Sebab satu tangannya lagi diinfus.
“Bisakah ambilkan aku minum? Aku sangat haus,“ keluh Zilya.
“Disini tidak ada air minum. Aku akan meminta asistenku untuk membelikannya,“ Zilya hanya memanggut-manggut.
Zayn pun menelpon asistennya, Bram. Tidak lama kemudian, asistennya pun datang dengan membawa kantong plastik yang berisi beberapa botol air mineral.
“Ini pesanannya, Tuan,“ seru Bram.
“Apakah ada yang diperlukan lagi, Tuan? Mungkin makanan jika lapar, atau hal-hal lainnya?“ tanya Bram. Jika di novel-novel lain asistennya akan diperintahkan seenaknya, maka disini Bram menjadi sosok asisten yang idaman bagi semua orang. Dimana ia sudah menawarkan bantuan terlebih dahulu sebelum diperintahkan.
“Sayang, apakah kamu lapar?“ Zayn langsung bertanya kepada Zilya.
“Ti-“ Tiba-tiba saja, suara yang tidak diundang malah muncul. Iya, itu adalah suara keroncongan yang berasal dari perut Zilya. Baru saja berniat berbohong, eh malah suara perutnya memberitahu kebenarannya. Zilya hanya bisa merutuki diri dalam hati.
“Tidak perlu malu. Bilang saja, kamu ingin makan apa?“ tanya Zayn dengan lembut.
“Terserah deh,“ jawab Zilya saking malunya. Ia bahkan menutupi wajahnya dengan selimut. Hal tersebut membuat Zayn merasa gemas dengan Zilya.
“Baiklah. Bram, nasi ayamnya 2 ya,“ ujar Zayn kepada Bram.
“Baik, tuan.“ sahut Bram sembari membungkukkan badannya dengan hormat, lalu pergi dari ruangan Zilya.
Tinggalah Zayn dan Zilya berdua dalam ruangan tersebut. Suasana sempat hening.
“Apakah tanganmu terasa sakit?“ tanya Zayn memecah keheningan.
__ADS_1
“Sedikit,“ jawab Zilya dengan jujur.
“Jelaskan padaku! Apa pria itu yang melukai tanganmu?“ tanya Zayn dengan sorot mata yang tajam. Ia benar-benar merasa marah dengan pria yang sudah berani melukai calon istrinya.
“I-ini …“ Zilya pun menceritakan kejadian tadi tanpa dibumbu-bumbui dengan bumbu nasi goreng, bumbu merica, dan apapun bumbu-bumbu itulah pokoknya.
“Aku rasa dia memang memiliki penyakit kejiwaan,“ sahut Zayn.
Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan sudah diantar oleh Bram.
“Ini makanannya, tuan.“ Sembari memberikan kantong plastik berisi makanan yang dipesan atasannya. Lalu pamit untuk keluar dari ruangan tersebut.
Zayn melihat Zilya yang sedikit merasa kesusahan makan dengan tangan yang terluka. Zilya mencoba dengan tangan yang diinfus, namun malah tidak berhasil juga.
“Aku suapin saja ya?“ tanya Zayn menawarkan diri.
Karena tidak ada pilihan lain, Zilya pun menerima tawaran dari Zayn. Selain tidak bisa, ia juga tidak mungkin hanya menonton makanannya dengan berharap bisa masuk kedalam perutnya.
Zayn pun menyuapi Zilya.
“Aaa,“ Zilya membuka mulutnya. Biarlah seperti urat malunya telah putus. Yang penting perutnya terisi dulu. Toh, yang suapin dia bukan orang lain melainkan kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Membayangkan hal tersebut, Zilya malah senyam-senyum sendiri. Hal tersebut menjadi pertanyaan bagi Zayn.
“Ada apa?“ tanya Zayn dengan penasaran setelah makanan mereka sudah habis.
“Apanya?“ Zilya bertanya balik karena ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Zayn.
“Tadi, pas aku suapi, kok senyam-senyum sendiri?“ tanya Zayn menjelaskan apa yang ia maksud.
Hal tersebut membuat pipi Zilya memerah. Masa iya, dia mengatakan hal tersebut kepada Zayn? Ia memalingkan wajahnya kearah lain.
“Katakan kepadaku, sayang! Apa jangan-jangan kamu memikirkan pria itu!?“ Zayn menangkupkan kedua pipi Zilya sembari menatap mata kekasihnya itu.
“Bukan itu, sayang! Tapi …“ Zilya pun memutuskan untuk menjelaskan semuanya kepada Zayn. Daripada Zayn memikirkan hal yang tidak-tidak, lebih baik ia jelaskan saja.
“Apa kamu tidak sabar untuk menjadi istriku?“ goda Zayn membuat pipi Zilya semakin memerah.
Mungkin sekarang, menggoda calon istrinya adalah hal yang menyenangkan bagi Zayn. Selanjutnya entah apa lagi yang menjadi hal menyenangkan bagi Zayn. Mungkinkah sentuhannya atau mmmm?
***
Haii...
__ADS_1
mohon dukungannya ya.
Terimakasih 🙏🏻😊