
“Sebenarnya, apa pesan misterius itu?“ tanya Daffa dengan penuh hati-hati.
“Pesan misterius?“ Zilya merasa bingung dengan apa yang ditanyakan pria itu.
“Iya, aku melihatmu membaca sebuah pesan. Lalu tiba-tiba kamu berubah menjadi dingin,“ jelas Daffa dengan hati yang penuh penasaran.
“Tapi jika kamu tidak ingin bercerita juga tidak masalah. Aku mengerti privasi kamu,“ Daffa tiba-tiba saja berubah pikiran. Ia memutuskan untuk tidak bertanya hal tersebut dulu kepada Zilya. Apalagi Zilya yang baru saja merasa lega, pikirannya tiba-tiba saja terpikir bagaimana jika Zilya kembali dingin lagi.
Suasana hening. Keduanya sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. Prianya sedang memikirkan apa yang dikatakan benar atau salah. Sementara gadis itu memikirkan apakah ia harus bercerita pada Daffa atau tidak..
“Pesan misterius itu berisi …“ Zilya menyerahkan ponselnya kepada Daffa. Daffa mulai membaca chat yang cukup panjang itu.
’Dasar anak tak tahu untung! Setelah merawatmu selama belasan tahun, ternyata ini caramu membalas kami?’ (628xxxxxxx)
’Jika kau bukan anak dari wanita kaya raya, mungkin aku sudah membuangmu sejak dulu!’ (628xxxxxxx)
’Aku anak wanita kaya raya? Apa maksudmu?’ (Zilya)
’Kau anak dari seorang dosen bernama Saskia. Dia adalah sepupuku yang kaya raya. Namun, karena dia hamil di luar nikah, dan kandungannya terancam dibunuh oleh kedua orangtua Saskia. Saskia pun diusir oleh kedua orangtuanya. Lalu, Saskia pun mencariku saat aku sedang terpuruk karena tidak bisa hamil.’ (628xxxxxxx)
’Dia berjanji memberikan anaknya kepadaku asalkan aku memberikannya tempat tinggal. Saat itu aku berpikir yang penting aku memiliki anak.’ (628xxxxxxx)
’Namun, setelah kau lahir ke dunia ini. Aku baru mengetahui bahwa sesungguhnya kau anak dari seorang pria yang kebetulan juga seorang dosen yang sangat kubenci! Dia bernama Andika. Aku benar-benar membencinya karena dia ketahuan meniduri seorang wanita saat kami sedang menjalin sebuah hubungan’ (628xxxxxxx)
’Saat itu aku tidak tahu siapa wanita yang ditidurinya yang aku kira wanita malam. Tak disangka, ternyata wanita itu adalah Saskia. Hatiku benar-benar marah’ (628xxxxxxx)
’Wajahmu sedikit mirip dengannya membuatku membencimu anak haram! Lalu, setelah aku akhirnya bisa hamil dan melahirkan Naomi. Aku memutuskan untuk memberi kasih sayang kepada Naomi dan mengabaikan dirimu’ (628xxxxxxx)
’Aku harap kau tidak lagi muncul di depanku lagi, anak haram. Aku tidak sudi melihatmu! Ini aku chat denganmu karena terpaksa agar seluruhnya terbongkar. Yaa … Agar membuatmu terpuruk juga sih’ (628xxxxxxx)
’Selain itu, tujuanku juga agar kau tidak bisa melanjutkan karirmu sebagai seorang penulis! Yaa … Aku berharap kau cepat depresi dan akhirnya menjadi ODGJ. Secepatnya ya …😃😃’ (628xxxxxxx)
’Aku tidak sabar menunggu kabar kematianmu, Sayang. Selamat menantikan nerakamu, ANAK HARAM! HAHAHAHAHAHA!’ (628xxxxxxx)
__ADS_1
Daffa membacanya hingga habis. Ia tidak menyangka, ibu angkat Zilya tega memberikan sumpahan agar Zilya cepat mati..
“Aku tidak menyangka, ternyata inilah chatnya. Pantesan saja mengapa kau tiba-tiba menjadi dingin. Aku akan membantumu agar wanita itu di penjara!“ janji Daffa lalu kembali memeluk Zilya. Zilya juga tidak menolak pelukan Daffa, karena saat ini ia membutuhkan dukungan dari orang-orang..
“Terima kasih Daffa! Aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membalas kebaikanmu,“ lirih Zilya.
“Cukup tetap berada di sisiku,“ jawab Daffa.
“Di sisimu? Maksudmu Daffa?“ Zilya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Daffa sebelumnya.
“I-itu anu …“ Daffa merasa gugup untuk menjelaskan semuanya. Tidak mungkin kan, ia mengatakan perasaannya kepada Zilya...
***
Sementara itu di sisi lain..
Di sebuah Club.
“Mama benar-benar hebat! Mampu membuat 2 orang hancur seketika!“ puji Naomi lalu juga ikut menuangkan anggur ke gelasnya.
“Mama memang hebat. Maka dari itu, mama ingin kau juga bisa menjadi seperti mama juga …“ ucap Veni dengan PDnya.
Tiba-tiba terdengar sebuah tembakan. Veni, Naomi, Nancy benar-benar takut. Mereka saling memeluk satu sama lain.
“Dari mana asal tembakan itu, Ma?“ Naomi benar-benar takut..
“Iya, Bi. Aku sungguh takut …“
“Mama juga takut, Sayang,“ jawab Veni sambil memeluk keduanya.
“Semuanya jongkok! Letakkan tangan diatas kepala! Jangan coba-coba kabur atau peluru ini akan menembus tubuh kalian!“ seru seorang Polisi bersama rekan-rekannya.
Pihak kepolisian baru saja mendapatkan kabar bahwa di Club ini sering terjadi transaksi jual beli obat-obatan terlarang.
__ADS_1
“Tidak, itu Polisi! Kita harus kabur!“ seru Veni dengan panik. Ia tidak menyangka Polisi akan datang ke Club tersebut hari itu juga.
“Tapi, bi. Kita tidak bisa kabur, polisi sudah berkerumun ditempat ini!“
“Benar itu, Ma! Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita menyerahkan diri kepada mereka!“ Naomi benar-benar merasa takut. Ia takut apabila ia di penjara lagi. Siapa yang akan membebaskan mereka.
Mereka bertiga tidak memiliki pilihan lain lagi selain menyerahkan diri kepada Polisi. Mereka berjongkok dan meletakkan tangan diatas kepala mereka. Polisi beserta rekan-rekannya pun memborgol satu per satu orang-orang yang berada disana. Tidak ada yang bisa kabur, karena Club ini sudah dipenuhi oleh Polisi.
Termasuk Veni, Naomi, dan Nancy. Tangan mereka diborgol kebelakang dan kakinya juga diborgol. Besi yang melilit tangan dan kakinya itu pun disatukan. Membuat para pelaku sulit untuk bergerak.
“Cepat jalan!“ suruh Polisi sambil mencengkram bahu mereka agar tidak kabur.
“Lambat sekali jalanmu seperti kura-kura!“ maki seorang Polisi lalu mendorong hingga terjatuh seorang gadis yang ternyata adalah Naomi.
“Ampun, Pak! Tolong lepaskan saya! Aww!“ rintih Naomi saat punggungnya menyentuh aspal.
“Saya tidak akan membebaskan kamu sebelum kamu diperiksa apakah positif atau negatif mengonsumsi obat terlarang!“ ucap Polisi itu lalu meninggalkan Naomi. Membiarkan Naomi dibantu oleh Polisi lain. Polisi itu sudah cukup kesal dengan Naomi. Sudah jalannya lama, banyak oceh lagi.
Mereka semua dibawa ke Kantor Polisi untuk dimintai keterangan dan juga menjalani pemeriksaan apakah mereka positif atau negatif obat terlarang.
Mereka juga akan ditahan sementara sebelum hasil pemeriksaan keluar.
“Mama … Aku tidak mau di penjara disini! Disini sungguh membuatku jijik!“ rengek Naomi pada Veni.
“Anak sialan diamlah! Kau tidak tahu, kita semua disini ditahan gara-gara kamu! Coba saja tadi kamu tidak mengajak kita ke Club, mungkin sekarang Mama masih bisa tidur di kasur empuk mama!“ umpat Veni dengan kesal. Anak gadisnya itu tiada henti merengek bak anak kecil. Membuatnya kesal apalagi para tahanan lain menatap mereka dengan kesal.
***
Di sisi lain..
“Itu apa, Daffa? Bicaralah dengan benar!“ ucap Zilya.
“Itu anu …“ Daffa benar-benar merasa gugup. Saking gugupnya kakinya bergetar hingga tak mampu menompang tubuhnya.
__ADS_1