
“Paman pasti tidak percaya, kan? Aku juga tidak percaya. Namun, setelah bertemu beberapa kali, akhirnya Nancy yakin, kalau Zilya menjual dirinya kepada pria-pria yang kaya raya, Paman,“
Gavin geram. Wajahnya menahan amarah sekaligus geram kepada putri tirinya itu.
Gavin segera mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
“Cari keberadaan Zilya sekarang juga! Temukan walau harus seujung dunia sekalipun!“ perintah Gavin lalu mematikan panggilan tersebut sebelum orangnya mengeluarkan suara.
“Oh ya, Paman. Saya pernah melihat Zilya masuk di sebuah Kontrakan, yang saya yakini itu adalah tempat tinggalnya, Paman,“
Nancy mengambil kertas kecil dan menuliskan alamatnya.
“Terima kasih sudah membantu Paman, Nak,“ Gavin menerima kertas tersebut sambil membacanya.
“Sama-sama, Paman. Saya senang bisa membantu Paman,“ Gavin tersenyum mendengar jawaban dari sahabat putrinya. Ia senang, putrinya dikelilingi oleh orang baik.
“Papa akan segera mengeluarkan kalian dari sini secepatnya,” Waktu kunjungan telah selesai. Nancy dan Naomi terpaksa kembali ke dalam sel Penjara.
***
Di luar Kantor Polisi.
Veni, istri Gavin sedang menunggu di luar. Sebenarnya ia sangat ingin menemui putri kesayangannya itu, sayangnya karena sebuah panggilan yang penting membuat Veni terpaksa tidak menemui putri kesayangannya.
“Bagus! Aku suka caramu bekerja! Aku akan segera mengirimkan bonusnya untukmu,“ ucap Veni.
“Terima kasih, Bos. Saya akan melaksanakan tugas saya sebaik mungkin dan memainkan peran ini, Bos,“ jawab si penelepon.
__ADS_1
“Oh ya, jangan lupa lakukan rencana yang sudah saya katakan kepadamu sesegera mungkin ya. Aku tidak sabar rasanya membuatnya malu,“ Veni tertawa jahat.
“Ha … Ha, Iya bos! Saya akan segera melaksanakannya. Setelah berhasil melabuinya, saya akan menghubungi Bos secepatnya untuk ke lokasi yang sudah kita tentukan, Bos,“ Penelepon seolah tidak sabaran untuk melaksanakan tugasnya.
“Siap, saya tunggu kabar baiknya dari kamu,“ Panggilan pun diputuskan oleh Veni. Ia tersenyum sinis.
“Tidak akan saya biarkan kamu bahagia! Kamu harus menderita!“ Veni tersenyum sinis, lalu dengan cepat ia merubah ekspresi wajahnya ketika mata tajamnya melihat Gavin keluar dari Kantor Polisi.
“Sayang, apa waktu kunjungannya sudah selesai? Aku bahkan belum sempat mengunjungi putri kesayangan kita,“
“Sudah, istriku sayang. Aku tidak menyangka, secepat ini waktu kunjungannya selesai. Lain kali, jika aku tidak sibuk, aku akan membawamu kemari untuk mengunjungi putri kesayangan kita,“ janji Gavin yang terdengar begitu manis di telinga Veni.
“Oh ya, kapan sidangnya dilaksanakan?“ tanya Veni.
“Dua hari lagi, Sayang. Aku akan mempersiapkan pengacara terbaikku membebaskan Naomi dan sahabatnya. Naomi dan sahabatnya tidak mungkin melakukan hal keji ini, bukan? Pasti ada seseorang yang menuduhnya,“ jawab Gavin.
Gavin mengajak istrinya untuk pulang.
***
Di sisi lain.
“Tawaran-tawaran yang begitu menggiurkan ini membuatku pusing saja! Dari mana mereka mengetahui alamat emailku? Mencurigakan,“ ucap Zilya sambil melihat pesan yang masuk di emailnya.
Perusahaan besar ataupun Perusahaan kecil yang baru dikenal akhir-akhir ini, menawarkannya untuk menjadi karyawan mereka. Bahkan, mereka menawarkan dengan gaji yang besar. Gaji Zilya selama ini menjadi seorang penulis saja kalah dengan gaji yang mereka tawarkan.
Entah darimana Perusahaan-perusahaan itu mendapatkan alamat emailnya. Yang jelas, Zilya harus menyelidiki satu per satu. Ia merasa semua ini tidak beres.
__ADS_1
“Sangat mencurigakan,“
“Baru saja aku lulus. Mereka sudah menambah pekerjaanku,“ Zilya melihat betapa banyaknya berkas-berkas di meja kerjanya. Banyak toko-toko buku yang memintanya untuk Re-stock segala buku yang sudah dibuatnya dengan jumlah yang tidak sedikit.
“Sepertinya aku harus hiatus menulis selama satu bulan dulu. Aku lelah mengerjakannya,“ Zilya bersandar di tempat duduknya. Akhir-akhir ini, masalah muncul di kehidupannya.
🐌
🐌
🐌
🐌
🐌
.
.
.
.
.
Apa yang kalian dapatkan dari cerita Zilya?
__ADS_1