
Sedangkan disisi lain. Terlihat dua mahasiswa duduk di kasur yang tipis. Mereka tidak bisa tidur semalaman. Selain karena Penjara tidak mempunyai fasilitas seperti AC, disini juga begitu banyak nyamuk.
Baru saja satu malam mereka menginap di Penjara tersebut. Tidak disangka tangan putih nan mulus itu bisa berubah berbintik-bintik berwarna merah yang hampir ada disekujur tubuh mereka.
“Ahh! Aku ingin cepat-cepat keluar! Aku tidak tahan terus-menerus berada disini!“ pekik Naomi. Naomi terlihat seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup. Memiliki kantung mata berwarna hitam akibat tidak tidur semalaman, bintik-bintik merah hampir di sekujur tubuhnya, dan juga wajahnya yang biasanya putih bersih, kini menjadi wajahnya kusam.
“Aku juga tidak tahan, Nao! Kapan Papamu akan datang!?“ Penampilan Nancy juga tidak jauh berbeda dengan penampilan Naomi sekarang ini. Matanya berubah menjadi mata panda, bintik-bintik merah hampir disekujur tubuhnya, dan wajah yang kusam. Hampir persis yang dialami oleh Zilya dulu.
Naomi tidak menjawab. Dirinya sendiri tidak tahu apakah Papanya akan datang.
“Bukan Papa yang akan datang, tapi anak buahnya. Tidak mungkin Papa akan menginjak tempat seperti ini,“ batin Naomi.
Naomi menarik napas panjang. Memikirkan nasibnya saat ini. Apakah dirinya dan Nancy akan terus-menerus di penjara di tempat seperti ini!? Walau baru satu malam berada disana, kedua mahasiswa yang sama-sama berinisial N ini sudah tidak tahan berada di balik jeruji besi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
Mereka berdua sedari tadi hanya mondar-mandir di balik jeruji besi. Para tahanan lain yang melihat itu tentu merasa heran, namun memilih mengabaikan. Lagipula urusan tahanan kedua mahasiswa itu bukan urusan mereka, batin para tahanan tersebut.
“Aduh, laper banget lagi!“ Nancy merasa perutnya lapar. Apalagi disini diberi makanannya sesuai waktu makan, tidak bisa diberikan sebelum waktunya.
Naomi hanya mengabaikan. Manik matanya secara tidak sengaja melihat sosok pria mengenakan jas hitam, kemeja putih didalamnya. Postur tubuhnya seperti tidak asing.
Sosok pria tersebut datang bersama seorang wanita paruh baya. Sepertinya wanita paruh baya itu adalah ibunya. “Tidak mungkin jika wanita paruh baya itu ialah kekasih sosok pria itu. Jas yang dikenakan saja sudah terlihat begitu mewah. Pastinya sosok pria itu bukanlah orang sembarangan,“ batin Naomi.
“Tidak, saya ingin bertemu dengan pelakunya. Berani-beraninya mereka berani mengancam Ibuku,“ tolak sosok pria itu lalu berbicara tanpa basa-basi terlebih dahulu. Sorot matanya begitu tajam.
“Baiklah, akan saya panggilkan,“ ucap Polisi tersebut lalu meminta salah satu Polwan untuk memanggil pelaku yang dimaksud oleh sosok pria tersebut.
__ADS_1
Polwan tersebut pun mengeluarkan pelaku dari Penjara. Kedua pelaku itu pun menghela napas lega. Setidaknya mereka dibebaskan beberapa menit.
Kedua pelaku itu pun diantarkan hingga ke tempat duduk sosok pria tersebut yang bersama Ibunya.
“Ma, apakah mereka pelakunya?“ tanya sosok pria tersebut kepada ibunya. Sembari menunjuk pelaku yang berjalan mendekati mereka.
Ibunya pun melihat pelaku tersebut. Wajah pelaku tersebut hampir tidak dikenali olehnya. “Iya, Nak. Mereka pelakunya,“ jawab Ibunya setelah memastikan bahwa pelaku itulah yang berani mengancam dirinya kala itu.
“Ka-Kamu??“ Dua pelaku itu tidak menyangka saat melihat wajah sosok pria tersebut.
“Kalian?“ Sosok pria tersebut juga tidak menyangka. Bahwa pelakunya ini adalah orang terdekatnya.
***
__ADS_1
Siapakah sosok pria tersebut?