
Beberapa bulan pun berlalu. Kira-kira ada sekitaran 3-4 bulan. Kandungan Zilya juga sudah semakin membesar. Zayn semakin posesif terhadap istrinya, namun Zilya tidak begitu mempermasalahkannya karena ia tahu Zayn hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.
🎉🎉🎉
Di sisi lain.
Mei merasa sedih dan bingung mengapa Bram belum melamarnya. Dia merasa bahwa mereka sudah cukup lama berpacaran dan sudah siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
“Apa selama ini Bram hanya mempermainkan hatiku saja?“ Mei merasa sedih juga merasa tidak dicintai atau mungkin ada yang salah dengan dirinya.
Sementara di sisi lain, Di sisi lain, Bram merasa tertekan dan gugup untuk melamarnya karena dia ingin memberikan yang terbaik untuk Mei dan ingin memastikan semuanya berjalan lancar. Bram juga tidak ingin Mei kecewa dengannya.
Di saat pekerjaan yang sedang menumpuk sedari tadi karena di pikirannya hanya ada Mei, ponselnya pun berdering. Bram yang mengiranya hanya salah sambung pun mengabaikannya hingga ponselnya berdering untuk yang ke-tiga kalinya. Merasa ada sesuatu yang penting, Bram segera mengangkatnya.
“Halo?“ sapa Bram saat mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama yang tertera.
“Bram! Sepertinya kamu terlihat tidak baik-baik saja! Ada apa denganmu?“ tanya Zayn si penelepon tersebut dengan penasaran.
“Selain karena tugas yang engkau berikan begtu banyak, aku juga sedang memikirkan Mei. Sudah hampir 4 bulan aku menundanya. Aku hanya takut aku tidak siap dalam emosional di pernikahan nanti. Dan yaa … Aku juga takut dia kecewa denganku selama ini,“ jelas Bram mencurahkan semua isi hatinya kepada Zayn yang mendadak berpindah berprofesi menjadi pendengar setia Bram.
“Maafkan aku karena telah memberikan tugas kepadamu yang cukup banyak. Semenjak cabang perusahaan baru telah dibuka, membuatku harus berpindah-pindah kota setiap minggunya untuk mengawasinya. Kamu tahu 'kan kalau cabang perusahaan itu belum ada yang bisa mengambil alih nya selain aku karena belum ada salah satu karyawan kita yang dapat dipercayai untuk mengawasinya,“ balas Zayn dengan hati yang merasa bersalah.
“Yaa … Meskipun aku begitu kesal kepadamu, aku juga prihatin kepadamu sih. Maafkan aku juga karena telah mengeluh tugas ini, padahal tugasmu sebagai CEO juga lebih banyak daripadaku,“
__ADS_1
“Tidak apa. Mengenai Mei, apakah kamu sudah ada rencana untuk menikahinya?“ tanya Zayn yang mengalihkan topik pembicaraan agar sang sahabat sekaligus sang asistennya sedari dulu itu tidak terus-menerus merasa bersalah kepadanya.
“Sudah. Tetapi aku masih ragu sejauh ini. Aku hanya takut dia kecewa denganku setelah menikah atau pernikahan kami nantinya tidak sesuai dengan yang diharapkannya,“ lirih Bram.
“Jangan pernah berpikir seperti itu sebelum mengetahui kebenarannya, Bram. Mei pasti juga sedang menunggu kepastian darimu selama berbulan-bulan. Jangan takut untuk memulainya, Bram. Cobalah untuk melamarnya nanti, atau kamu ingin aku menemanimu?“ tawar Zayn diakhir perkataannya.
“Sepertinya aku perlu untuk ditemani. Karena aku belum begitu ahli dalam hal seperti ini. Terima kasih telah memberiku solusi, Zayn,“ ucap Bram dengan penuh haru di hatinya.
Pada malam harinya, Bram akhirnya sudah menyiapkan dengan matang mengenai lamarannya. Bahkan Zayn sang atasan sekaligus sang sahabat juga membantunya menyari cincin. Juga Zilya sang istri atasan yang siap membantu memberitahu apa yang disukai Mei dikala dirinya sedang mengandung.
Bram pergi ke Mansion Mei dengan membawa sebuah kotak cincin dan juga sebuah kotak hadiah yang berisi hal-hal yang disukai Mei tentunya. Tidak mungkin Bram membawa hal yang tidak disukai oleh Mei, yang ada bukannya Bram diterima malah diusir duluan.
Tidak sendirian, Bram juga membawa Zayn bersama istrinya untuk pergi.
Sesampainya mereka disana, mereka langsung disambut oleh Papa Mei dan juga Mei disana.
Setelah memberikan penjelasan dan permintaan maaf, Mei terlihat ragu-ragu. Bram bisa merasakan ketidakpastiannya itu. Dia berdiri di depan Mei, menggenggam tangan gadis yang dicintainya itu dengan erat.
"Mei, apakah kamu bisa memaafkanku?" tanya Bram.
Mei menatap Bram dengan tatapan lembut. Dia kemudian tersenyum dan menjawab, "Tentu saja. Aku memaafkanmu, Bram."
Bram merasa lega mendengar jawaban dari Mei. Dia kemudian membuka kotak cincin yang dia bawa dan mengeluarkan cincin dari dalamnya.
__ADS_1
"Mei, maukah kamu menikah denganku?" tanya Bram sambil menunjukkan cincin di tangannya.
Mei terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Bram akan melamarnya di malam itu juga. Namun, di balik kejutan itu, dia merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Ya, aku mau," jawab Mei dengan senyum yang memancarkan kebahagiaan.
Bram kemudian memasangkan cincin di jari manis Mei. Dia kemudian memeluk Mei dengan erat. Mereka berdua saling berpelukan dan merasakan kebahagiaan yang tak terkatakan.
"Selamat, kalian berdua!" ucap Zayn dan Zilya bersamaan.
Mereka berempat kemudian duduk bersama dan bercengkerama. Mereka membicarakan tentang rencana pernikahan Bram dan Mei. Zayn dan Zilya memberikan banyak saran yang berguna untuk Bram dan Mei. Mereka juga menawarkan bantuan mereka dalam persiapan pernikahan.
Bram dan Mei merasa sangat bersyukur memiliki teman seperti Zayn dan Zilya. Mereka bahkan berencana untuk meminta Papa Mei menjadi saksi pernikahan mereka.
Sementara itu, Papa Mei tersenyum melihat kebahagiaan Bram dan Mei. Dia merasa senang melihat anaknya menemukan cinta sejatinya. Dia kemudian mengambil sebuah foto keluarga untuk mengabadikan momen bahagia itu.
Setelah malam itu, Bram dan Mei mulai mempersiapkan pernikahan mereka. Mereka mengikuti saran dari Zayn dan Zilya, dan membuat rencana yang matang. Mereka juga meminta bantuan dari keluarga dan teman-teman mereka.
***
Halo para readers "Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama“ , bagaimana kabarnya? Maaf sekali ya, Author hiatusnya sudah lebih dari 2 bulan.
Sebenarnya selama hiatus, ada beberapa hal yang sangat disayangkan terutama novel ini. Author jadi sedikit melupakan alur ceritanya, beruntunglah author masih ada kerangka cerita sebelumnya dan juga Author sudah membaca bab-bab sebelumnya sehingga author tahu dan mulai mencari inspirasi ide-ide yang bagus untuk melanjutkan cerita Zilya dan Zayn yang terkasih ini.
__ADS_1
Mungkin, di beberapa bab akhir akan lebih fokus ke cerita Bram dan Mei ya. Maaf karena Author tidak membuat novel baru untuk Bram dan Mei, agar kalau disini bisa sama-sama diceritakan. Bisa ceritakan Zilya dan Zayn juga bisa ceritakan kisah Mei dan Bram disini...
Oh ya, Kira-kira setelah bab pernikahan Bram dan Mei nanti. Apakah novel ini lebih bagus langsung tamat saja? Atau kita kisahkan bagaimana perjuangan Zilya selama hamil? Ataukah kita menunggu bagaimana perjuangan Mei untuk hamil juga seperti Zilya?