Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZILYA DAISHA | 24 : DAFFA


__ADS_3

“Maaf, Tuan, Nyonya. Ini demi keselamatan kita semua,“ Sopir Taksi tersebut merasa tidak enak hari kepada penumpangnya.


“Tidak masalah, Pak. Silakan,“ Penumpang Taksi itu pun keluar dari taksinya.


Mobil taksi itu pun pergi dengan membawa kedua mahasiswa yang memaksa Sopir agar mengantarkan mereka kesuatu tempat bahkan hingga tega mengancamnya.


Mobil taksi yang ditumpangi oleh dua mahasiswa itu akhirnya perlahan pergi. Tampak ada rasa tidak rela di mata seorang wanita ini yang dipaksa untuk keluar atau ditembak.


Tentu saja wanita tersebut tidak rela. Meskipun kekayaan yang dimiliki olehnya sangat banyak, namun tetap saja, baginya mengeluarkan duit untuk hal-hal yang tidak berguna sungguh percuma.


Apalagi tadinya ia ingin pergi ke tempat dimana tempat tersebut, dialah sebagai pemilik sekaligus atasan dari para karyawan-karyawan yang bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup mereka dan juga keluarga mereka. Dimana tempat tersebut berada di Kota lain. Ia berniat pergi ke tempat tersebut untuk memeriksa sekaligus menyapa para karyawan yang sudah lama tidak ia sapa secara langsung.


Memiliki tempat bekerja sendiri tentu tidak mudah. Apalagi ia harus mengelolanya sendiri. Sungguh sangat sulit menjalaninya. Beruntung, para karyawan-karyawan yang berkerja dengannya, tidak membuatnya repot dalam segala macam.


Wanita tersebut memiliki 2 tempat kerja. Di Kota ini, 1 tempat bekerja, dan satu lagi berada di Kota lain. Wanita ini berasal dari keluarga yang terpandang. Oleh sebab itulah, mengapa uangnya tidak akan habis meskipun telah mengaji sekian ratusan karyawan.


Namun, tetap saja, bagi wanita tersebut, uang adalah uang. Tidak peduli berasal dari keluarga manapun. Uang tetaplah uang, karena dengan adanya uang, kita bisa membiayai kebutuhan hidup keluarga kita dan bahkan kebutuhan orang lain.


“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Apalagi kedua mahasiswa tadi itu memaksa dan mengancam dengan menggunakan senjata api! Aku harus melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian!“ seru wanita tersebut, lalu kembali terdiam. Ia harus menaiki apa untuk ke Kantor Polisi.


“Daffa sibuk gak ya?“ Wanita tersebut tampak ragu untuk menghubungi seseorang yang bernama Daffa.


“Semoga saja dia tidak sibuk,“ ujarnya lagi lalu mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang yang bernama Daffa itu.


“Tut … Tut … Tut!“

__ADS_1


“Halo, Daffa?“ ujar wanita tersebut menyapa seseorang yang ditelepon olehnya.


“Halo? Apakah ini Nyonya?“ Seseorang yang ditelpon justru kembali bertanya.


“Halo, Bram! Daffa ada disana?“ Ternyata yang mengangkat telepon dari wanita tersebut bukanlah seseorang yang bernama Daffa, melainkan Bram.


"Tuan Daffa sedang meeting, Nyonya. Sebentar lagi akan selesai. Apa Nyonya butuh bantuan?“ tanya seseorang yang bernama Bram itu dengan sopan.


“Antara kamu dengan Daffa, siapa yang bisa mengantarkanku ke Kantor Polisi?“ Ternyata tujuan wanita tersebut menelepon Daffa adalah meminta Daffa untuk mengantarkan dirinya ke Kantor Polisi.


Saat Bram akan membuka suara. Seseorang tidak terduga datang dan menyela pembicaraan mereka.


“Ada apa, Bram? Siapa yang meneleponku?“ tanya seseorang tersebut sambil menghampiri Bram.


“Nyonya Sofi, Tuan,“ jawab Bram dengan sopan lalu memberikan ponsel Daffa kepada Daffa. Daffa pun menerimanya.


“Halo, Ma?“ ujar Daffa ketika Bram sudah meninggalkan ruangan.


“Lagi sibuk ya, Daf?“ tanya wanita tersebut yang sepertinya ialah sang ibu dari Daffa.


“Iya, Ma. Lumayanlah,“ jawab Daffa singkat.


“Hem, kalau Mama minta bantuan sama kamu, kira-kira kamu bisa menyanggupinya?“ tanya sang ibu kepada anaknya dengan hati-hati.


“Kalau tidak berat, Daffa usahakan, Ma. Emangnya Mama mau minta bantuan apa sama Daffa? Gak yang aneh-aneh kan?“ Daffa mulai was-was.

__ADS_1


“Tidak kok, Daf. Mama cuma minta kamu buat antarin Mama ke Kantor Polisi,“ jelas sang ibu.


“Hah!? Apa!? Mama mau ke Kantor Polisi!?“ Daffa terkejut. Saking terkejutnya, pria tersebut tidak sengaja menjatuhkan ponsel mahalnya itu. Sangat malang nasib ponsel mahalnya itu.


Daffa mengambil kembali ponsel mahalnya yang terjatuh. Kaca anti goresnya pecah. Terlibat goresan-goresan yang ditimbulkan akibat terjatuh tadi. Tidak disangka, jatuhnya hanya sederhana, akibatnya sungguh fatal.


“Halo, Daf? Kamu baik-baik saja, Sayang?“ Terdengar suara dari sang ibu dengan nada khawatir.


“Daffa baik-baik saja kok, Ma,“ jawab Daffa dengan santai.


“Tadi Mama mendengar ada suara benda yang terjatuh. Apa itu vas bunga? Mama mendengar suaranya begitu keras saat terjatuh,“ ujar Mama Daffa dengan khawatir.


“Iya, Ma. Vas bunga yang jatuh. Nanti Daffa akan minta petugas kebersihan untuk membersihkan pecahan-pecahan vas bunganya,“ jelas Daffa.


“Baik kalah begitu. Soal permintaan Mama tadi, apa kamu bisa? Jika tidak bisa, tidak masalah,“ ucap Mama Daffa lagi kembali membahas permintaannya tadi kepada Daffa.


Mendengar itu, Daffa terdiam. Memang sih, setelah ini dia tidak lagi memiliki jadwal meeting. Dan dipikir-pikir juga, ia jarang bersama ibunya. Apakah ini kesempatan dirinya untuk bersama sang ibu walau hanya mengantarkan beliau saja?


"Baiklah, Ma. Daffa bisa,“ Akhirnya pria itu membuka suaranya setelah terdiam cukup lama.


“Kirimkan lokasi Mama sekarang ke Daffa. Daffa akan segera kesana,“ pinta Daffa.


Mama Daffa pun langsung mengirimkan lokasi beliau kepada Daffa.


Daffa segera ke lokasi yang dikirimkan oleh sang ibu.

__ADS_1


“Oh ya, tadi Mama minta diantarkan ke mana ya?“ Daffa bingung. Ia lupa, Mamanya meminta dirinya untuk mengantarkan beliau kemana? Tidak mungkin bukan jika dirinya harus bertanya lagi kepada beliau.


“Oh iya, ke Kantor Polisi. Omong-omong, Mama ngapain ke Kantor Polisi ya? Aku harus mencari tahu, apa tujuan Mama pergi kesana,“ tekad Daffa.


__ADS_2