Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 87 : ZILYA SAKIT


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu.


Di Paris.


Zilya dan Zayn merencanakan pulang kembali ke Kota Jakarta, bahkan sudah menyiapkan seluruhnya termasuk berkas-berkas dan pesawat pribadi mereka.


“Kenapa aku merasa ingin muntah terus ya? Hoek!“ heran Zilya sembari memuntahkan isi perutnya. Namun, yang keluar malah hanyalah cairan bening.


“Apa aku ada salah makan ya??“ Zilya pun membasuh wajahnya dengan air. Menatap dirinya didepan cermin. Wajahnya terlihat pucat.


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Zilya pun tahu siapa pemilik tangan tersebut.


“Ada apa, sayang? Apa kamu sakit?“ tanya Zayn dengan khawatir ketika melihat wajah istrinya yang terlihat pucat.


“Sepertinya aku masuk angin. Tadi aku juga ada muntah cuma keluarnya cairan bening. Hoekk!“ Saat berbicara dengan Zayn, tiba-tiba Zilya ingin memuntahkan isi perutnya lagi.


“Hari ini kita batalkan saja perjalanan pulangnya ya, Zil. Kamu terlihat pucat banget!“ seru Zayn sembari memijat tengkuk Zilya. Ia merasa tidak tega dengan istrinya.


“Tapi sayang? Kita sudah merencanakan hal ini sudah lama. Tidak mungkin kita membatalkannya karena aku pucat begini? Aku tidak apa kok,“ jawab Zilya kembali membasuh wajahnya dengan air. Tubuhnya terasa lemas, bahkan saat berdiri ia dipapah oleh Zayn.

__ADS_1


“Zil? Zilya!“ Beruntung Zayn segera menangkap tubuh Zilya yang tiba-tiba pingsan itu.


“Kenapa kamu hobinya pingsan mulu ya?“ gumam Zayn lalu mengambil ponsel dan menghubungi salah satu Dokter yang bekerja di Rumah sakit miliknya di Paris.


Tidak lama kemudian, Dokter tersebut datang.


“Tekanan darah Nona Zilya menurun karena Nona Zilya memiliki riwayat anemia sebelumnya.“


“Kami menyarankan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan meminum kapsul penambah darah,“


“Baiklah, Dok. Kami berencana untuk melakukan perjalanan ke Indonesia sekarang. Apakah tidak apa-apa bagi kandungan dan istriku, Dok?“


“Sebaiknya menunggu keadaan kandungan dan Nona Zilya stabil. Namun jika tidak bisa menunggu, kami sebagai Dokter hanya dapat menyarankan hal-hal seperti meminum air dalam jumlah yang cukup untuk menghindari terjadinya dehidrasi dan pilihlah tempat duduk yang nyaman bagi ibu hamil,“


Zilya dan Zayn pun kembali ke Kota Jakarta setelah 2 bulan honeymoon. Beruntung perusahaan Zayn dapat dihandle dengan baik oleh asistennya Bram bersama Mei yang menjadi sekretaris akhir-akhir ini untuk membantu perusahaan.


“Selamat datang kembali di Kota Jakarta, sahabatku,“ seru Mei sembari memeluk sahabatnya. Menumpahkan rasa rindu yang tertahan selama ini. Mereka hanya dapat melakukan video call sebentar saja karena Mei harus melanjutkan pekerjaannya, jika di malam hari Mei tentu tidak berani melakukan video call dengan sahabatnya karena takut menganggu aktivitas pengantin baru itu.


“Terima kasih, Mei! Aku merindukanmu juga,“ balas Zilya sembari menggenggam tangan suaminya.

__ADS_1


“Bagaimana liburan kalian di Paris, Zil?“ tanya Bram.


“Liburan kami sangat menyenangkan, tapi Zil agak sering pingsan karena riwayat anemia-nya,“ jawab Zayn.


“Oh, semoga cepat sembuh ya Zil. Kalau butuh bantuan, bilang saja,“ ujar Bram.


“Terima kasih, Bram! Kamu memang baik sekali,“ ucap Zilya.


Zayn memang terlihat cemburu, apalagi Bram yang malah seolah memprovokasinya. Namun meski begitu, Zayn tidak mempermasalahkannya mengingat Bram yang sepertinya sebentar lagi akan memiliki calon pasangan juga yaitu Mei.


“Oh ya, bagaimana kelanjutan hubungan kalian nih? Apa sudah ada bibit-bibit cinta?“ tanya Zayn mengalihkan topik pembicaraan mereka. Selain itu agar Bram juga tidak mengajak istrinya mengobrol bersama juga sih.


Mei yang mendengarnya tentu sudah mengetahui siapa yang di maksud. Ia merasa malu, bahkan pipinya sudah merah merona. Sedangkan Bram, yang ditujukan sebagai pasangannya hanya merasa biasa-biasa saja bahkan hanya menunjukkan sebuah senyuman kecil yang membuat Mei merasa amat kesal.


“Tentu saja. Kami bahkan sudah berpacaran,“ balas Bram dengan cepat.


“Hah? Sejak kapan?“ heran Mei. Pantesan saja tadi pria itu terlihat menerbitkan senyuman kecilnya ternyata pria itu diam-diam mengeluarkan pembicaraan yang entah dari mana.


“Masa kamu lupa sih sayang? Baru saja loh kita berpacaran!?“ jawab Bram sembari menggenggam tangan Mei.

__ADS_1


Zilya dan Zayn pun tertawa melihat kelucuan pasangan baru itu. Ingat ya, baru pasangan belum menjadi pasangan suami-istri.


Setelah itu, mereka berbincang-bincang sejenak sebelum akhirnya Zilya dan Zayn pulang ke rumah mereka. Meskipun sedikit lelah, mereka sangat bersyukur bisa kembali ke Indonesia dengan selamat dan mendapatkan dukungan dari teman-teman mereka.


__ADS_2